Berita

Klaim TPNPB Rampas Senjata Api di Beoga, Aparat Diminta Tidak Menyasar Warga Sipil

PUNCAK, TOMEI.ID | Manajemen Markas Pusat Komite Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (KOMNAS TPNPB) mengklaim telah terjadi perampasan satu pucuk senjata api milik aparat keamanan Indonesia di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak.

Klaim tersebut disampaikan melalui siaran pers kedua yang diterima tomei.id, pada Sabtu (17/1/2026), dari Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB, dan disebarkan kepada sejumlah media.

Dalam keterangan tertulis itu, juru bicara TPNPB menyebutkan peristiwa yang diklaim terjadi pada Jumat (16/1/2026) sekitar pukul 11.00 WIT di Kampung Milawak, tepatnya di depan sebuah kios. Senjata api yang diklaim dirampas disebut berjenis SS2 dan dinyatakan sebagai milik aparat militer Indonesia.

TPNPB mengklaim senjata tersebut dirampas oleh seorang anggota yang mereka sebut bernama Agai Kulla. Dalam pernyataan yang sama, TPNPB menyatakan bahwa senjata api tersebut kini berada dalam penguasaan mereka dan telah diamankan di salah satu markas.

Masih dalam siaran pers tersebut, TPNPB meminta aparat keamanan Indonesia agar tidak melakukan operasi penegakan hukum yang berpotensi berdampak terhadap warga sipil di Distrik Beoga dan wilayah Kabupaten Puncak.

Salah satu pimpinan TPNPB yang dikutip dalam pernyataan itu menyatakan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas klaim peristiwa tersebut, sekaligus menyerukan konsolidasi internal kepada anggota TPNPB di berbagai wilayah Papua.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak TNI maupun aparat keamanan Indonesia terkait kebenaran klaim perampasan senjata tersebut. Sebelumnya, aparat keamanan menyatakan bahwa setiap kegiatan pengamanan di wilayah rawan konflik dilakukan dalam rangka menjaga stabilitas keamanan dan melindungi masyarakat sipil.

Situasi keamanan di wilayah pegunungan Papua kerap diwarnai klaim sepihak dan perang informasi. Karena itu, setiap pernyataan dari pihak yang terlibat konflik perlu diverifikasi secara independen.

Konflik bersenjata yang berlangsung di Papua selama bertahun-tahun telah berdampak luas terhadap warga sipil, termasuk pengungsian, keterbatasan akses layanan dasar, serta trauma berkepanjangan. Sejumlah pihak terus mendorong pendekatan dialog dan perlindungan warga sipil sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

61 ASN Papua Tengah Ikuti Uji Kompetensi PBJ dan PPK, Perkuat Tata Kelola Pengadaan yang Profesional dan Berintegritas

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memperkuat tata kelola pengadaan barang dan jasa…

22 menit ago

Gubernur Papua Tengah Buka Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa, Tekankan Profesionalisme dan Integritas Aparatur

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa melalui Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda…

1 jam ago

Retreat Level Up Resmi Dibuka, Pemprov Papua Tengah Dorong Lahirnya Pemimpin Kristen Berkarakter dan Bersatu

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah resmi membuka kegiatan Retreat Level Up bertajuk…

2 jam ago

Pemprov Papua Tengah Perkuat Akses Bantuan Hukum bagi Masyarakat Miskin dan Kelompok Rentan

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memperkuat komitmen memperluas akses bantuan hukum bagi…

6 jam ago

Gubernur Meki Nawipa: Hari Anak Nasional Harus Jadi Titik Balik Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak di Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42…

7 jam ago

Melian Obaipa: Dari Pelosok Siriwo Menembus Mimpi, Tukang Ojek yang Menjadi Juara Bahasa Inggris

Di saat sebagian besar pelajar menikmati masa liburan, Melian Obaipa justru menghabiskan waktunya di atas…

9 jam ago