NABIRE, TOMEI.ID | Menghadapi potensi lonjakan harga dan tekanan inflasi, menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2026, Pemerintah Kabupaten Nabire mengambil langkah antisipatif untuk mengendalikan potensi tekanan inflasi daerah, khususnya yang bersumber dari komoditas pangan strategis.
Upaya ini difokuskan pada pengamanan pasokan dan stabilisasi harga komoditas pangan strategis, khususnya daging sapi dan daging babi, yang memiliki kontribusi signifikan terhadap pembentukan inflasi di Kabupaten Nabire, serta menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Pemerintah daerah melalui koordinasi lintas perangkat daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah pengendalian inflasi dengan memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat, terutama pada periode meningkatnya kebutuhan konsumsi menjelang hari besar keagamaan.
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, harga daging sapi di Kabupaten Nabire saat ini tercatat bertahan pada kisaran Rp200.000 per kilogram. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelum Natal dan Tahun Baru 2025/2026 yang masih berada pada kisaran Rp180.000 per kilogram. Pemerintah daerah memproyeksikan harga berpotensi kembali mengalami kenaikan seiring meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadhan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire, Yasor Victor, menjelaskan bahwa keterbatasan kapasitas produksi lokal menjadi faktor utama tingginya harga daging sapi di wilayah tersebut, yang memerlukan intervensi kebijakan pemerintah daerah.
“Produksi daging sapi lokal masih sangat terbatas. Rata-rata pemotongan hanya sekitar delapan ekor sapi per hari dengan total produksi kurang lebih 600 kilogram daging, sementara kebutuhan masyarakat cukup tinggi,” ujar Yasor, Kamis (22/1/2026).
Victor menambahkan, sebagian besar pasokan daging sapi lokal terserap oleh sektor usaha makanan dan minuman, seperti rumah makan, pedagang bakso, serta pelaku UMKM kuliner. Kondisi tersebut berdampak langsung pada terbatasnya pasokan di pasar tradisional, terutama menjelang momentum hari besar keagamaan.
Selain daging sapi, hasil pemantauan harga pasca Natal dan Tahun Baru yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan pada 13 Januari 2026 menunjukkan kenaikan harga pada sejumlah komoditas pangan lainnya, antara lain telur ayam ras, daging babi, ikan, dan cabai rawit. Kendati demikian, harga cabai rawit lokal saat ini mulai menunjukkan tren penurunan.
Dari sebelumnya sempat menembus Rp200.000 per kilogram pada periode Natal dan Tahun Baru, harga cabai rawit kini berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram di Pasar Kalibobo dan Pasar Bumi Raya SP1.
Sebagai langkah konkret pengendalian inflasi, Dinas Ketahanan Pangan bersama TPID Kabupaten Nabire telah melaksanakan rapat koordinasi pada 21 Januari 2026. Dalam rapat tersebut, pemerintah daerah memproyeksikan kebutuhan daging sapi selama periode Februari hingga Maret 2026 mencapai 36 hingga 40,5 ton.
“Jika hanya mengandalkan produksi lokal, kebutuhan tersebut tidak akan terpenuhi. Oleh karena itu, pemerintah daerah merekomendasikan pemasokan sapi hidup dari luar daerah, sebagai langkah strategis pengendalian inflasi daerah,” tegas Yasor.
Pemasokan sapi hidup direncanakan berasal dari sejumlah wilayah yang direkomendasikan Kementerian Pertanian, di antaranya Merauke, Manokwari, Sorong, serta daerah di luar Papua seperti Ternate dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong masuknya daging sapi beku melalui pelaku usaha yang telah menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, guna memperkuat cadangan pangan daerah strategis.
Langkah pengamanan pasokan juga disiapkan untuk komoditas daging babi yang memiliki tingkat konsumsi tinggi dan turut memberikan tekanan terhadap inflasi daerah. Pemerintah daerah merekomendasikan pemasokan dari luar daerah, khususnya Bali, dengan tetap memperhatikan persyaratan teknis serta aspek kesehatan hewan.
Berdasarkan data inflasi year-on-year, Kabupaten Nabire tercatat mengalami inflasi sebesar 55,81 persen, dan masuk dalam 10 besar daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Indonesia. Komoditas pangan menjadi salah satu penyumbang utama terhadap laju inflasi tersebut.
Selain penguatan pasokan, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire juga menyiapkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) menjelang Hari Raya Idul Fitri, termasuk GPM mandiri melalui kios pangan milik pemerintah daerah. Program ini diarahkan untuk menahan laju kenaikan harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
“Pemerintah daerah memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga agar masyarakat, khususnya umat Muslim di Kabupaten Nabire, dapat menjalankan ibadah Ramadhan dan merayakan Idul Fitri dengan tenang dan terjangkau,” pungkas Yasor. [*]
PANIAI, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan…
NABIRE, TOMEI.ID | Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Papua Tengah resmi memasuki babak baru…
NABIRE, TOMEI.ID | Menjawab keterisolasian wilayah pesisir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah meluncurkan program penyediaan…
JAYAPURA, TOMEI.ID | Laga sarat tensi akan tersaji pada lanjutan Pegadaian Championship 2025/2026 pekan ke-17.…
SURABAYA, TOMEI.ID | Front Mahasiswa Yahukimo Se-Indonesia menyatakan Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, berada dalam…
JAKARTA, TOMEI.ID | PT Freeport Indonesia (PTFI) memperingati Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (BK3N)…