Berita

Kian Tinggal Nama, Timo Mote Kiper Legendaris Persiwa Wamena dari Deiyai

Oleh: Yeremias Edowai

“Kutuliskan ini sebagai tanda rindu dan hormat untuk Kaka Timo Mote. Kiper andalan yang pernah menggemparkan Papua. Semasa kecil, saya hanya menyaksikannya lewat televisi tua, tak pernah secara langsung. Kini yang tersisa hanyalah potongan video lama yang masih bisa kutonton.”

Kabut tipis yang turun perlahan di Lembah Baliem seolah menyimpan gema suara masa lalu. Udara pegunungan yang dingin, rumput basah Stadion Pendidikan Wamena, dan sorak-sorai yang pernah mengguncang langit. Semua itu pernah menjadi saksi berdirinya seorang lelaki sederhana dari tepian Danau Tigi.

Namanya Timotius Mote.

Para pecinta sepak bola Papua mengenalnya sebagai Timo, sosok yang kini tinggal nama, namun tak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Ia bukan sekadar penjaga gawang. Ia adalah nyala obor harapan bagi anak-anak pegunungan Papua, berdiri teguh di bawah mistar sebagai penjaga martabat.

Anak Danau Tigi yang Menatap Langit

Timo lahir pada 22 Agustus 1976 di Kampung Okomo, Deiyai. Tanah Ekari yang keras membentuk mentalnya menjadi kuat. Angin dari Danau Tigi, sunyi yang panjang, dan alam yang tak mudah ditaklukkan membesarkan seorang anak dengan mimpi sederhana: menjaga gawang, menjaga harapan, menjaga kebanggaan kampung halamannya.

Tak ada gemerlap akademi elite. Tak ada lapangan rumput sempurna. Yang ada hanyalah tekad dan keberanian. Tak banyak yang menyangka anak dari lembah berkabut itu kelak berdiri di panggung sepak bola nasional, mengenakan seragam abu-abu hijau kebanggaan Badai Pegunungan Persiwa Wamena.

Di kota Wamena, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah identitas. Ia adalah harga diri. Ia adalah suara masyarakat pegunungan. Dan di bawah mistar, Timo menjadi penjaganya.

Era Indonesia Super League 2008/2009 menjadi masa ketika namanya benar-benar bersinar. Namun Timo tak pernah merasa dirinya bintang. Ia hanya penjaga; Penjaga gawang, Penjaga harga diri. Penjaga mimpi ribuan orang Papua Pegunungan kala itu.

Di bawah mistar, ia bukan sekadar pemain, ia benteng terakhir. Ketika serangan datang bertubi-tubi dan napas penonton tertahan, ketika stadion seolah berhenti berdetak, Timo tetap berdiri. Tatapannya tajam. Sarung tangannya terangkat. Tubuhnya tegang menantang arah bola. Seolah ia berbisik kepada dirinya sendiri.

Bola ini tak boleh lewat. Salah satu laga yang terus dikenang adalah saat Persiwa menghadapi Persiba Balikpapan. Serangan demi serangan menghujani gawang. Bola datang dari segala arah. Namun Timo menepis si kulit bundar seakan ringan tak berarti Terbang, Bangkit, Menepis lagi.

Tubuhnya jatuh bangun di atas rumput dingin Wamena dan stadion lawan. Ia rela memeluk tanah demi satu hal: jangan biarkan harapan runtuh. Stadion bergemuruh; Suporter berteriak, Sebagian menangis haru. Dan malam itu, Timo menjadi pahlawan, tanpa pernah meminta pujian.

Meski sempat memperkuat Perseman Manokwari dan Persiter Ternate, jiwanya seakan tertinggal di Wamena. Di kota pegunungan itu, ia bukan hanya pemain. Ia simbol ketangguhan anak Papua.
Simbol ketekunan dari wilayah yang jauh dari sorotan.
Simbol bahwa legenda bisa lahir dari tepian danau yang sunyi. Anak-anak menirukan gaya lompatannya.
Remaja meniru keberaniannya. Dan para orang tua menyebut namanya dengan bangga.

