Oleh: Yudas Degei
Pendidikan adalah hak setiap anak, di mana pun ia dilahirkan dan dalam kondisi sosial maupun geografis seperti apa pun ia tumbuh. Namun, persoalan pendidikan tidak berhenti pada tersedianya sekolah, guru, buku pelajaran, atau ruang kelas. Pendidikan akan benar-benar bermakna apabila pengetahuan yang diberikan mampu berhubungan dengan kehidupan nyata peserta didik. Di sinilah persoalan kurikulum menjadi penting untuk dibicarakan. Kurikulum yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pendidikan secara luas memang diperlukan sebagai kerangka bersama, tetapi penerapannya tidak selalu dapat diseragamkan secara kaku.
Setiap daerah memiliki kondisi alam, bahasa, kebudayaan, sejarah, mata pencaharian, kebiasaan sosial, serta tantangan kehidupan yang berbeda. Anak yang tumbuh di tengah hutan, sungai, gunung, pesisir, kampung, maupun perkotaan tentu memiliki pengalaman hidup yang tidak sama. Karena itu, pendidikan seharusnya mampu menjembatani pengetahuan umum dengan realitas kehidupan yang benar-benar dikenal oleh anak.
Kurikulum tidak semestinya dipahami sebagai seperangkat aturan yang hanya dibaca, diterapkan, lalu selesai. Kurikulum harus menjadi pedoman yang dapat diterjemahkan secara kontekstual oleh guru sesuai kebutuhan peserta didik dan karakter lingkungan sekolahnya. Yang paling dekat dengan kehidupan anak di ruang pendidikan sehari-hari adalah guru. Guru melihat bagaimana anak belajar, memahami bahasa yang mereka gunakan, mengetahui kesulitan yang mereka hadapi, serta mengenali potensi yang dapat dikembangkan.
Karena itu, guru membutuhkan ruang profesional untuk memilih metode, contoh, bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi setempat, selama tetap berada dalam tujuan dan kerangka pendidikan yang ditetapkan. Dengan demikian, persoalannya bukan menolak kurikulum nasional atau menggantinya dengan aturan yang dibuat sendiri, melainkan memastikan bahwa kurikulum tidak berhenti sebagai dokumen di atas kertas, tetapi benar-benar hidup di ruang kelas dan berhubungan dengan kehidupan anak.
Mengapa Kurikulum dari Jauh Tidak Selalu Sesuai?
Kurikulum yang disusun tanpa cukup memahami kenyataan di lapangan dapat diibaratkan seperti peta yang dibuat tanpa pernah melihat secara langsung wilayah yang hendak dipetakan. Peta tersebut mungkin terlihat rapi, sistematis, dan lengkap ketika dibaca dari sebuah ruangan, tetapi belum tentu mampu menggambarkan seluruh keadaan yang ditemui seseorang ketika benar-benar berjalan di wilayah tersebut. Demikian pula dengan pendidikan. Sebuah materi pelajaran dapat dirancang dengan tujuan yang baik, tetapi ketika contoh, bahasa, metode, dan konteksnya terlalu jauh dari pengalaman anak, proses belajar dapat kehilangan kedekatan dengan kehidupan mereka. Karena itu, kebijakan pendidikan perlu memiliki kerangka yang jelas, tetapi penerapannya harus memperhitungkan kondisi nyata sekolah dan masyarakat.
Anak-anak yang tumbuh di daerah dengan lingkungan alam yang kaya akan hutan, sungai, gunung, dan tanah pertanian, misalnya, sebenarnya memiliki laboratorium pendidikan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka. Mereka dapat mempelajari ilmu lingkungan melalui sungai yang mereka lihat setiap hari, mengenal tumbuhan melalui hutan di sekitar kampung, mempelajari perubahan cuaca melalui pengalaman masyarakat, serta memahami pentingnya menjaga alam melalui kehidupan sehari-hari.
Namun, apabila seluruh contoh pembelajaran hanya berbicara mengenai gedung tinggi, jalan raya perkotaan, pusat perbelanjaan, atau kehidupan masyarakat yang sama sekali tidak mereka kenal, anak dapat mengalami jarak antara apa yang dipelajari dengan apa yang mereka lihat. Bukan berarti contoh dari daerah lain tidak penting, tetapi contoh tersebut perlu dihubungkan dengan pengalaman lokal agar pengetahuan berkembang dari sesuatu yang dikenal menuju sesuatu yang lebih luas.
Demikian pula dalam kehidupan sosial dan kebudayaan. Banyak masyarakat di daerah masih memegang kuat nilai kekeluargaan, gotong royong, penghormatan terhadap orang tua, tanggung jawab terhadap komunitas, serta kebiasaan menyelesaikan persoalan melalui hubungan sosial. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar kebiasaan masyarakat, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai etika, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, dan kehidupan bersama.
