Boaz Solossa: Teladan Persipura Papua yang Tetap Menyala di Usia Senja Karier

oleh -1159 Dilihat

Oleh: Yeremias Edowai

“Tulisan ini saya persembahkan untuk Kaka Bochi, Boaz Theofillus Salossa, yang pada musim terakhirnya kembali turun gelanggang bersama para juniornya di Liga 2 (Pegadaian Championship), berjuang mengangkat Persipura menuju tempat yang layak: kembali ke Liga 1.”

banner 728x90

Boaz Solossa: Lebih dari Sekadar Pemain

Boaz Theofillus Erwin Solossa, atau yang akrab disapa Kaka Bochi, adalah salah satu pesepak bola terbaik dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal karena loyalitasnya kepada Persipura Jayapura, gol-gol pentingnya bagi Timnas Indonesia, serta karisma kepemimpinan yang kuat di dalam maupun luar lapangan. Sebagai kapten Persipura, Boaz membawa Mutiara Hitam meraih berbagai gelar liga. Di tim nasional, namanya bersinar terutama pada Piala Tiger 2004. Lebih dari seorang atlet, Boaz telah menjadi panutan bagi generasi muda Papua melalui ketekunan, kerendahan hati, dan profesionalisme yang konsisten.

Musim 2025/26 Pegadaian Championship bukan sekadar kompetisi bagi Persipura Jayapura. Musim ini menjadi babak penghormatan bagi salah satu kapten terbaik yang pernah dimiliki Mutiara Hitam yaitu musim terakhir Boaz Theofillus Erwin Solossa sebelum dirinya pensiun sebagai pesepakbola profesional. Meski berada di usia senja karier, Boaz tetap menunjukkan bahwa kualitas seorang pesepak bola sejati tidak pernah benar-benar redup. Ia tampil lebih matang, lebih tenang, dan tetap berpengaruh di lapangan. Ketika banyak pemain seusianya memilih menepi, Boaz masih hadir sebagai pembeda yang nyata.

Persipura sendiri sudah lama dikenal sebagai klub tersukses di Indonesia, pemilik lima bintang kehormatan, dan simbol kejayaan sepak bola Papua. Di dalam sejarah panjang itu, nama Boaz berdiri sebagai kapten abadi yang mewarnai banyak momen penting klub termasuk Juara bahkan dirinya menjadi pencetak gol terbanyak. Sayangnya musim 2021-2022 menjadi musim paling terburuk bagi tim kembanggaan masyarakat berjuluk Mutiara itu harus degradasi turun kasta (Liga 2 / Pegadaian Championship).

Dari Lima Bintang Hingga Jatuh ke Jurang: Luka yang Belum Sembuh

Boaz bersama rekan-rekan juniornya terus berjuang dan berusaha keras dari Liga 2 lebih buruk lagi yaitu Pada musim sebelumnya (Pegadaian Championship 2024/2025), Persipura berada di tepi jurang degradasi menuju PNM Liga Nusantara. Laga penentu (Play of Degradasi) 9 Februari 2025 di Stadion Mandala mempertemukan Persipura dan Persipal Palu, dua tim yang sama-sama berjuang seolah bertarung untuk napas terakhir. Babak pertama berakhir 1–1, dan suasana stadion sunyi seperti menahan ketegangan. Banyak penonton menunduk cemas, sebagian mulai meneteskan air mata.

Namun di menit-menit akhir, harapan itu kembali muncul. Sang kapten tampil sebagai penyelamat. Tembakannya merobek gawang lawan dan mengubah skor menjadi 2–1. Stadion Mandala pecah oleh teriakan, tangis, dan pelukan bahagia. Gol itu menjadi hembusan angin segar yang menghidupkan kembali semangat Mutiara Hitam.

Musim ini menjadi bukti bahwa Boaz tidak pernah benar-benar menua di dalam sepak bola, yang menua hanyalah angka, bukan kualitas. Setelah sekian tahun menjadi simbol kejayaan Persipura, ia kembali tampil sebagai pembeda meski hanya diberi sedikit menit bermain. Bagi pemain lain, sepuluh menit mungkin terlalu singkat untuk meninggalkan pengaruh. Namun bagi Boaz, itu cukup untuk menunjukkan kelas yang tidak bisa dipalsukan. Kehadirannya mengubah ritme permainan, menenangkan rekan-rekan muda, dan menghadirkan aura kompetitif yang selama ini menjadi ruh Persipura. Dengan segala keterbatasan fisik yang secara natural datang di usia senja karier, Boaz tetap memaksa kita bertanya: apakah ada pemain lain yang mampu memberikan kontribusi sebesar itu hanya dalam waktu sesingkat itu?

