Berita

Dari Panen Kacang ke Panen Generasi, Meki Nawipa Mulai Babak Baru Pendidikan Mapia

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ada tempat yang tidak pernah meminta untuk disebut besar dan tidak selalu ramai oleh sorotan, tetapi justru dari tempat-tempat seperti itulah sejarah sering ditanam secara perlahan. Diyoudimi adalah salah satunya. Senin (7/9/2026), kawasan Omakapau, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, kembali menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan Papua Tengah ketika Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, melakukan kunjungan kerja (kunker) perdana di Kabupaten Dogiyai. Kehadiran Meki bukan sekadar untuk melihat sebuah tempat, tetapi membawa pesan pembangunan yang menyentuh pendidikan dan masa depan generasi muda Mapia.

BACA JUGA: Kunker Perdana di Dogiyai, Meki Nawipa Mulai Pembangunan Asrama Sekolah di Mapia

Kunjungan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung dan asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi serta peresmian Sekolah Teologia Atas (STA) Bomomani. Bagi pemerintah, pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat fasilitas pendidikan. Namun bagi masyarakat Mapia, sekolah bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Di dalamnya terdapat harapan orang tua, cita-cita anak-anak, sejarah pelayanan pendidikan, sekaligus masa depan masyarakat yang sedang dipersiapkan dari sekarang.

Kegiatan di Mapia turut dihadiri Bupati Dogiyai Yudas Tebai bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), unsur TNI dan Polri, tokoh adat, tokoh masyarakat dari Lembah Kamuu dan Mapia, serta masyarakat setempat. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat berdiri sendiri. Pendidikan bersentuhan langsung dengan keluarga, adat, agama, budaya, kesehatan, pemerintahan, hingga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Kemarau Panjang, Hujan Sehari

Bagi masyarakat Mapia, momentum kunjungan Gubernur Meki Nawipa terasa seperti kemarau panjang yang disambut hujan sehari. Bukan berarti seluruh persoalan pendidikan selesai hanya dengan peletakan batu pertama, tetapi momentum tersebut kembali menghidupkan harapan bahwa pendidikan di wilayah Mapia harus memperoleh perhatian yang berkelanjutan. Masyarakat telah lama menaruh harapan pada pendidikan sebagai jalan untuk membuka masa depan anak-anak mereka. Sejak pelayanan misi Katolik hadir di tanah Mapia, masyarakat menerima pendidikan dan pelayanan agama sebagai bagian dari kehidupan. Waktu kemudian menunjukkan bahwa proses tersebut telah melahirkan generasi yang mengambil bagian dalam berbagai bidang kehidupan.

Anton M. Degei, pemerhati pendidikan dan mantan Kepala Sekolah SD YPPK Putapa, memandang pendidikan sebagai investasi yang hasilnya tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat. Dari ruang kelas yang sederhana, seorang anak dapat tumbuh menjadi guru, tenaga kesehatan, profesional, pengusaha, aparatur pemerintahan, pemimpin masyarakat, atau kembali mengabdikan dirinya kepada kampung dan daerah asalnya. Karena itu, pendidikan yang ditanam hari ini mungkin baru terlihat buahnya puluhan tahun kemudian.

1990: “Panen Raya Kacang”

Diyoudimi juga menyimpan potongan sejarah yang menarik dalam ingatan masyarakat. Sekitar 1990, ketika Papua masih menjadi satu provinsi, Bupati Kabupaten Nabire saat itu, Yusuf Adipata, dikenang pernah berkunjung ke wilayah tersebut dalam kegiatan yang dikenal sebagai “panen raya kacang.” Sebuah peristiwa yang pada zamannya berbicara tentang hasil bumi, tetapi kini dapat dibaca dengan makna yang berbeda. Setelah lebih dari tiga dekade berlalu, pertanyaannya bukan lagi sekadar apa yang dipanen dari tanah Diyoudimi, melainkan generasi apa yang akan dipanen dari Diyoudimi?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin kuat ketika pada 2026 pembangunan pendidikan kembali menjadi bagian dari perhatian pemerintah. Jika dahulu masyarakat berkumpul untuk melihat hasil bumi, kini harapan diarahkan kepada hasil yang jauh lebih panjang: manusia. Anak-anak yang hari ini belajar di Mapia adalah benih yang kelak akan menentukan wajah daerahnya. Karena itu, pembangunan sekolah bukan hanya pembangunan fisik, melainkan bagian dari proses menyiapkan sumber daya manusia Papua Tengah.

Bukan Sekedar “Ada Apa Di Diyoudimi?”

