Berita

Kemarau Lima Bulan, Air Kali Bedu Siriwo Berubah Keruh, Pdt. Obeth Magai: Fenomena Ini Belum Pernah Terjadi

NABIRE, TOMEI.ID | Kondisi Kali Degeuwa atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kali Bedu di Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mengalami perubahan warna dan tingkat kejernihan air dalam sekitar lima bulan terakhir, yang kini menjadi perhatian serius warga di sepanjang aliran sungai tersebut.

Fenomena tersebut menjadi perhatian masyarakat setempat karena kondisi air kali dinilai berbeda dari keadaan yang selama ini mereka kenal dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap perubahan lingkungan dan keberlangsungan ekosistem di wilayah Siriwo.

Perubahan itu terlihat terutama dalam periode kemarau panjang yang berlangsung beberapa bulan terakhir. Air yang sebelumnya dikenal tetap jernih, bahkan ketika debit sungai menurun akibat kemarau, kini tampak keruh dengan kondisi yang menurut masyarakat belum pernah mereka saksikan dalam waktu yang panjang.

Intelektual setempat, Pdt. Obeth Magai, mengatakan perubahan kondisi Kali Bedu tersebut merupakan fenomena yang belum pernah ia lihat sebelumnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan masyarakat setempat. Menurutnya, karakter aliran Kali Siriwo telah dikenal masyarakat selama ratusan hingga ribuan tahun melalui pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari pengamatannya, perubahan kondisi air telah berlangsung sekitar lima bulan dan terjadi bersamaan dengan periode kemarau panjang yang belakangan melanda wilayah tersebut.

“Kali Siriwo ini dari dulu, dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, sampai beberapa bulan lalu, walaupun kemarau, air kali ini tetap jernih. Tetapi sekarang, setelah kemarau berlangsung sekitar lima bulan, baru kali ini air Kali Bedu berubah menjadi keruh,” ujar Obeth Magai saat turun langsung mengamati kondisi Kali Bedu pada Senin (5/10/2026).

Ia mengatakan perubahan kondisi air saat ini berbeda dengan peristiwa banjir besar yang pernah terjadi di wilayah Siriwo pada 1982. Berdasarkan ingatan masyarakat setempat, peristiwa banjir tersebut tidak membuat air kali berada dalam kondisi keruh dalam waktu panjang sebagaimana yang terlihat sekarang.

Menurut Obeth, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena masyarakat belum mengetahui secara pasti faktor yang menyebabkan perubahan warna dan kejernihan air Kali Bedu. Warga memilih terus mengamati perkembangan kondisi sungai sambil berharap perubahan tersebut tidak berdampak terhadap lingkungan maupun kehidupan masyarakat yang berada di sekitar aliran kali.

Secara ekologis, perubahan warna dan tingkat kejernihan air sungai dapat berkaitan dengan berbagai faktor lingkungan, seperti peningkatan material sedimen, erosi tanah, perubahan debit aliran, maupun masuknya material dari kawasan sekitar daerah aliran sungai.

Meski demikian, faktor penyebab perubahan kondisi Kali Bedu hingga kini belum dapat dipastikan tanpa pengamatan dan kajian ilmiah lebih lanjut untuk memastikan sumber perubahan serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

“Kami masyarakat prihatin karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Kami berharap kondisi Kali Siriwo bisa kembali seperti sebelumnya,” katanya.

Obeth menilai fenomena tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem sungai di wilayah Siriwo, sekaligus mendorong pengamatan serius terhadap perubahan kondisi air yang terjadi saat ini.

Menurutnya, pengamatan secara berkala penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi air sekaligus memastikan apakah perubahan tersebut hanya bersifat sementara atau berkaitan dengan perubahan lingkungan yang lebih luas.

Masyarakat berharap Kali Siriwo yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan warga dan ekosistem setempat dapat kembali pada kondisi normal. Warga juga menginginkan kelestarian alam tetap terjaga sehingga perubahan yang terjadi tidak berkembang menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar.

“Harapan kami, Kali Siriwo kembali seperti dahulu, airnya bersih dan lingkungan tetap terjaga. Semoga apa yang terjadi ini membawa perubahan yang baik dan menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan,” ujar Obeth. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

Bupati Yahukimo Nyatakan Bantuan Mahasiswa di Manokwari Dihentikan, Pemkab Diminta Jelaskan Dasar Kebijakan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Persoalan lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang masih bertahan di…

1 jam ago

Dua Hari Bertahan di Gereja, Mahasiswa Yahukimo Tunggu Respons Pemkab soal Hunian

MANOKWARI, TOMEI.ID | Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang sedang menempuh pendidikan di Kota Manokwari…

12 jam ago

Mahasiswa Yahukimo di Jayapura Desak Pemkab Bangun Asrama bagi Mahasiswa di Manokwari

JAYAPURA, TOMEI.ID | Mahasiswa Yahukimo yang berada di Kota Studi Jayapura mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo…

13 jam ago

Himaku Kehutanan UNIPA Resmi Dibentuk, Mahasiswa Siapkan Program Lingkungan dan Pengabdian

MANOKWARI, TOMEI.ID | Mahasiswa Program Studi S1 Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA), resmi membentuk…

16 jam ago

KNPB Nabire Gelar Pendidikan Politik bagi Sektor Yamewa, Bahas Sejarah dan Struktur Organisasi

NABIRE, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Nabire menggelar pendidikan politik bagi anggota…

2 hari ago

Hadapi KLB Campak, Puskesmas Mokwam Siapkan ORI dan Kejar Cakupan 95 Persen

MANOKWARI, TOMEI.ID | Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat…

2 hari ago