NABIRE, TOMEI.ID | Air mata Nurhana Yarinap tak terbendung saat mengenang perjalanan 15 tahun membangun usaha Rasta Nindy Papua. Dari bandara, atas kapal, hingga pinggir jalan di Kota dan Kabupaten Jayapura, semua pernah menjadi tempatnya menjajakan pakaian demi mempertahankan usaha bersama keluarga.
Kini, perjuangan panjang itu memasuki babak baru. Nurhana akhirnya membuka Toko Rasta Nindy Papua di Jalan Pemuda, Nabire, Papua Tengah. Meski masih menyewa tempat, ia bersyukur bisa berjualan di lokasi yang lebih layak setelah bertahun-tahun berpindah-pindah.
Saat ditemui media ini, Selasa (27/10/2026), Nurhana menceritakan perjalanan usahanya yang tidak selalu mudah. Di balik pakaian bermotif Honai dan bertuliskan pesan tentang Papua, tersimpan kisah kerja keras, kecelakaan, kekecewaan, serta harapan untuk mengembangkan usaha di tanah sendiri.
Merintis Usaha dari 2007
Perjalanan usaha Nurhana bersama keluarga mulai dirancang pada 2007. Setahun kemudian, produk pakaian yang mereka kembangkan mulai dipasarkan di Papua. Penjualan pertama dilakukan di Wamena saat berlangsungnya sebuah konferensi.
Awalnya, mereka memproduksi kaus dengan desain khas Papua. Gagasan tersebut berangkat dari keinginan menuangkan kehidupan, pengalaman, dan situasi masyarakat Papua ke dalam karya yang dapat dikenakan sehari-hari.
“Awalnya kami mulai dari kaus-kaus Papua. Kami melihat situasi dan kehidupan masyarakat Papua, kemudian menuangkannya ke dalam desain pakaian. Apa yang kami rasakan dan lihat di sekitar kami, itulah yang coba kami sampaikan melalui baju-baju ini,” tutur Nurhana.
Seiring waktu, usaha tersebut berkembang dengan menghadirkan pakaian bertema Rasta. Ketertarikannya terhadap musik dan budaya Rasta, termasuk karya Bob Marley dan Lucky Dube, turut memengaruhi pengembangan produk.
Namun, Nurhana ingin produknya memiliki karakter tersendiri dengan memadukan gaya Rasta dan identitas Papua.
“Kami tetap membawa identitas Papua. Kami melihat orang Papua juga tertarik dengan Rasta, sehingga kami mulai membuat pakaian Rasta, tetapi tetap dengan ciri khas kami sendiri,” jelasnya.
Produk Rasta Nindy Papua kini menampilkan beragam motif dan tulisan yang berkaitan dengan identitas, kebudayaan, serta kehidupan masyarakat Papua. Motif Honai menjadi salah satu ciri khasnya.
Selain itu, terdapat tulisan seperti “Hargailah HAM”, “Selamatkan Papua”, dan “Papua Israel”, yang mencerminkan beragam pesan yang ingin disampaikan melalui desain pakaian.
Bagi Nurhana, pakaian tersebut bukan sekadar barang dagangan. Ia ingin menjadikan desain sebagai media untuk mengekspresikan identitas, pengalaman, dan kebanggaan terhadap Papua.
“Orang bisa membuat berbagai macam baju Rasta, tetapi bagi kami, pakaian yang membawa desain Honai Rasta memiliki makna tersendiri. Tulisan-tulisan pada baju ini bukan sekadar hiasan. Semuanya punya arti dan makna. Ada isi hati dan pengalaman yang ingin kami sampaikan melalui tulisan-tulisan itu,” katanya.
Bertahun-tahun Bertahan di Pinggir Jalan
Di balik perkembangan produk tersebut, Nurhana harus menghadapi persoalan mendasar: keterbatasan tempat berjualan.
Selama bertahun-tahun di Kota dan Kabupaten Jayapura, ia berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Bandara, kapal, jalan masuk Saga, hingga sejumlah titik di pinggir jalan pernah menjadi tempatnya menjajakan pakaian.
Setiap hari, barang dagangan harus dibawa menggunakan kendaraan, diturunkan untuk dipajang, kemudian dikemas kembali dan dibawa pulang setelah selesai berjualan. Rutinitas itu terus berulang tanpa kepastian kapan ia bisa memiliki tempat usaha yang lebih layak.
“Dari 2008 sampai sekarang, perjalanan usaha kami itu dari jalan ke jalan. Kami pernah berjualan di bandara, di atas kapal, di jalan masuk Saga, sampai di beberapa tempat lainnya. Kami terus berusaha, tetapi sampai sekarang kami belum memiliki tempat usaha sendiri yang layak,” ungkapnya.
Perjuangan itu tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga membutuhkan biaya dan kesabaran. Nurhana bahkan mengaku pernah mengalami kecelakaan ketika menjalani aktivitas berjualan.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, ia tidak menyerah. Bersama keluarga, Nurhana terus mempertahankan usaha yang telah dirintis sekaligus memperkenalkan produk pakaian dengan desain khas Papua kepada masyarakat.
