Berita

Dari Tanah Papua Menuju Dunia: 1.100 Anak OAP Ditempa Melalui Black Pearl English Course

Di tengah berbagai tantangan akses dan kualitas pendidikan yang masih dihadapi sejumlah wilayah di Papua, secercah harapan tumbuh dari ruang-ruang kelas sederhana yang tersebar di Mimika, Paniai, dan Nabire. Sebanyak 1.100 anak Orang Asli Papua (OAP) kini memiliki kesempatan memperluas cakrawala pengetahuan melalui kemampuan berbahasa Inggris, sebuah keterampilan yang membuka jalan menuju pendidikan tinggi, beasiswa, dan persaingan global.

Harapan itu diwujudkan melalui Black Pearl English Course (BPEC), program pelatihan bahasa Inggris yang diselenggarakan Yayasan Mutiara Hitam Papua (YMH Papua). Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, program ini terus menunjukkan komitmen dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Papua melalui pendidikan yang inklusif dan berorientasi masa depan.

Sepanjang 2025 hingga 2026, BPEC hadir sebagai wadah pembelajaran bagi siswa OAP dari jenjang SD hingga SMA/SMK. Pada tahun ini, program menjangkau tiga kabupaten di Papua Tengah, yakni Mimika, Paniai, dan Nabire, dengan melibatkan 1.100 siswa dari 12 sekolah.

Keberhasilan pelaksanaan program ini tidak terlepas dari dukungan penuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meky Nawipa, melalui  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, pemerintah memberikan dukungan pendanaan penuh sebagai bentuk komitmen memperkuat kualitas pendidikan dan kapasitas generasi muda Papua.

Dukungan tersebut sejalan dengan visi “Papua Tengah Terang” yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan daerah. Selama 15 hari, mulai 11 hingga 25 Mei 2026, para peserta mengikuti pelatihan intensif yang dibimbing tutor profesional menggunakan kurikulum sesuai standar BPEC.

Program ini menjangkau 12 sekolah yang tersebar di tiga kabupaten. Kabupaten Paniai menjadi wilayah dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 611 siswa, disusul Mimika sebanyak 388 siswa dan Nabire sebanyak 101 siswa. Tingginya partisipasi peserta menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap program peningkatan kapasitas pendidikan bagi anak-anak Papua.

Lebih dari sekadar pembelajaran bahasa, BPEC dirancang untuk membangun kepercayaan diri peserta dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia yang lebih luas. Materi yang diajarkan mencakup tata bahasa dasar, pengayaan kosakata, percakapan dan praktik berbicara, pemahaman mendengar, membaca dan bercerita, latihan menulis sederhana, hingga sesi pertukaran budaya atau cultural exchange.

Metode pembelajaran dikemas secara interaktif, partisipatif, dan kontekstual. Teori dipadukan dengan praktik langsung, permainan edukatif, serta diskusi kelompok sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami oleh peserta dari berbagai latar belakang kemampuan.

Hasil yang dicapai selama pelatihan dinilai menggembirakan. Para peserta mampu memperkenalkan diri dan melakukan percakapan dasar dalam bahasa Inggris. Penguasaan kosakata mereka meningkat secara signifikan, dengan rata-rata tambahan 200 hingga 300 kata baru selama mengikuti program.

Perubahan yang paling menonjol terlihat pada tumbuhnya rasa percaya diri peserta. Banyak siswa yang sebelumnya enggan berbicara di depan umum mulai berani tampil, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan pendidikan dan dunia kerja di masa mendatang.

Tidak hanya itu, program ini juga berhasil menumbuhkan motivasi peserta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ketertarikan terhadap berbagai peluang beasiswa, termasuk LPDP maupun program studi luar negeri, mulai tumbuh di kalangan siswa yang mengikuti pelatihan.

Ketua Yayasan Mutiara Hitam Papua, Mina V Sarwom, memberikan apresiasi atas semangat belajar yang ditunjukkan para peserta selama program berlangsung.

