Berita

Jembatan Gantung Sungai Minabu Mulai Terwujud, Warga Pugisiga Apresiasi Pemkab Intan Jaya

INTAN JAYA, TOMEI.ID | Pembangunan jembatan gantung di Sungai Minabu yang menghubungkan Kampung Pugisiga dan Kampung Tujimigi, Kabupaten Intan Jaya, mulai terwujud melalui keterlibatan masyarakat dan tenaga kerja lokal Kampung Pugisiga.

Pembangunan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat memperkuat akses penghubung antarkampung sekaligus mendorong pembangunan di wilayah Mbuyawaita. Proses pengerjaan dilakukan dengan mengandalkan semangat gotong royong dan keterlibatan langsung warga setempat.

Sebelum pembangunan jembatan dimulai, masyarakat Kampung Pugisiga bersama warga Kampung Kombogosiga terlebih dahulu bergotong royong membersihkan akses jalan yang menghubungkan Kampung Sakumba menuju Kampung Pugisiga.

Kepala SD Negeri Pugisiga, Setianus Yegeseni, mengatakan semangat gotong royong tersebut menunjukkan kekompakan masyarakat dalam mendukung pembangunan di wilayah Mbuyawaita.

Menurut Setianus, keterlibatan masyarakat tidak hanya dilakukan dalam membersihkan akses jalan, tetapi juga diwujudkan melalui dukungan terhadap pembangunan infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar warga.

“Awalnya masyarakat Mbuyawaita, khususnya Kampung Pugisiga dan Kampung Kombogosiga, bergotong royong membersihkan jalan dari Kampung Sakumba menuju Kampung Pugisiga sebagai bagian dari upaya mendorong pembangunan di daerah Mbuyawaita,” ujar Setianus kepada tomei.id, Jumat (2/10/2026).

Ia mengatakan masyarakat dari berbagai elemen di Kampung Pugisiga mengapresiasi perhatian pemerintah daerah terhadap aspirasi pembangunan yang selama ini disampaikan masyarakat.

Menurutnya, pembangunan jembatan gantung tersebut juga memberikan ruang bagi tenaga kerja lokal untuk terlibat secara langsung dalam pengerjaan infrastruktur di wilayah mereka.

“Kami masyarakat dari berbagai elemen Kampung Pugisiga berterima kasih kepada pemerintah daerah karena telah menjawab aspirasi masyarakat. Pembangunan jembatan gantung ini juga melibatkan tenaga kerja lokal,” jelasnya.

Setianus menegaskan, masyarakat Kampung Pugisiga tetap memiliki komitmen untuk mendukung berbagai program pembangunan daerah. Namun, ia mengakui kemampuan masyarakat dalam mengandalkan gotong royong memiliki keterbatasan, terutama untuk pembangunan fasilitas yang membutuhkan dukungan teknis dan anggaran lebih besar.

Karena itu, ia berharap pembangunan di Kampung Pugisiga tidak berhenti pada pembangunan jembatan gantung, tetapi dapat dilanjutkan dengan pembangunan sejumlah fasilitas dasar yang dibutuhkan masyarakat.

“Untuk pembangunan selanjutnya, seperti gedung gereja, SD Negeri Pugisiga, Pustu dan fasilitas lainnya, kami masyarakat dan tenaga kerja lokal sangat mendukung program pembangunan daerah yang sejalan dengan program pembangunan nasional,” katanya.

Ia menambahkan, pembangunan secara bertahap tetap dapat dilakukan dengan mengedepankan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, agar manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat secara merata dan berkelanjutan.

Menurutnya, keterbatasan tenaga maupun kemampuan masyarakat tidak seharusnya menjadi penghalang untuk terus mendorong pembangunan di wilayah tersebut, melainkan harus menjadi dorongan memperkuat semangat gotong royong warga setempat.

“Kemampuan masyarakat lokal dan berbagai elemen memang terbatas untuk mengerjakan semuanya secara gotong royong. Namun, kami percaya dengan dukungan pemerintah dan campur tangan Tuhan, pembangunan dapat dilakukan sedikit demi sedikit untuk daerah kami,” ujarnya.

Setianus berharap pembangunan fasilitas dasar di wilayah Mbuyawaita ke depan dapat dilakukan secara bertahap dengan tetap melibatkan masyarakat setempat. Keterlibatan tenaga kerja lokal dinilai penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut mengambil bagian dalam proses pembangunan.

Pembangunan jembatan gantung Sungai Minabu menjadi langkah penting untuk memperkuat konektivitas masyarakat antara Kampung Pugisiga dan Kampung Tujimigi. Kehadiran akses tersebut diharapkan dapat menunjang mobilitas warga sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi aktivitas sosial dan pelayanan dasar masyarakat antarkampung.

Di sisi lain, semangat gotong royong warga menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur di daerah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat untuk menjaga, mendukung, dan mengawal keberlanjutan pembangunan di wilayahnya. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

PASTI Kukuhkan Pengurus DPW dan DPC di Delapan Kabupaten Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Dewan Pimpinan Pusat Partai Setara Indonesia (DPP PASTI) mengukuhkan kepengurusan Dewan Pimpinan…

1 jam ago

Dari Tapak ke KTT Hukum Rakyat 2026, Empat Regio Bawa Suara Tanah, Hutan dan Wilayah Adat

JAKARTA, TOMEI.ID | Persoalan penguasaan tanah, konflik tenurial, tekanan industri ekstraktif, hingga perjuangan mempertahankan wilayah…

5 jam ago

FGD PHA Digelar, Pemprov Papua Tengah Perkuat Regulasi Perlindungan Anak di Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah mendorong penguatan kebijakan dan regulasi daerah terkait…

10 jam ago

KLB Campak Jadi Perhatian, Sidey Perkuat Persiapan Imunisasi ORI

MANOKWARI, TOMEI.ID | Pemerintah Distrik Sidey bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari dan Puskesmas Sidey memperkuat…

10 jam ago

Polda Papua Tengah Musnahkan 4,7 Gram Sabu, Pengembangan Ungkap Narapidana Lapas Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Polda Papua Tengah memusnahkan barang bukti narkotika jenis sabu seberat 4,7 gram…

10 jam ago

Agustinus Anggaibak Dorong Enam Provinsi Sepakati Definisi OAP, Perdasus Papua Tengah harus Dievaluasi

NABIRE, TOMEI.ID | Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah mendorong enam provinsi di Tanah Papua…

10 jam ago