Maka pertanyaan yang lebih tepat bukan “Ada apa di Diyoudimi?”, melainkan “Ada harapan apa untuk generasi berikutnya dari Diyoudimi?” Jawabannya tidak hanya pendidikan, tetapi pendidikan yang berjalan bersama agama, kesehatan, adat, dan budaya. Membangun Papua tidak cukup hanya membuka jalan, membangun gedung, menyediakan fasilitas umum, atau menghadirkan listrik. Semua pembangunan tersebut harus bermuara pada manusia Papua yang berpendidikan, beriman, sehat, berbudaya, memiliki jati diri, dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Di sinilah keberadaan SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia menjadi penting. Sekolah tidak boleh diukur hanya dari keadaan gedungnya hari ini. Mungkin fasilitas masih membutuhkan pembenahan, mungkin masih ada kekurangan yang harus dijawab pemerintah dan masyarakat, tetapi kondisi bangunan tidak boleh menjadi ukuran terhadap masa depan seorang anak. Sebuah sekolah sederhana sekalipun dapat melahirkan manusia hebat. Anak yang hari ini duduk di bangku SMP bisa saja kelak menjadi guru, dokter, pengusaha, pejabat pemerintah, profesional, pemimpin masyarakat, atau pemimpin Papua di masa depan.

Karena itu, pendidikan adalah investasi manusia. Investasi terbesar bukan semata-mata pada bangunan, melainkan pada pengetahuan, keterampilan, karakter, dan keberanian generasi untuk mengambil tanggung jawab. Gedung dapat dibangun dalam hitungan bulan atau tahun, tetapi manusia membutuhkan proses panjang untuk dibentuk. Karena itu pula, pembangunan sekolah harus diikuti dengan perhatian terhadap kualitas pendidikan, tenaga pendidik, lingkungan belajar, keterlibatan orang tua, serta dukungan masyarakat.

Meki: Politik Sudah Selesai, Saatnya Membangun

Pesan tersebut sejalan dengan arah yang disampaikan Gubernur Meki Nawipa. Ia menegaskan bahwa dinamika politik dalam pemilihan kepala daerah telah selesai. Perbedaan pilihan politik tidak boleh terus dibawa ke dalam proses pembangunan. Menurut Meki, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, masyarakat, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan harus kembali bersatu dan bekerja sama untuk membangun Dogiyai.

“Dengan dukungan suara masyarakat, saya tidak membagikan uang, melainkan membalasnya dengan pembangunan. Kita akan membangun jalan, sekolah, serta pasar agar perekonomian warga hidup,” ujar Meki Nawipa.

Pernyataan tersebut menempatkan pembangunan sekolah di Mapia dalam konteks yang lebih luas. Pendidikan harus berjalan bersama pembangunan jalan, pasar, fasilitas umum, dan penyediaan listrik. Jalan membuka akses, pasar menggerakkan ekonomi, listrik mendukung aktivitas masyarakat, sementara pendidikan menyiapkan manusia yang akan mengelola dan mengembangkan semua itu. Dengan demikian, pembangunan tidak dapat dikerjakan secara terpisah-pisah karena pada akhirnya seluruhnya harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Meki Ingin Mapia Melahirkan Generasi Tangguh

Dalam arahannya, Meki juga menyampaikan harapan agar putra-putri Mapia mampu mengambil peran strategis pada masa mendatang. Ia mendorong generasi muda Tota Mapia untuk mempersiapkan diri melalui pendidikan sehingga mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah. Meki bahkan berharap pada 2027 akan muncul putra-putri Mapia yang memiliki kapasitas untuk mengisi posisi penting dalam pemerintahan, termasuk berkiprah dalam sektor pendidikan di tingkat Provinsi Papua Tengah.

“Saya ingin orang Mapia harus maju, harus pintar, dan maju menjadi orang Mapia yang hebat dan tangguh,” tegasnya.

Pesan tersebut bukan sekadar ajakan agar anak-anak bersekolah. Ada tuntutan yang lebih besar, yakni agar pendidikan melahirkan generasi yang memiliki kemampuan dan keberanian untuk mengambil peran. Anak-anak Mapia tidak boleh hanya menjadi penonton ketika pembangunan berlangsung. Mereka harus dipersiapkan menjadi pelaku pembangunan, baik di kampung, kabupaten, provinsi, maupun pada ruang-ruang pengabdian yang lebih luas.

Meki Pesan: Jangan Sungkan Antarkan Anak-anak Ke Sekolah

Karena itu, pesan kepada orang tua menjadi penting. Jangan sungkan mengantarkan anak-anak ke SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia. Dorong mereka untuk belajar, dukung mereka menyelesaikan pendidikan, ajarkan mereka menghormati agama, mencintai adat dan budaya, menjaga kesehatan, serta berani memiliki cita-cita. Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk bermimpi setinggi mungkin tanpa kehilangan akar kehidupan dan identitasnya sebagai anak Papua.

Pendidikan tidak hanya dimulai di sekolah. Pendidikan pertama berlangsung di keluarga, kemudian diperkuat sekolah dan lingkungan masyarakat. Karena itu, orang tua, guru, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan. Jika semua pihak berjalan bersama, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi dapat membentuk generasi yang memahami ilmu pengetahuan sekaligus menghargai adat, budaya, agama, dan masyarakatnya.

Pembangunan Membutuhkan Rasa Aman

Namun pembangunan juga membutuhkan suasana yang aman dan kondusif. Dalam kunjungannya, Meki meminta masyarakat ikut menjaga keamanan serta tidak melakukan tindakan yang dapat menghambat pekerjaan pembangunan, termasuk pemalangan yang menghentikan pekerjaan di lapangan.