“Jangan pernah berhenti belajar. Bahasa Inggris hanyalah pintu masa depan kalian ada di tangan kalian sendiri. Tetaplah bangga sebagai Orang Asli Papua, dan bawalah nama baik tanah Papua ke kancah dunia,” ujar Mina V Sarwom.

Menurutnya, para peserta merupakan mutiara-mutiara terbaik Papua yang memiliki potensi besar untuk menjadi generasi penerus yang mampu membawa perubahan bagi daerahnya. Karena itu, ilmu yang telah diperoleh diharapkan terus dipraktikkan, dikembangkan, dan dibagikan kepada lingkungan sekitar.

Keberlanjutan program ini juga ditopang oleh kolaborasi berbagai pihak. Selain Pemprov Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dukungan turut datang dari Black Pearl Network Australia dan Uniting Church in Australia Synod of Western Australia yang berkontribusi dalam pengembangan kurikulum serta penguatan kemitraan internasional.

Sementara itu, Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua berperan sebagai mitra strategis dalam mendukung pelayanan pendidikan bagi masyarakat Papua. Sinergi lintas sektor tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan sumber daya manusia membutuhkan kerja sama yang berkelanjutan dari berbagai elemen.

Meski mencatat berbagai capaian positif, penyelenggara mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian. Keterbatasan sarana dan prasarana belajar, perbedaan kemampuan awal peserta, kebutuhan buku panduan yang lebih memadai, serta perlunya durasi pelatihan yang lebih panjang menjadi catatan untuk pengembangan program di masa mendatang.

Namun tantangan tersebut tidak menyurutkan optimisme para penyelenggara. Dengan dukungan pemerintah yang semakin kuat dan kemitraan yang terus berkembang, Yayasan Mutiara Hitam Papua menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program pendidikan yang memberdayakan generasi muda Papua.

Di ruang-ruang kelas yang tersebar dari pesisir Mimika hingga pegunungan Paniai, anak-anak Papua kini mulai mengenal bahasa yang digunakan oleh masyarakat dunia. Namun lebih dari sekadar mempelajari kosakata baru, mereka sedang membangun keberanian untuk bermimpi lebih besar, melangkah lebih jauh, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu membawa Papua berdiri sejajar di panggung global.

“Mari bersama kita wujudkan Papua yang berdaya, berbudaya, dan siap bersaing di dunia,” demikian harapan yang mengemuka dari Yayasan Mutiara Hitam Papua. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Bupati Nabire Minta Kepala Suku Moni dan Mee Serahkan Terduga Pelaku Kericuhan ke Polisi

NABIRE, TOMEI.ID | Bupati Nabire, Mesak Magai, meminta para kepala suku Moni dan Mee segera…

4 jam ago

11 Orang Luka, 8 Kendaraan Rusak; Dua Kelompok di Nabire Sepakat Berdamai

NABIRE, TOMEI.ID | Dua kelompok masyarakat yang terlibat keributan di kawasan depan SMP Negeri 2…

4 jam ago

HUT ke-70 GBGP di Tanah Papua, Gubernur Meki Nawipa Tekankan Peran Gereja dalam Pembangunan dan Perdamaian

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan pentingnya peran gereja dalam mendukung pembangunan…

4 jam ago

BREAKING NEWS: Persoalan Sampah Dapur MBG Diduga Picu Kericuhan di Bumi Wonorejo Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Persoalan sampah yang diduga berasal dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG)…

17 jam ago

Green Policing di Taman Gizi, Kapolda Papua Tengah Bersihkan Lingkungan dan Dengarkan Curhat Warga

NABIRE, TOMEI.ID | Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini bersama personel kepolisian melaksanakan kegiatan…

1 hari ago

200 Mahasiswa Teknik UNCEN Dibekali Wawasan Industri Freeport, Teknologi dan Kompetensi Jadi Fokus

JAYAPURA, TOMEI.ID | Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (UNCEN) mengikuti program Eksekutif Mengajar…

1 hari ago