Namun warisan Boaz melampaui statistik dan momen-momen brilian di lapangan. Kesetiaan yang ia tunjukkan untuk tetap membela Persipura setelah puluhan godaan luar negeri adalah pengingat bahwa olahraga tidak selalu diukur dari besarnya gaji atau hingar-bingar panggung internasional. Ada nilai yang lebih dalam: cinta pada tanah, pada klub, dan pada masyarakat yang selama ini berdiri di belakangnya. Di tengah dunia sepak bola modern yang telah berubah menjadi industri yang sangat transaksional, kisah Boaz justru memulihkan keyakinan bahwa integritas masih memiliki ruang. Ia membuktikan bahwa pemain besar tidak sekadar memburu panggung besar, tetapi juga mampu menjadikan kampung halamannya sebagai pusat gravitasi karier.

Ketika publik Papua mempertimbangkan bagaimana menghormati seorang legenda, penting untuk melihat karier Boaz sebagai cermin bagi masa depan olahraga Papua. Monumen atau patung hanyalah simbol, namun simbol dibutuhkan untuk menanamkan memori kolektif yang kuat. Yang lebih penting adalah memastikan nilai-nilai yang ia bawa kerja keras, rendah hati, determinasi, dan kesetiaan, menyatu dalam sistem pembinaan sepak bola Papua. Jika generasi berikutnya ingin mencapai apa yang Boaz capai, mereka membutuhkan dukungan struktural: akademi yang teratur, pelatih yang kompeten, fasilitas profesional, dan pendampingan yang membentuk karakter. Dengan demikian, penghormatan kepada Boaz tidak berhenti pada masa lalu, tetapi menjadi pijakan untuk menciptakan masa depan yang lebih terang bagi sepak bola Papua.

Lebih dari Atlet: Boaz adalah Identitas Papua

Boaz Solossa adalah satu dari sedikit figur olahraga Papua yang mampu menembus batas apa pun, batas geografis, batas kesempatan, bahkan batas stigma yang selama ini menempel pada anak-anak dari Tanah Papua. Kariernya adalah bukti bahwa talenta akan menemukan jalannya ketika ditopang dengan disiplin yang tak pernah kendor. Di tengah turunnya kualitas kompetisi nasional, Boaz tetap berdiri sebagai jangkar moral: mengingatkan bahwa sepak bola bukan sekadar industri, melainkan ruang pendidikan karakter dan martabat. Ia mengajarkan bahwa pemain hebat bukan hanya ia yang mencetak banyak gol, tetapi ia yang mampu membuat orang lain menjadi lebih baik dengan kehadirannya.

Lebih dari dua dekade, Boaz bukan saja menjadi wajah Persipura, tetapi juga benteng psikologis bagi publik Papua yang selalu menaruh harapan pada klub kebanggaannya. Pada setiap dribel, setiap gol, dan setiap selebrasi, ada rasa memiliki yang menyatu antara pemain dan rakyatnya. Generasi baru, dari Jayapura sampai Nabire, dari Wamena sampai Sorong, tumbuh dengan menyebut nama Boaz seakan ia adalah bagian dari keluarga sendiri. Di banyak kampung, anak-anak belajar menendang bola sambil meniru cara Boaz menggerakkan bahu, mengangkat tangan, atau menatap gawang lawan. Itulah pengaruh seorang ikon: ia tidak hanya bermain, tetapi membentuk imajinasi kolektif.

Menjelang Pensiun: Waktu Berterima Kasih

Kini, ketika usia dan perjalanan karier mulai mendekati garis akhir, Boaz justru menunjukkan ketenangan seorang guru. Ia tidak mengejar pujian, tidak terjebak nostalgia, dan tidak memaksakan diri menjadi pahlawan yang selalu harus mencetak gol. Ia memilih menjadi pemimpin bagi generasi di bawahnya, memberi ruang bagi bakat muda, menyalurkan pengalaman, dan menunjukkan bahwa loyalitas kepada klub dan tanah kelahiran adalah nilai yang lebih tinggi daripada kontrak apa pun. Di ruang ganti, suaranya tetap yang paling didengar. Di lapangan, langkahnya tetap menjadi kompas bagi pemain yang lebih muda.

Jika ini benar menjadi musim terakhirnya, pertanyaan besarnya adalah: dapatkah ia membawa Persipura kembali ke Liga 1? Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi satu hal pasti, kehadiran Boaz bukan sekadar soal gol, melainkan soal mentalitas. Ia mengembalikan kepercayaan diri tim, mempersatukan ruang ganti, dan menyuntikkan keyakinan bahwa Persipura tidak boleh terbiasa berada di kasta kedua. Dan sering kali, dalam sepak bola, mentalitas seperti itu jauh lebih menentukan daripada statistik dan strategi. Apapun hasilnya, perjalanan Boaz telah memastikan satu hal: api sepak bola Papua akan terus menyala, karena ia telah menghidupkannya dengan seluruh hidupnya. [*].

*) Penulis adalah Mahasiswa Keolahragaan Universitas Cenderawasih (Uncen), serta mulai aktif menulis di bidang olahraga dan jurnalist untuk media tomei.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.