Berita

Honai Tak Boleh Sunyi: Seruan Menyelamatkan Budaya Aplim Apom

JAYAPURA, TOMEI.ID | Di tengah laju zaman yang terus bergerak, budaya leluhur orang Aplim Apom di Pegunungan Bintang mulai dipanggil kembali. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan sebelum benar-benar hilang ditelan waktu.

Upaya itu mulai tampak melalui berbagai kegiatan pemerintah daerah, terutama dalam momentum keagamaan seperti perayaan Paskah. Di ruang-ruang resmi, nilai budaya perlahan dikembalikan ke tempatnya, bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai identitas.

Salah satu langkah nyata ditunjukkan oleh Bupati Pegunungan Bintang yang secara langsung menyanyikan lagu-lagu adat Aplim Apom dalam kegiatan resmi. Tindakan itu bukan sekadar simbolik, melainkan pesan bahwa budaya harus hadir, bahkan di tengah struktur pemerintahan.

Langkah ini menjadi penting di tengah kekhawatiran masyarakat. Budaya tidak lagi hilang secara tiba-tiba, ia memudar perlahan, menjauh dari generasi muda yang kian asing dengan akar mereka sendiri.

Seorang generasi muda Aplim Apom, Darki Uropmabin, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya tersebut. Ia menilai langkah pemerintah daerah menjadi contoh nyata dalam menjaga identitas.

“Saya sangat mengapresiasi bupati yang sudah mulai mewariskan budaya leluhur kepada generasi muda, baik dalam kegiatan Paskah maupun kegiatan pemerintahan,” ujarnya kepada tomei.id, Minggu (5/4/2026).

Namun, menurutnya, upaya itu tidak boleh berhenti di seremoni. Ia harus masuk ke ruang-ruang pendidikan, dari sekolah dasar hingga menengah, agar generasi muda tidak tumbuh tanpa mengenal jati dirinya.

Selain itu, perhatian juga diarahkan pada keberadaan Ap Iwol atau Honai, yang selama ini menjadi pusat pendidikan budaya masyarakat. Honai bukan sekadar bangunan tradisional, tetapi ruang hidup tempat nilai, cerita, dan identitas diwariskan.

Darki mengingatkan, jika Honai dibiarkan sunyi, maka satu generasi bisa kehilangan arah.

“Setiap keluarga dan suku harus aktifkan kembali Ap Iwol atau Honai untuk mendidik generasi muda agar tidak kehilangan jati diri sebagai orang Aplim Apom,” tegasnya.

Seruan ini menjadi penegas bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama, dari keluarga, marga, hingga seluruh komunitas adat.

Di Pegunungan Bintang, upaya itu kini mulai bergerak. Perlahan, tetapi pasti. Sebab jika budaya tidak dijaga hari ini, maka esok yang hilang bukan sekadar tradisi, melainkan identitas itu sendiri. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Panitia SAWABA IMPT KORYAL Yalimo Gelar Nobar Piala Dunia 2026 Untuk Perkuat Solidaritas Mahasiswa di Manokwari

MANOKWARI, TOMEI.ID | Panitia Pelaksana Sambut Wajah Baru (SAWABA) Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) Koordinator…

3 jam ago

TPNPB Klaim Tembak Jatuh Drone Militer Indonesia di Puncak Jaya

PUNCAK JAYA, TOMEI.ID | Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim berhasil menembak jatuh satu…

5 jam ago

Konvoi Bendera Senegal di Manokwari Suarakan Solidaritas dan Empat Tuntutan Sosial

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ratusan fans Timnas Senegal menggelar konvoi kendaraan sambil mengibarkan bendera Senegal di…

6 jam ago

Ribuan Pendukung Senegal Gelar Pawai Akbar di Nabire Jelang Laga Perdana Piala Dunia 2026

NABIRE, TOMEI.ID | Ribuan pendukung Tim Nasional Senegal memadati jalan-jalan utama Kota Nabire, Papua Tengah,…

7 jam ago

DPD KP2IT Papua Barat Siap Kawal dan Sukseskan Pesparawi Nasional XIV 2026

MANOKWARI, TOMEI.ID | Dewan Pimpinan Daerah Komite Pemuda Pembangunan Indonesia Timur Provinsi Papua Barat (DPD…

1 hari ago

Ratusan Massa Kibarkan Bendera Senegal dalam Pawai Solidaritas di Manokwari

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ratusan mahasiswa, pemuda, dan warga menggelar pawai solidaritas dengan mengibarkan bendera Senegal…

1 hari ago