Senja yang Datang Tanpa Peluit Panjang

Namun hidup tak selalu diiringi sorak-sorai. Kabar duka datang seperti senja yang perlahan memadamkan cahaya tanpa gegap gempita, tanpa peluit panjang penutup pertandingan. Timo mengembuskan napas terakhir di RSUD Nabire pada Rabu (8/1/2014) sekitar pukul 18.00 WIT setelah berjuang melawan sakit yang lama ditanggung dalam diam. Kepergiannya meninggalkan kesunyian yang dalam. Sepak bola Papua Pegunungan kehilangan penjaga mistar andalannya. Lembah Baliem kehilangan salah satu anak terbaiknya. Deiyai kehilangan putra yang pernah membuat namanya bergema ke seluruh negeri.

Ruang Kosong di Bawah Mistar

Kesunyian itu terasa semakin nyata saat pembukaan Liga 4 Regional Papua Pegunungan 2026. All Star Persiwa menghadapi All Star Persipura Jayapura. Para legenda berkumpul, nostalgia berpendar di udara dingin. Namun di bawah mistar, ada ruang kosong yang tak tergantikan. Tak ada lagi sosok tinggi berdiri dengan sarung tangan kebanggaannya.
Tak ada lagi teriakan khas mengatur lini belakang.
Tak ada lagi lompatan heroik menyambut bola udara.
Hanya kenangan yang berdiri di sana; Diam, Sunyi, dan Menggigil.

Namun cahaya obor yang pernah ia nyalakan tidak padam. Generasi baru lahir, termasuk talenta muda seperti Jhon Ronny Pigai dari Wamena, yang tumbuh dalam terang warisan semangat para legenda.

Kini Persiwa bertransformasi menjadi Wamena United. Waktu terus berjalan. Generasi berganti. Stadion mungkin berubah. Namun nama Timo Mote tetap hidup. Ia hidup dalam ingatan suporter.
Dalam cerita para tetua. Dalam kisah yang dibisikkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mungkin suatu hari yang tersisa hanyalah nama. Namun bagi Lembah Baliem, bagi Deiyai, bagi mereka yang pernah menyaksikannya terbang di bawah mistar. Timo tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat. Dari bawah mistar gawang, menuju ruang kenangan yang tak akan pernah usai. Dan di setiap bola yang ditepis kiper muda Papua,
di setiap sorak dari tribun pegunungan, di setiap mimpi anak-anak yang bermain di tanah dingin Wamena semangat Timo Mote tetap hidup. [*].

)* Penulis adalah mahasiswa olahraga Universitas Cenderawasih Jayapura sekaligus jurnalis di tomei.id.

Redaksi Tomei

Recent Posts

Duel Anak Papua di Sleman: Ferry Pahabol vs Terens Puhiri, Penentu Puncak Klasemen Liga 2

JAYAPURA, TOMEI.ID | Laga pekan ke-20 Pegadaian Championship Liga 2 2025/2026 dipastikan menghadirkan duel krusial…

5 jam ago

RSP Desak Presiden Segera Jalankan Rekomendasi DPD RI Papua untuk Hentikan Krisis Kemanusiaan

JAYAPURA, TOMEI.ID | Rumah Solidaritas Papua (RSP) menyatakan situasi di Tanah Papua berada dalam kondisi…

12 jam ago

Meriah! Barongsai Papua Golden Tiger Semarakkan Imlek 2026 di Jayapura, Tegaskan Olah Raga Budaya Pemersatu

JAYAPURA, TOMEI.ID | Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Vihara Arya Dharma, Jalan Raya Abepura–Entrop,…

12 jam ago

Imlek 2577 Kongzili Dirayakan Meriah di Vihara Arya Dharma, Harmoni Lintas Iman Semarakkan Jayapura

JAYAPURA, TOMEI.ID | Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Vihara Arya Dharma, Jalan Raya…

13 jam ago

Pengurus DPW PBB Se-Papua Raya Dilantik, Ketua Umum Instruksikan Konsolidasi Total Hadapi Pemilu 2029

JAYAPURA, TOMEI.ID | Dengan semangat konsolidasi politik dan penguatan struktur organisasi, pengurus Dewan Pimpinan Wilayah…

14 jam ago

Kapiraya Membara, Suara Ibu Jadi Alarm Konflik Tapal Batas Mimika–Deiyai

NABIRE, TOMEI.ID | Bentrokan antar kelompok warga di Kampung Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten…

1 hari ago