Berharap Pengusaha Asli Papua Mendapat Ruang
Pengalaman bertahun-tahun berjualan di pinggir jalan menumbuhkan harapan sekaligus kegelisahan dalam diri Nurhana.
Sebagai pengusaha asli Papua, ia berharap masyarakat setempat mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mengembangkan usaha, termasuk memperoleh tempat berjualan yang layak.
Ia menilai pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari terbukanya kesempatan bagi masyarakat untuk menjalankan usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Orang selalu berbicara tentang Otonomi Khusus (Otsus) untuk membantu masyarakat Papua. Namun, bagi kami sebagai pelaku usaha, manfaatnya belum benar-benar kami rasakan. Kami masih berjualan di pinggir jalan, berpindah-pindah tempat, padahal kami juga ingin memiliki usaha yang layak,” katanya.
Nurhana berharap pemerintah memberikan perhatian kepada pengusaha asli Papua, terutama dalam membuka akses terhadap tempat usaha yang layak dan terjangkau.
“Kalau pemerintah benar-benar ingin masyarakat Papua merasakan manfaat pembangunan, orang Papua juga harus diberikan kesempatan memiliki usaha yang baik. Kami perlu tempat berjualan yang layak. Jangan sampai pembangunan terus berjalan, tetapi masyarakat Papua sendiri masih kesulitan mendapatkan ruang untuk mengembangkan usaha,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi bagian penting dari perjalanan Nurhana. Di satu sisi, ia berusaha mandiri melalui usaha yang dibangun bersama keluarga. Di sisi lain, ia berharap kebijakan pembangunan juga membuka peluang yang lebih besar bagi pengusaha lokal.
Nabire Menjadi Babak Baru
Sebelum membuka toko di Nabire, Nurhana mengaku sempat mencari ruko di Jayapura. Ia beberapa kali menghubungi pemilik tempat yang menawarkan penyewaan, tetapi tidak selalu berhasil mendapatkan lokasi yang sesuai.
Ketika kesempatan membuka toko di Nabire datang, ia memutuskan mengambilnya tanpa ingin menunda terlalu lama.
“Saya bersyukur bisa mendapatkan tempat ini. Ketika melihat kesempatan tersebut, saya tidak berpikir terlalu lama. Saya langsung membayar uang muka atau DP, meskipun masih ada beberapa hal yang harus dilengkapi,” tuturnya.
Bagi Nurhana, berjualan di ruko memberikan pengalaman berbeda setelah bertahun-tahun menjalani usaha dengan berpindah-pindah lokasi. Kini, ia dapat menata produknya dengan lebih baik tanpa harus setiap hari membawa barang dagangan ke pinggir jalan.
“Kalau berjualan di pinggir jalan, setiap hari kami harus membawa barang, menurunkannya, menjual, lalu mengemas dan membawanya pulang lagi. Kami menjalani itu bertahun-tahun. Karena itu, bisa berjualan di ruko seperti sekarang menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” katanya.
Meski demikian, tempat usaha tersebut masih berstatus sewa. Nurhana berharap suatu saat dapat memiliki ruko sendiri agar usaha yang dibangun bersama keluarga bisa berkembang lebih jauh.
Ia juga ingin terus menjaga ciri khas desain yang selama ini menjadi identitas Rasta Nindy Papua.
“Kalau orang mau membuat baju Rasta dengan desain lain, silakan. Namun, untuk desain Honai Rasta yang kami buat, ada ciri khas dan karya yang kami jaga. Kami memiliki beberapa model yang dikembangkan sendiri,” ujarnya.
Masyarakat yang ingin melihat koleksi pakaian Rasta bermotif Honai dan desain khas Papua lainnya dapat mengunjungi Toko Rasta Nindy Papua di Jalan Pemuda, Nabire, bersebelahan dengan rumah makan ikan bakar.
Lima belas tahun perjalanan dari jalan ke jalan telah mengajarkan Nurhana tentang arti ketekunan dan keberanian mempertahankan usaha. Kini, ia memiliki tempat untuk menata produknya dan melanjutkan perjuangan bersama keluarga.
Namun, harapannya tidak berhenti pada keberhasilan membuka toko. Ia juga ingin melihat lebih banyak pengusaha asli Papua memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usaha secara layak.
“Kalau suatu saat kami bisa memiliki ruko sendiri, tentu kebahagiaannya akan berbeda. Sekarang kami bersyukur karena sudah mendapatkan tempat yang lebih baik untuk berjualan. Ini menjadi salah satu langkah dalam perjalanan usaha kami,” tutup Nurhana.[*].
WAMENA, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas data kesejahteraan…
NABIRE, TOMEI.ID | Bahu jalan dan trotoar di sepanjang Jalan Pepera, Kabupaten Nabire, Papua Tengah,…
NABIRE, TOMEI.ID | Sebanyak 180 mahasiswa mengikuti yudisium angkatan ke-13 Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK)…
NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah resmi melepas kontingen Swayamvara Tripitaka Gatha (STG)…
NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan bahwa setiap rupiah Anggaran Pendapatan dan Belanja…
LANNY JAYA, TOMEI.ID | Pembukaan akses jalan Trans Tiom–Kuyawage menjadi faktor krusial dalam upaya penyaluran…