Berita

BEM FIK Uncen Gelar Doa Oikumene dan Seminar Nasional Bangun Pemimpin Papua Berbasis Iman dan IPTEKS

JAYAPURA, TOMEI.ID | Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Cenderawasih (BEM FIK Uncen), Jayapura, Papua menyelenggarakan kegiatan Doa Oikumene dan Seminar Nasional bertajuk “Iman dan IPTEKS” pada Jumat (4/7/2025), di halaman kampus FIK, Waena, Jayapura.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber nasional dari latar belakang spiritual, profesional, dan pelayanan global.

Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif mahasiswa Papua bahwa kemajuan teknologi global hanya akan bermakna bila disertai dengan fondasi iman dan moralitas yang kokoh. Dalam konteks Papua yang tengah menghadapi percepatan pembangunan dan arus investasi, kegiatan ini menjadi ruang afirmasi bahwa kepemimpinan mahasiswa perlu bertumpu pada spiritualitas dan intelektualitas yang seimbang.

Acara diawali dengan Doa Oikumene yang dipimpin oleh Pdt. Sonny Arwam, yang juga menjadi narasumber utama dalam seminar. Acara dihadiri Ketua Senat Universitas Cenderawasih Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, para pimpinan fakultas, dosen, tokoh agama, serta perwakilan mahasiswa dari berbagai asrama dan organisasi.

Ketua Panitia, Yubelina Womsiwor, dalam laporannya menegaskan pentingnya integrasi nilai iman dan ilmu dalam kehidupan mahasiswa Papua. “Kita hidup di era digital, tetapi kita tak bisa hidup tanpa akar. Iman harus menjadi penopang nalar,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua BEM FIK, Is Wenda, menyoroti pentingnya kesetaraan perlakuan dalam lingkungan akademik. Ia menyuarakan harapan agar tidak ada lagi diskriminasi dari pihak dosen terhadap mahasiswa. “Mahasiswa harus diperlakukan adil dan setara, apa pun latar belakangnya,”katanya.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FIK, Dr. Daniel Womsiwor, menyampaikan apresiasi atas inisiatif BEM FIK dalam menyelenggarakan kegiatan yang mendukung pembinaan karakter mahasiswa secara menyeluruh. “Ini adalah langkah strategis dalam membentuk ketahanan mental mahasiswa di tengah tekanan akademik dan sosial,”ungkapnya.

Seminar nasional dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Balthasar Kambuaya. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa teknologi hanyalah alat, dan hanya iman yang mampu mengarahkan penggunaannya ke arah yang benar. “Tidak ada teknologi yang bisa menghidupkan orang mati, tetapi iman bisa menyelamatkan hidup,” tandasnya. Ia juga mengapresiasi BEM FIK atas kepemimpinan moral yang ditunjukkan melalui kegiatan ini.

Tiga narasumber tampil dengan perspektif yang beragam namun saling melengkapi. Pdt. Sonny Arwam membuka sesi pertama dengan tema “Papua Dipulihkan”, menekankan pentingnya pembangunan karakter sebagai landasan kemajuan daerah. “Papua tidak cukup dibangun dengan infrastruktur, tetapi harus dibangun dari dalam, dari jiwa-jiwa yang dipulihkan secara moral,” katanya.

Sesi kedua disampaikan oleh Dennis Firmansjah, SE., MM., profesional muda di bidang keuangan dan teknologi, yang membawakan materi tentang tantangan era digital. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga memiliki etika dan kemampuan menyaring informasi. “Etika digital adalah ujian kepemimpinan masa kini,” tegasnya.

Sesi ketiga diisi oleh Evangelis Zandy Y.W. Keliduan, SE., MABS, penginjil internasional asal Papua. Ia membawakan materi berjudul “Menghadapi Kemajuan IPTEK dengan Iman Kristiani”, dengan penekanan bahwa iman adalah filter utama dalam kehidupan. “Kalau tidak punya filter, kita hanya jadi saluran informasi yang kosong,” ujarnya.

Sebagai bagian dari acara, Yayasan Gideon International Papua juga membagikan Alkitab secara gratis kepada seluruh peserta, sebagai simbol bahwa pembangunan manusia Papua harus bertumpu pada nilai-nilai kebenaran dan iman.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi, pujian bersama, dan jamuan makan siang. Salah satu peserta, Fransiska – mahasiswa semester enam – mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan kekuatan spiritual dan intelektual baru baginya. “Biasanya kegiatan hanya ramai di permukaan, tapi hari ini saya merasa disapa secara batin dan intelektual. Ini luar biasa,” ucapnya.

Melalui kegiatan ini, BEM FIK Uncen menunjukkan bahwa mahasiswa Papua tidak hanya dipersiapkan sebagai profesional di bidang olahraga, tetapi juga sebagai pemimpin masa depan yang berakar pada iman, ilmu pengetahuan, dan keadilan sosial. Seminar ini menjadi penanda bahwa karakter dan spiritualitas adalah fondasi utama dalam membangun Papua yang adil dan bermartabat. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

Gubernur Meki Nawipa: Hari Anak Nasional Harus Jadi Titik Balik Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak di Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42…

29 menit ago

Melian Obaipa: Dari Pelosok Siriwo Menembus Mimpi, Tukang Ojek yang Menjadi Juara Bahasa Inggris

Di saat sebagian besar pelajar menikmati masa liburan, Melian Obaipa justru menghabiskan waktunya di atas…

3 jam ago

Mantan Ketua BEM Universitas Baliem Papua Serukan Penolakan Eksploitasi Tanah dan Budaya Papua Pegunungan

WAMENA, TOMEI.ID | Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Baliem Papua, Aleanus Yogomaid, menyampaikan…

5 jam ago

Mahasiswa Pegunungan Tengah Gelar Aksi Damai di Manokwari, Desak Investigasi Dugaan Pelanggaran HAM di Intan Jaya

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) Kota Studi Manokwari bersama Gerakan Pelajar dan…

5 jam ago

Bantuan 2 Ton Beras Disalurkan untuk Pengungsi Konflik di Wamena, Dinsos Papua Pegunungan Minta Warga Jaga Perdamaian

WAMENA, TOMEI.ID | Kementerian Sosial (Kemensos) RI melalui Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan bersama Yayasan…

6 jam ago

Bobon Santoso Ditolak di Wamena, Aktivis Pribumi: Papua Pegunungan Butuh Pendidikan, Kesehatan, dan Lapangan Kerja

WAMENA, TOMEI.ID | Kehadiran kreator konten Bobon Santoso melalui kegiatan Kuali Merah Putih di Wamena,…

6 jam ago