Berita

Jumat Agung di Tanah Luka: Salib Kristus dan Jeritan Papua

WAMENA, TOMEI.ID | Jumat Agung seharusnya menjadi ruang hening untuk mengenang penderitaan Yesus Kristus. Namun di Papua, keheningan itu tidak pernah benar-benar sunyi. Ia bercampur dengan jeritan panjang tentang ketidakadilan, kekerasan, dan luka yang belum sembuh.

Dalam iman Kristiani, Yesus disalibkan di Bukit Golgota di bawah kuasa Pontius Pilatus, sebuah peristiwa yang melambangkan penderitaan, pengorbanan, dan kasih tanpa batas. Tetapi bagi sebagian orang Papua, kisah itu bukan sekadar sejarah iman. Ia terasa hidup, dekat, dan berulang dalam kenyataan sehari-hari.

Ketua Departemen Pemuda Baptis West Papua, Akia Wenda, melihat refleksi Jumat Agung sebagai cermin dari realitas yang dihadapi masyarakat Papua hari ini.

“Kematian orang Papua dengan berbagai cara, moncong senjata, pembunuhan, penyiksaan, penghinaan yang telah berlangsung lama di negeri ini. Sementara itu, sumber daya alam terus diambil. Emas, minyak, hutan, semua dikeruk, dan tanah orang Papua perlahan hilang,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Pernyataan itu bukan sekadar kritik. Ia adalah pengingat bahwa penderitaan tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi masih berlangsung dalam bentuk yang berbeda. Di tanah ini, luka tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya diwariskan dari waktu ke waktu.

Menurut Akia, Jumat Agung tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan. Ia harus menjadi panggilan moral untuk melihat kenyataan, bahkan ketika kenyataan itu terasa pahit.

“Jangan lagi ada pembunuhan, penghinaan, ketidakadilan, maupun rasisme. Jangan lagi ada perampasan tanah atas nama apa pun. Jangan ada lagi orang Papua yang mati karena kelaparan atau penyakit sosial,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun nilai kasih dari lingkup paling kecil, keluarga. Dalam pandangannya, keluarga adalah gereja yang hidup, tempat di mana damai dan kemanusiaan pertama kali dibentuk.

“Bangun dari tempat tidurmu, lihat sekelilingmu. Jadikan keluargamu gereja yang hidup. Hiduplah dalam damai dengan semua orang, seperti kasih Kristus yang telah berkorban bagi manusia,” ujarnya.

Di wilayah Hubula, Papua Pegunungan, Jumat Agung akhirnya menjadi lebih dari sekadar ritual iman. Ia berubah menjadi ruang refleksi kolektif tentang luka, tentang harapan, dan tentang masa depan yang masih diperjuangkan.

Sebab di tanah ini, salib bukan hanya simbol. Ia adalah kenyataan yang masih dipikul, dalam sunyi luka panjang yang tak kunjung sembuh. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

RUA Ke-XIII IMYAL Yalimo Manokwari Resmi Dibuka, Tegaskan Persatuan dan Regenerasi Mahasiswa Papua

MANOKWARI, TOMEI.ID | Semangat persaudaraan, solidaritas, dan regenerasi kepemimpinan mahasiswa mewarnai pembukaan Rapat Umum Anggota…

5 jam ago

IMPT Yahukimo Manokwari Resmi Lantik Pengurus Baru, Tegaskan Komitmen Bangun Mahasiswa Disiplin dan Berkualitas

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) Koordinator Wilayah Kabupaten Yahukimo di Kota Studi…

6 jam ago

HIPMI Papua Pegunungan Resmi Lantik Bakorda HIPMI PT, Siapkan Mahasiswa Jadi Pengusaha Tangguh dari Tanah Papua

WAMENA, TOMEI.ID | Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Papua Pegunungan resmi melantik Badan Koordinasi Daerah…

6 jam ago

Pemprov Papua Tengah Gandeng Kejati Papua Kawal Proyek Strategis, Perkuat Benteng Hukum Pembangunan Daerah

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah resmi memperkuat sinergi dengan Kejaksaan Tinggi Papua…

6 jam ago

BKPSDM Papua Tengah Resmi Umumkan Kelulusan Bimbel Kedinasan 2025/2026, Ratusan Putra-Putri OAP Siap Tempur Rebut Sekolah Kedinasan Nasional

NABIRE, TOMEI.ID | Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Provinsi Papua Tengah resmi…

6 jam ago

Pemprov Papua Siapkan 10 Sapi Kurban Bantuan Presiden Prabowo untuk Papua dan 9 Kabupaten/Kota

JAYAPURA, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi Papua menyiapkan penyaluran 10 ekor sapi kurban bantuan Presiden Republik…

8 jam ago