Berita

IFRC 2026 Bekali 1.000 Pelajar Mimika dengan Keterampilan Keselamatan dan Pertolongan Pertama

TIMIKA, TOMEI.ID | Lebih dari 1.000 pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mengikuti edukasi keselamatan dan pertolongan pertama melalui program Safety Goes to School yang digelar pada Jumat (23/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian The 8th Indonesian Fire & Rescue Competition (IFRC) 2026.

Kegiatan yang berlangsung serentak di 10 sekolah tersebut melibatkan personel penyelamat profesional (rescuer) dari berbagai perusahaan pertambangan dan energi di Indonesia. Para pelajar mendapatkan pembekalan mengenai budaya keselamatan, penanganan keadaan darurat, bantuan hidup dasar, serta teknik pemadaman api.

Salah seorang peserta, Quenara, pelajar kelas XI SMK Negeri 1 Mimika, mengaku memperoleh pengetahuan baru tentang sumber kebakaran dan cara penanganannya. Ia juga mengikuti praktik penggunaan alat sederhana untuk menghadapi kebakaran dalam kondisi tertentu.

“Tadi pelajaran yang kita dapatkan luar biasa. Saya jadi paham sumber-sumber api dan cara memadamkannya. Bahkan, kami juga belajar menggunakan alat sederhana meski tanpa APAR (Alat Pemadam Api Ringan), misalnya untuk kebakaran yang bersumber dari dapur,” ujar Quenara dalam keterangan yang diterima tomei.id di Nabire, Senin (26/10/2026).

Vice President Mining Safety Division PTFI, Eman Widijanto, mengatakan program Safety Goes to School merupakan upaya menanamkan budaya keselamatan sejak dini kepada generasi muda di Mimika.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengenal profesi rescuer dan tim tanggap darurat (emergency response team) yang bertugas di industri nasional.

“Budaya keselamatan (safety culture) harus ditanamkan sejak usia dini. Melalui kegiatan ini, kami berharap generasi muda di Mimika memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko bahaya dan mampu menjadi agen keselamatan bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekolah,” kata Eman.

Ia menjelaskan, sebagai tuan rumah IFRC 2026, PTFI tidak hanya mendorong kompetisi tersebut sebagai ajang peningkatan kompetensi dan pertukaran pengetahuan antartim penyelamat, tetapi juga berupaya memperluas manfaat kegiatan bagi generasi muda Papua melalui edukasi keselamatan.

Dalam pelaksanaannya, para rescuer yang tergabung dalam kontingen IFRC memberikan materi secara interaktif. Para siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mengikuti demonstrasi dan praktik langsung mengenai Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan perdarahan (bleeding management), serta teknik pemadaman api.

Sepuluh sekolah yang mengikuti program tersebut ialah Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), SMK Negeri 1 Kuala Kencana, SMP YPJ Kuala Kencana, SMPIT Permata Papua, SMP Negeri 2 Timika, SMP Negeri 4 Mimika, SMA Negeri 1 Mimika, SMA Negeri 3 Kesehatan, SMA YPPK Tiga Raja, dan SMA Kristen Shining Star.

Kepala SMK Negeri 1 Mimika, Selsius Efrain Aron, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pengetahuan dasar tentang keselamatan menjadi bekal penting bagi siswa, terutama mereka yang nantinya memasuki dunia kerja.

“Pengetahuan dan pemahaman dasar seperti ini perlu mereka miliki sehingga ketika sudah bekerja, mereka bisa mengembangkannya. Selain itu, pengetahuan ini juga bermanfaat di mana saja, baik di rumah, sekolah maupun lingkungan lainnya,” kata Selsius.

Ia menambahkan, keadaan darurat dapat terjadi kapan saja dan membutuhkan respons yang tepat. Karena itu, pengetahuan mengenai keselamatan dan pertolongan pertama diharapkan membantu siswa memahami langkah awal yang perlu dilakukan ketika menghadapi insiden.

Selsius juga berharap para siswa dapat membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar sehingga kesadaran terhadap keselamatan semakin meluas.

Sementara itu, di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), tim penyelamat memberikan edukasi dan praktik mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD), CPR, serta penanganan perdarahan. Para siswa juga diperkenalkan pada langkah-langkah pertolongan pertama, mulai dari memastikan keamanan lokasi, memeriksa kondisi korban, hingga meminta bantuan medis.

Melalui program Safety Goes to School, PTFI bersama komunitas tanggap darurat Indonesia berharap generasi muda Papua semakin peduli terhadap keselamatan, mampu mengenali risiko bahaya, dan memiliki kesiapsiagaan dasar dalam menghadapi keadaan darurat. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

KPA Edukasi Anak dan Remaja Katolik di Paniai, Pencegahan HIV-AIDS Harus Dimulai Sejak Dini

PANIAI, TOMEI.ID | Pencegahan HIV-AIDS membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk keluarga dan Gereja. Edukasi sejak…

11 jam ago

Jubir Gubernur Tegaskan Poster Lomba Lukis Berhadiah Miliaran Rupiah adalah HOAX

NABIRE, TOMEI.ID | Juru Bicara (Jubir) Gubernur Papua Tengah, Emanuel You, menegaskan bahwa informasi mengenai…

18 jam ago

KP2IT Papua Barat Minta Presiden Buka Audit DBH Migas, Klaim Selisih Rp2,1 Triliun

MANOKWARI, TOMEI.ID | Polemik Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi (DBH Migas) Papua Barat…

21 jam ago

Imunisasi Campak Manokwari Sudah 91 Persen, Puluhan Kampung Belum Capai Target

MANOKWARI, TOMEI.ID | Capaian imunisasi campak dan rubela (MR) dalam penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)…

22 jam ago

SAWABA 2026 IMPT Yalimo Manokwari, Bangun Generasi Mahasiswa yang Disiplin dan Bertanggung Jawab

MANOKWARI, TOMEI.ID | Regenerasi organisasi tidak cukup hanya ditandai dengan bertambahnya anggota baru. Lebih dari…

22 jam ago

Dari Tailing hingga Konservasi Satwa, Inovasi Reklamasi Freeport Jadi Ruang Belajar Peserta IFRC 2026

TIMIKA, TOMEI.ID | Lahan bekas aktivitas pertambangan tidak selalu berakhir sebagai kawasan yang kehilangan nilai…

22 jam ago