Berita

Aksi Serentak di Papua, Massa di Nabire Desak Bubarkan MRP, Tutup Freeport, Evaluasi Total Otsus

NABIRE, TOMEI.ID | Gelombang protes kembali menggema di Nabire, Papua Tengah, ketika Front Rakyat Bergerak menggelar aksi demonstrasi damai secara serentak di lima titik strategis, Selasa (7/4/2026), dengan membawa tuntutan besar terhadap arah kebijakan dan lembaga di Papua.

Aksi ini tidak sekadar unjuk rasa biasa. Massa secara terbuka mendesak pembubaran Majelis Rakyat Papua (MRP), penutupan PT Freeport Indonesia, serta evaluasi total dan pengembalian kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Di lapangan, berbagai spanduk bernada penolakan terbentang, mulai dari seruan penolakan investasi hingga tuntutan pertanggungjawaban lembaga representasi yang dianggap gagal menjalankan fungsinya.

“MRP tahunya berkoar di media saja, kami tidak pernah lihat kerja nyata. Kamu harus bertanggung jawab atas penderitaan masyarakat Papua,” tegas Yeti Tigi dalam orasinya.

Ia menilai MRP lebih kuat dalam retorika dibandingkan kerja nyata di lapangan. Menurutnya, keberadaan lembaga tersebut tidak memberikan dampak signifikan bagi masyarakat sehingga layak dipertanyakan keberlanjutannya.

“MRP empuk di balik kursi, tapi rakyat terus menderita. Untuk apa lembaga ini kalau tidak ada manfaatnya?” ujarnya.

Kritik juga diarahkan kepada DPR yang dinilai tidak menjalankan fungsi representasi secara maksimal. Massa menyebut aspirasi rakyat selama ini tidak pernah benar-benar diperjuangkan.

“DPR dan MRP yang kami pilih hanya diam. Aspirasi kami tidak pernah diperjuangkan,” lanjutnya, menggambarkan kekecewaan mendalam atas sikap wakil rakyat yang dinilai abai.

Selain isu kelembagaan, massa juga menyoroti dugaan kekerasan aparat di Dogiyai, termasuk kasus penembakan terhadap seorang mama lansia di rumahnya sendiri yang hingga kini belum mendapatkan kejelasan.

Dalam orasinya, Yeti menyebut adanya dugaan bahwa korban menjadi sasaran karena mengetahui peristiwa tertentu yang melibatkan aparat, meski pernyataan tersebut belum terkonfirmasi secara resmi.

Pernyataan tersebut semakin memperkuat tuntutan massa agar setiap dugaan pelanggaran dapat diusut secara transparan dan tuntas.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak MRP, DPR, maupun aparat kepolisian terkait tuntutan dan tudingan yang disampaikan dalam aksi tersebut.

Aksi ini menjadi penanda meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap lembaga perwakilan dan aparat di Papua. Tanpa langkah konkret, transparan, dan berpihak pada rakyat, gelombang protes serupa berpotensi terus meluas dengan tekanan yang semakin kuat. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Kecelakaan Mobil Satgas TNI di Yalimo, Empat Prajurit Meninggal

YALIMO, TOMEI.ID | Kecelakaan tunggal yang melibatkan mobil Satgas Yonif 645 terjadi di Jalan Trans Jayapura–Wamena,…

20 jam ago

Yampit Nawipa Ingatkan ASN Jangan Ejek Kesalahan Rekan, Disiplin Harus Ditegakkan

PANIAI, TOMEI.ID | Bupati Paniai, Yampit Nawipa, mengingatkan seluruh aparatur pemerintah agar tidak menjadikan kesalahan…

1 hari ago

Melkianus Tebai Bawa Perspektif Dunia Usaha dalam Pelatihan BUMDes bagi 79 Kampung di Dogiyai

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Dogiyai, Melkianus Tebai, membawa perspektif dunia…

1 hari ago

Perkuat Fondasi SDM, Bupati Paniai Yanpit Nawipa Dorong Pendidikan TK dan PAUD hingga Kampung

PANIAI, TOMEI.ID | Bupati Paniai, Yanpit Nawipa, menegaskan komitmennya untuk memperkuat pendidikan anak usia dini…

1 hari ago

40 Tenaga Kesehatan Ikuti Workshop ILP, Pelayanan Kesehatan Papua Tengah Jadi Sorotan

NABIRE, TOMEI.ID | Sebanyak 40 tenaga kesehatan mengikuti Workshop Integrasi Layanan Primer (ILP) yang digelar…

1 hari ago

Meki Nawipa Tekankan Percepatan Program, Anggaran 2026 Harus Berdampak bagi Rakyat

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, meminta seluruh OPD setempat mempercepat pelaksanaan program dan…

1 hari ago