Berita

Fransina Daby Salurkan Bantuan untuk Pengungsi Konflik Lani–Kurima, Desak Pemda Segera Turun Tangan

WAMENA, TOMEI.ID |  Anggota DPR Provinsi Papua Pegunungan dari Fraksi Demokrat, Fransina Daby, turun langsung menyalurkan bantuan bahan makanan (Bama) kepada warga terdampak konflik antara kelompok Lani dan Kurima yang kini mengungsi di wilayah Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Jumat (15/5/2026).

Kehadiran legislator Papua Pegunungan itu bukan sekadar menyerahkan bantuan kemanusiaan, tetapi juga membawa pesan perdamaian di tengah trauma dan ketakutan yang masih membayangi para pengungsi. 

Diketahui, sebagaian besar korban konflik saat ini diketahui bertahan di Mapolres Jayawijaya dengan kondisi serba terbatas.

Dalam kunjungannya, Fransina menegaskan bahwa situasi yang dialami masyarakat pengungsi tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia mendesak Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya segera turun tangan menangani kondisi darurat kemanusiaan tersebut.

“Saya ingin membawa hal ini kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, bahkan Kabupaten Jayawijaya, agar segera bersama-sama melihat masyarakat yang sedang mengungsi di Polres Jayawijaya. Mereka butuh banyak bahan makanan di tempat ini,” ujar Fransina Daby.

Ia mengungkapkan, kebutuhan para pengungsi bukan hanya makanan, tetapi juga perlengkapan dasar yang sangat mendesak, terutama bagi perempuan dan anak-anak yang kini hidup dalam keterbatasan.

“Di sini ada ibu-ibu menyusui, anak-anak yang butuh pampers, sabun, pakaian, dan lain-lain. Jadi saya mohon Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, beserta jajarannya, bisa membantu masyarakat yang ada di Polres Jayawijaya,” tambahnya.

Fransina menilai kondisi para pengungsi saat ini sudah masuk kategori darurat kemanusiaan yang membutuhkan respons cepat dan nyata dari pemerintah. Menurutnya, negara tidak boleh abai ketika masyarakat kehilangan rasa aman akibat konflik sosial.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa masyarakat di Papua Pegunungan sejatinya hidup dalam ikatan persaudaraan dan kekeluargaan. Karena itu, konflik horizontal yang memecah masyarakat harus dihentikan agar tidak terus menimbulkan korban dan penderitaan.

“Kami ini satu keluarga di Provinsi Papua Pegunungan, sehingga perang seperti ini tidak boleh lagi terjadi,” tegasnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Kurikulum Harus Berakar pada Kehidupan Anak, Bukan Sekadar Aturan dari Jauh

Oleh: Yudas Degei Pendidikan adalah hak setiap anak, di mana pun ia dilahirkan dan dalam…

5 jam ago

Waket II DPR Papua Tengah Soroti Pendidikan dan Pertanian Usai Peresmian PLTS di Puncak

PUNCAK, TOMEI.ID | Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua Tengah, Dr. Drs. Petrus…

6 jam ago

PT Freeport Indonesia Bawa Talenta Musisi Papua ke Panggung Asian Games 2026

NAGOYA, TOMEI.ID | Musisi asal Papua, Nowela Mikhelia, Bona Pascal, Nobo Idol, dan Boii Soa…

7 jam ago

Geradus Bunai Pimpin GKII Wilayah III Papua Tengah

BOMOMANI, TOMEI.ID | Pendeta Geradus Bunai, M.Th., terpilih sebagai Ketua Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII)…

7 jam ago

Listrik Perdana Menyala di Dervos dan Doufo, Meki Nawipa Dorong Pendidikan dan SDM Mamberamo

ILAGA, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Frits Nawipa, meresmikan layanan listrik tenaga surya di…

7 jam ago

Kunker ke Puncak, Meki Nawipa Perkuat Layanan Kesehatan OAP dan Dorong Ekonomi Pemuda

ILAGA, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, memperkuat dukungan terhadap pelayanan kesehatan dan pemberdayaan…

8 jam ago