Berita

BPP KOMPASS Pertegas Mekanisme Organisasi, 45 Mahasiswa Papua Se-Sumatera Suarakan Komitmen Kolektif

SUMUT, TOMEI.ID | Badan Pengurus Pusat (BPP) KOMPASS menggelar forum daring sebagai bagian dari mekanisme resmi organisasi dalam penyampaian sekaligus pembahasan program kerja. Kegiatan ini diikuti oleh 45 mahasiswa Papua dari berbagai wilayah di Sumatera dan menjadi ruang konsolidasi strategis Komunitas Mahasiswa Papua Se-Sumatera (KOMPASS) di bawah koordinasi BPP secara terementasi dan terstruktur.

Forum tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan wadah penguatan arah gerak organisasi, penyelarasan visi kolektif, serta penegasan komitmen terhadap tata kelola internal yang transparan dan partisipatif.

Ketua KOMPASS, Anderian Kamo, dalam pengantarnya menekankan bahwa mekanisme organisasi harus berjalan di atas kesadaran nilai dan arah yang jelas, dengan disiplin tinggi, transparansi penuh, serta komitmen tanpa kompromi.

“Hari ini saya tidak ingin berbicara panjang tentang program kerja. Saya ingin berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, tentang siapa kita dan ke mana kita mau melangkah,” demikian dikutip dari keterangan tertulis.

Menurut Ketua KOMPASS, organisasi tidak boleh hanya bergerak secara administratif yang kaku dan mekanis, tetapi harus memiliki fondasi nilai yang kuat, autentik, serta berani menghadapi tantangan nyata.

“KOMPASS adalah arah. Kalau kompas rusak, kapal tersesat. Kalau nilai kita rusak, organisasi kehilangan arah, tujuan, kredibilitas, kepercayaan, dan kekuatan untuk bertahan serta bergerak maju,” ujar Kamo.

Dalam pemaparan tersebut, BPP menyampaikan garis besar program yang mencakup penguatan sumber daya mahasiswa, konsolidasi internal antarwilayah, serta pengembangan ruang intelektual dan budaya sebagai instrumen kaderisasi. Setiap bidang diminta menyusun rencana kerja yang terukur dan dapat dievaluasi secara berkala.

Ketua KOMPASS menegaskan bahwa legitimasi organisasi terletak pada pelaksanaan program yang disiplin, konsisten, terukur, akuntabel, transparan, strategis, efektif, dan berdampak nyata.

“Program kerja yang bagus tidak otomatis membuat organisasi besar. Yang membuat organisasi besar adalah eksekusi dan konsistensi,” ujarnya.

Sementara itu, dari tempat yang sama, Sekretaris Jenderal KOMPASS, Evelin Christiani Rumaikewi, menegaskan pentingnya partisipasi aktif seluruh anggota dalam mengawal setiap keputusan organisasi secara konsisten dan bertanggung jawab.

“Kalau program hanya berhenti di slide presentasi, ia hanya akan menjadi dokumen. Kalau tidak dijaga bersama, ia akan menjadi arsip, bukan gerakan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Sekretaris Jenderal juga menyampaikan bahwa forum diskusi merupakan bagian dari mekanisme kontrol internal agar organisasi tetap kritis dan terbuka.

“Organisasi yang hidup adalah organisasi yang berpikir, bergerak kritis, berani, dan bertanggung jawab, serta konsisten menjaga integritas kolektifnya,” katanya.

Lebih lanjut, Bendahara Umum KOMPASS mengingatkan bahwa tanggung jawab organisasi bersifat kolektif, bukan individual, demi menjaga soliditas dan marwah kelembagaan bersama.

“Jangan hanya mengkritik. Ambil bagian. Organisasi ini tidak berdiri di atas satu orang. Ia berdiri di atas kesadaran kolektif,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, suara mahasiswa menegaskan bahwa KOMPASS harus berjalan sesuai mekanisme organisasi yang partisipatif, terukur, dan akuntabel. Program kerja telah disampaikan dan disepakati sebagai pedoman bersama.

Forum ditutup dengan penegasan bahwa seluruh perangkat organisasi memiliki tanggung jawab yang sama dalam memastikan implementasi program secara disiplin, terukur, konsisten, dan berkelanjutan. Karena posisi organisasi sebagai sebagai ruang gerakan mahasiswa.

“KOMPASS bukan hanya rencana. KOMPASS adalah aksi nyata, terukur, terorganisir, dan berdampak luas, demi perubahan struktural yang berkelanjutan,” pungkasnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

18 Tahun Mengabdi dalam Sunyi, Kornelia Butu Resmi Dilantik Menjadi Akolit di Siriwo

SIRIWO, TOMEI.ID | Kesetiaan yang dijaga selama hampir dua dekade akhirnya berbuah pengakuan dan tanggung…

4 jam ago

Mahasiswa Paniai di Jakarta Tolak DOB, Tambang dan Militerisasi, Oktavianus Bunai: Tanah Adat Bukan Ruang Eksploitasi

JAKARTA, TOMEI.ID | Solidaritas Mahasiswa Paniai Se-Indonesia Kota Studi Jakarta menegaskan penolakan terhadap rencana pembentukan…

4 jam ago

IMPPETANG Teguhkan Harapan Baru, Perkuat Kaderisasi dan Persatuan Generasi Pegunungan Bintang

JAYAPURA, TOMEI.ID | Perayaan Dies Natalis ke-29 Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Pegunungan Bintang (IMPPETANG) se-Indonesia…

5 jam ago

TPNPB Klaim Tiga Anggotanya Tewas Akibat Serangan Drone Bom TNI di Nduga

NDUGA, TOMEI.ID | Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat sayap militer Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim…

1 hari ago

Atasi Masalah Anak Tidak Sekolah, Papua Tengah Punya Cara Unggulan

JAYAPURA, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah mulai menunjukkan langkah progresif dalam menekan angka…

2 hari ago

TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Gelar Rapat Orangtua, Perkuat Sinergi Pendidikan Anak Usia Dini di Paniai

PANIAI, TOMEI.ID | TK Negeri Waikato Paapaa Aikai, Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, menggelar rapat…

2 hari ago