“Saya merekomendasikan sejumlah hal yang menghalangi pembangunan. Mohon diusir, dijauhkan dan ditinggalkan hal-hal tersebut, agar setiap pembangunan di Mapia selalu lancar dan aman,” ujar Meki.

Pesan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari keberhasilan pembangunan. Pemerintah dapat menyiapkan kebijakan dan memulai pembangunan, tetapi keberlanjutan pekerjaan di lapangan membutuhkan dukungan masyarakat. Karena itu, komunikasi dan penyelesaian persoalan secara baik menjadi penting agar pembangunan dapat berjalan tanpa menimbulkan persoalan baru.

Dari Diyoudimi, Harapan Itu Harus Tumbuh

Kunjungan kerja perdana Meki Nawipa di Dogiyai karena itu tidak semestinya berhenti sebagai catatan agenda pemerintahan. Peletakan batu pertama pembangunan gedung dan asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi harus dikawal hingga selesai dan benar-benar memberikan manfaat bagi siswa. Peresmian STA Bomomani juga menjadi bagian dari pesan bahwa pembangunan manusia membutuhkan ruang pendidikan yang terus hidup dan berkembang.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Dogiyai memiliki ruang untuk memperkuat sinergi tersebut. Masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga fasilitas yang dibangun, mendukung anak-anak bersekolah, menjaga keamanan, serta memastikan pembangunan dapat berlangsung sesuai tujuan. Dengan kerja bersama, pembangunan tidak berhenti pada seremoni, tetapi berubah menjadi manfaat nyata.

Bagi Anton M. Degei, pendidikan harus dilihat sebagai proses panjang untuk membangun manusia. Apa yang ditanam hari ini mungkin belum terlihat hasilnya sekarang, tetapi generasi yang tumbuh dari pendidikan itulah yang kelak akan menentukan apakah sebuah daerah mampu bergerak maju atau tidak. Karena itu, membangun sekolah berarti sedang menanam sesuatu yang hasilnya tidak selalu dapat dihitung dalam satu masa pemerintahan.

2026: Panen Harapan

Tahun 1990, Diyoudimi dikenang melalui “panen raya kacang.” Tahun 2026, tempat yang sama kembali menjadi saksi sebuah momentum pembangunan, tetapi dengan cerita yang berbeda. Kali ini yang sedang ditanam bukan hanya benih di tanah, melainkan harapan melalui pendidikan.

Dan beberapa puluh tahun ke depan, harapan itu dapat menjadi sebuah cerita baru: “Panen Raya Generasi Emas Mapia.” Bukan lagi sekadar hasil bumi yang dipanen, tetapi anak-anak Papua yang berpendidikan, berkarakter, beriman, sehat, mencintai adat dan budayanya, serta siap berdiri untuk tanah kelahirannya.

Sebab sejarah selalu memberi pelajaran sederhana: apa yang ditanam hari ini akan dipanen pada waktunya. Jika dahulu tanah Diyoudimi memberikan hasil bumi, maka hari ini masyarakat dan pemerintah sedang menanam manusia. Panennya mungkin belum terlihat. Waktunya mungkin masih panjang. Tetapi benih itu harus dijaga sejak sekarang.

Diyoudimi bukan sekadar tentang “ada apa di sana”. Diyoudimi adalah tentang “siapa yang akan lahir dari sana”. Jawabannya sedang dibentuk hari ini; di rumah, di sekolah, di kampung, dan di tengah masyarakat Mapia. Dan bisa jadi, pemimpin masa depan Papua Tengah sedang tumbuh dari bangku sekolah sederhana di Diyoudimi hari ini. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Terima Rp500 Juta dan Bantuan Alkes, Maria Clara: Terima Kasih Pak Gubernur

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ucapan terima kasih disampaikan Direktur RSUD Pratama Dogiyai, dr. Maria Clara Giyai,…

10 menit ago

Meki Nawipa di Dogiyai: Politik Selesai, Jangan Palang Pembangunan

DOGIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, meminta masyarakat Kabupaten Dogiyai menghentikan berbagai tindakan…

28 menit ago

Kunker Perdana di Dogiyai, Meki Nawipa Mulai Pembangunan Asrama Sekolah di Mapia

DOGIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mengawali kunjungan kerja perdana di Kabupaten Dogiyai…

3 jam ago

BREAKING NEWS: Gubernur Meki Nawipa Tiba di Dogiyai

DOGIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, bersama rombongan tiba di Kabupaten Dogiyai untuk…

14 jam ago

Pejabat dan ASN Dogiyai Padati Bandara Moanemani Sambut Gubernur Papua Tengah

DOGIYAI, TOMEI.ID | Sejumlah pejabat dan aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Dogiyai memadati kawasan Bandara…

14 jam ago

Larangan Dagang di Pantai Nabire yang Beredar di Medsos Bukan Instruksi Gubernur Meki

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, membantah informasi yang beredar di media sosial…

1 hari ago