Berita

Ekonomi Babel Rapuh, Fluktuasi Dipicu Dominasi Timah dan Sawit

JAYAPURA, TOMEI.ID | Struktur ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dinilai masih rapuh akibat ketergantungan tinggi pada komoditas timah dan kelapa sawit, yang membuat pertumbuhan daerah sangat rentan terhadap fluktuasi pasar global.

Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kinerja ekonomi Babel sepanjang 2022 hingga awal 2026 menunjukkan volatilitas yang tajam, mencerminkan lemahnya struktur ekonomi dan tingginya risiko ketidakstabilan.

Menurutnya, pada 2022, ekonomi Babel masih tumbuh 4,40 persen dengan nilai PDRB Rp95,29 triliun, namun mulai melambat sebagai sinyal awal melemahnya fondasi ekonomi berbasis komoditas.

“Pertumbuhan Babel selama ini lebih ditopang konsumsi dan belanja pemerintah, tanpa diimbangi penguatan sektor produktif berkelanjutan. Ini yang membuatnya sangat rentan terhadap guncangan eksternal,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).

Tekanan mencapai titik terendah pada 2024, saat pertumbuhan ekonomi hanya 0,77 persen. Kondisi ini dipicu krisis tata kelola timah yang berdampak langsung pada ekspor dan penerimaan daerah, bahkan sempat menimbulkan efek sistemik terhadap perekonomian.

Di sisi lain, pelemahan harga sawit global turut memperparah tekanan. Daya beli masyarakat menurun, sejumlah sektor mengalami kontraksi, serta ketergantungan terhadap impor pangan meningkat. Kontribusi Babel terhadap ekonomi Sumatera pun ikut menyusut.

Memasuki 2025, pemulihan mulai terlihat dengan pertumbuhan kumulatif 4,09 persen, ditopang sektor jasa, perdagangan, serta pertanian dan perikanan. Namun, perbaikan ini dinilai belum mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi yang stabil.

Dominasi timah dalam struktur PDRB masih tinggi, sementara industri pengolahan belum berkembang konsisten. Kondisi ini membuat risiko siklus boom and bust tetap besar, di mana pertumbuhan akan naik saat harga komoditas menguat dan kembali tertekan ketika pasar melemah.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi, diperlukan langkah strategis, mulai dari hilirisasi timah yang transparan hingga penguatan UMKM dan sektor jasa yang lebih adaptif. Diversifikasi ke sektor pariwisata dan industri non-komoditas juga dinilai menjadi kunci keluar dari ketergantungan.

“Babel berpeluang tumbuh di atas 5 persen pada 2026, tetapi harus didorong oleh mesin ekonomi baru. Tanpa itu, pertumbuhan hanya akan berulang dalam siklus lama,” pungkasnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Pererat Persekutuan di Pedalaman, Jemaat Solavide Dotir Rayon III Salurkan Bantuan dan Gelar Kunjungan Kasih ke Yabore

TELUK WONDAMA, TOMEI.ID | Jemaat Solavide Dotir Rayon III melaksanakan Kunjungan Kasih ke Jemaat Saitun…

10 jam ago

61 ASN Papua Tengah Ikuti Uji Kompetensi PBJ dan PPK, Perkuat Tata Kelola Pengadaan yang Profesional dan Berintegritas

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memperkuat tata kelola pengadaan barang dan jasa…

2 hari ago

Gubernur Papua Tengah Buka Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa, Tekankan Profesionalisme dan Integritas Aparatur

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa melalui Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda…

2 hari ago

Retreat Level Up Resmi Dibuka, Pemprov Papua Tengah Dorong Lahirnya Pemimpin Kristen Berkarakter dan Bersatu

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah resmi membuka kegiatan Retreat Level Up bertajuk…

2 hari ago

Pemprov Papua Tengah Perkuat Akses Bantuan Hukum bagi Masyarakat Miskin dan Kelompok Rentan

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memperkuat komitmen memperluas akses bantuan hukum bagi…

2 hari ago

Gubernur Meki Nawipa: Hari Anak Nasional Harus Jadi Titik Balik Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak di Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42…

2 hari ago