Berita

Anderian Kamo Tegas Soroti Tragedi Dogiyai: KOMPASS Desak Pengusutan Transparan dan Pendekatan Humanis Berbasis HAM

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ketua Umum Komunitas Mahasiswa Papua Se-Sumatera (KOMPASS), Anderian Kamo, menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait rangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi pada 31 Maret 2026 di Kabupaten Dogiyai, yang dinilai telah menimbulkan duka mendalam sekaligus ketakutan kolektif di tengah masyarakat sipil.

Sebagai putra daerah Dogiyai, Anderian Kamo menegaskan bahwa insiden tersebut tidak dapat dipandang sebagai peristiwa biasa, melainkan harus disikapi secara serius, objektif, dan berlandaskan prinsip hukum serta hak asasi manusia.

Salah satu sorotan utama dalam pernyataan tersebut adalah meninggalnya seorang warga sipil lanjut usia, Mama Ester Pigai (±60 tahun), yang dinilai menimbulkan pertanyaan mendasar terkait perlindungan terhadap warga sipil dalam situasi konflik.

“Dalam perspektif kemanusiaan dan hukum, setiap tindakan yang menghilangkan nyawa manusia harus dipertanggungjawabkan secara terbuka dan adil. Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan tanpa kejelasan hukum,” tegas Anderian dalam keterangan tertulis kepada tomei.id, Rabu (1/4/2026).

Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap hak hidup, rasa aman, dan martabat manusia merupakan kewajiban fundamental sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Lebih lanjut, KOMPASS mendorong seluruh pihak terkait di tingkat daerah untuk segera mengambil langkah cepat, terukur, dan bertanggung jawab dalam menjamin keamanan masyarakat serta memulihkan situasi yang kondusif.

“Kami menuntut adanya proses pengusutan yang transparan dan independen terhadap seluruh rangkaian kejadian, termasuk dugaan keterlibatan pihak-pihak tertentu. Penegakan hukum harus berjalan tanpa diskriminasi dan tanpa tekanan,” ujarnya.

Dalam pandangan KOMPASS, pendekatan keamanan semata dinilai tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Diperlukan pendekatan yang lebih dialogis, humanis, dan berkeadilan guna meredakan konflik serta membangun kembali kepercayaan masyarakat.

Selain itu, pihaknya juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, serta berperan aktif dalam mengawal proses hukum secara kritis dan bertanggung jawab.

“Solidaritas kemanusiaan harus menjadi dasar dalam merespons situasi ini. Keadilan bukan sekadar tuntutan, melainkan kebutuhan mendasar bagi terciptanya kedamaian,” tutupnya.

Pernyataan ini menjadi refleksi sekaligus seruan moral agar setiap pihak menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, supremasi hukum, dan keadilan dalam merespons dinamika yang terjadi di Dogiyai. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Bupati Nabire Minta Kepala Suku Moni dan Mee Serahkan Terduga Pelaku Kericuhan ke Polisi

NABIRE, TOMEI.ID | Bupati Nabire, Mesak Magai, meminta para kepala suku Moni dan Mee segera…

19 jam ago

11 Orang Luka, 8 Kendaraan Rusak; Dua Kelompok di Nabire Sepakat Berdamai

NABIRE, TOMEI.ID | Dua kelompok masyarakat yang terlibat keributan di kawasan depan SMP Negeri 2…

19 jam ago

HUT ke-70 GBGP di Tanah Papua, Gubernur Meki Nawipa Tekankan Peran Gereja dalam Pembangunan dan Perdamaian

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan pentingnya peran gereja dalam mendukung pembangunan…

19 jam ago

BREAKING NEWS: Persoalan Sampah Dapur MBG Diduga Picu Kericuhan di Bumi Wonorejo Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Persoalan sampah yang diduga berasal dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG)…

1 hari ago

Green Policing di Taman Gizi, Kapolda Papua Tengah Bersihkan Lingkungan dan Dengarkan Curhat Warga

NABIRE, TOMEI.ID | Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini bersama personel kepolisian melaksanakan kegiatan…

2 hari ago

200 Mahasiswa Teknik UNCEN Dibekali Wawasan Industri Freeport, Teknologi dan Kompetensi Jadi Fokus

JAYAPURA, TOMEI.ID | Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (UNCEN) mengikuti program Eksekutif Mengajar…

2 hari ago