Mahasiswa Papua Didorong Bangun “Investasi Pengetahuan” untuk Jawab Kompleksitas Persoalan Bangsa

oleh -1087 Dilihat

JAKARTA, TOMEI.ID | Mahasiswa Papua didorong untuk membangun “investasi pengetahuan” sebagai fondasi utama dalam menghadapi kompleksitas persoalan multidimensional yang terus berkembang di Tanah Papua, secara kritis, adaptif, progresif, solutif, dan berbasis realitas lapangan yang dinamis.

Dorongan tersebut disampaikan Ketua Departemen Pemuda Gereja Baptis West Papua, Akia Wenda, saat bertemu mahasiswa Ikatan Mahasiswa Papua di Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026), dalam sebuah forum diskusi yang menyoroti peran strategis generasi muda dalam menjawab tantangan daerah.

banner 728x90

Menurut Akia, dinamika persoalan Papua yang mencakup sektor ekonomi, sosial, budaya, agama, pendidikan, hingga kesehatan membutuhkan respons yang tidak biasa, melainkan berbasis pengetahuan, analisis, dan kesadaran kritis dari kalangan mahasiswa.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi harus secara aktif memperluas wawasan melalui literasi, diskusi, serta keterlibatan dalam ruang-ruang intelektual yang produktif.

“Kesempatan yang ada harus dimanfaatkan untuk memperbanyak dan memperkaya pengetahuan, terutama melalui membaca dan kegiatan intelektual lainnya, secara konsisten, disiplin, terarah, kritis, mendalam, dan berorientasi pada perubahan nyata,” ujarnya.

Lebih lanjut, Akia menyoroti pentingnya penguasaan bidang hukum dalam konteks Papua saat ini, mengingat berbagai persoalan yang muncul kerap bersinggungan langsung dengan aspek legal dan kebijakan negara, yang berdampak luas terhadap keadilan, perlindungan hak, dan kepastian hukum masyarakat.

Menurutnya, kehadiran generasi muda Papua yang memiliki kompetensi di bidang hukum menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan adanya representasi yang memahami persoalan secara utuh dan mendalam, serta mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat secara adil, profesional, dan berintegritas tinggi.

“Persoalan Papua hari ini banyak diperhadapkan dengan hukum. Harus ada anak-anak Papua yang fokus kuliah hukum dan memahami persoalan secara mendalam, agar mampu membela hak masyarakat, menegakkan keadilan, dan melawan ketimpangan struktural,” tegasnya.

Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk membangun kekuatan kolektif di lingkungan kampus melalui kegiatan yang produktif, terarah, dan berbasis data, sekaligus memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana perjuangan intelektual yang efektif dan bertanggung jawab, guna memperluas pengaruh gagasan serta memperkuat advokasi berbasis fakta dan analisis.

Dalam pesannya, Akia turut menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan, serta memperkuat nilai spiritual, etika, dan karakter sebagai fondasi dalam membangun masa depan generasi Papua yang lebih baik, yang kokoh, berintegritas, berdaya saing, dan mampu menghadapi tantangan zaman yang kompleks.

Di sisi lain, ia juga menyoroti situasi kemanusiaan di Papua yang masih memprihatinkan, di mana berbagai peristiwa kekerasan terhadap masyarakat sipil dinilai tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa, karena berpotensi menggerus rasa keadilan, kemanusiaan, dan kepercayaan publik terhadap negara.

“Situasi hari ini menambah luka. Rentetan orang Papua yang meninggal akibat kekerasan harus menjadi perhatian. Kita tetap berdoa dan berjuang, jangan anggap ini sebagai kondisi yang biasa atau aman, karena menyangkut nilai kemanusiaan, keadilan, dan masa depan bersama,” ujarnya.

Pertemuan tersebut menjadi refleksi sekaligus seruan moral bagi mahasiswa Papua untuk tampil sebagai aktor perubahan yang tidak hanya mengandalkan semangat, tetapi juga menggabungkan kekuatan intelektual, moral, dan solidaritas dalam menjawab tantangan besar yang dihadapi Tanah Papua secara berkelanjutan dan bermartabat. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.