Pendidikan akan menjadi lebih kuat apabila nilai-nilai positif yang hidup dalam masyarakat tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari sekolah. Sebaliknya, nilai tersebut dapat dijadikan pintu masuk untuk memperkenalkan pengetahuan yang lebih luas, sehingga anak tidak merasa bahwa sekolah mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan yang mereka kenal di rumah.
Anak-anak juga tidak selalu mengenal dunia melalui buku. Sebagian besar pengalaman awal mereka justru diperoleh melalui cerita orang tua, pengalaman di kampung, kegiatan bersama masyarakat, perjalanan, pekerjaan keluarga, lingkungan alam, serta percakapan sehari-hari. Karena itu, metode pembelajaran yang hanya mengandalkan hafalan dan teks dapat membatasi kesempatan anak untuk memahami pengetahuan melalui pengalaman. Buku tetap penting, tetapi buku seharusnya menjadi salah satu jembatan menuju pemahaman, bukan satu-satunya sumber pengalaman belajar. Ketika anak dapat melihat, bertanya, mengamati, mencoba, berdiskusi, dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupannya sendiri, pengetahuan akan memiliki makna yang lebih kuat.
Jika jarak antara pelajaran dan kehidupan terlalu jauh, anak dapat belajar hanya untuk memenuhi tuntutan ujian. Mereka menghafal jawaban, menyelesaikan tugas, memperoleh nilai, kemudian perlahan melupakan apa yang telah dipelajari karena pengetahuan tersebut tidak menjadi bagian dari pengalaman hidup mereka. Pendidikan yang demikian berisiko menghasilkan pengetahuan yang hanya tersimpan dalam ingatan jangka pendek, bukan kemampuan yang digunakan untuk memahami dan menyelesaikan persoalan kehidupan. Pendidikan yang bermakna seharusnya membantu anak memahami dunia sekaligus memahami dirinya sendiri dan lingkungan tempat ia hidup.
Guru Adalah Orang yang Paling Dekat dengan Anak Didiknya
Guru bukan sekadar penyampai isi buku atau pelaksana teknis kurikulum. Guru merupakan pihak yang setiap hari berhadapan langsung dengan peserta didik, sehingga memiliki kesempatan untuk mengamati perkembangan mereka secara terus-menerus. Guru dapat melihat anak yang cepat memahami pelajaran, anak yang membutuhkan penjelasan berulang, anak yang lebih mudah belajar melalui praktik, maupun anak yang memiliki potensi tertentu tetapi belum mendapatkan ruang untuk berkembang. Pengetahuan semacam ini tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui laporan administrasi atau dokumen kurikulum. Ia tumbuh dari pengalaman guru berada bersama anak-anak di ruang kelas.
Guru juga memahami bahasa yang digunakan anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks masyarakat yang memiliki bahasa daerah yang kuat, bahasa tersebut dapat menjadi jembatan untuk membantu anak memahami konsep sebelum mereka diperkenalkan secara lebih luas kepada bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Penggunaan bahasa lokal secara tepat bukan berarti menutup anak dari bahasa nasional. Justru bahasa yang telah mereka kuasai dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas kemampuan komunikasi. Anak dapat belajar dari sesuatu yang sudah dipahami, kemudian bergerak menuju pengetahuan yang lebih luas dengan rasa percaya diri yang lebih baik.
Guru mengetahui kapan peserta didik lebih mudah berkonsentrasi, metode apa yang membuat mereka aktif, serta bentuk pembelajaran apa yang membuat mereka cepat kehilangan perhatian. Setiap kelompok anak memiliki karakter yang tidak selalu sama. Karena itu, pendekatan pembelajaran tidak seharusnya sepenuhnya kaku. Ada anak yang lebih mudah memahami melalui gambar, ada yang melalui praktik, ada yang melalui cerita, dan ada pula yang berkembang melalui diskusi maupun kegiatan kelompok. Profesionalitas guru justru terlihat ketika ia mampu membaca kebutuhan tersebut dan menerjemahkan tujuan pembelajaran ke dalam metode yang sesuai.
Guru juga berada di tengah masyarakat dan memahami nilai-nilai yang hidup di lingkungan tempat sekolah berada. Sopan santun, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab terhadap lingkungan, serta nilai budaya yang positif dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan. Anak tidak hanya belajar mengenai nilai tersebut melalui definisi, tetapi dapat menghidupinya melalui kegiatan nyata di sekolah. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak berhenti pada tulisan di buku, melainkan terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Selain itu, guru dapat menggunakan kekayaan lingkungan sebagai sumber belajar. Sungai dapat menjadi tempat mempelajari lingkungan dan ekosistem. Kebun dapat menjadi ruang belajar matematika, ilmu pengetahuan, dan kewirausahaan. Perjalanan masyarakat dapat menjadi contoh untuk memahami jarak, waktu, dan kondisi geografis. Cerita rakyat dapat menjadi bahan pembelajaran bahasa, sejarah, dan nilai moral. Dengan cara tersebut, lingkungan sekitar sekolah tidak lagi hanya menjadi latar tempat anak belajar, tetapi berubah menjadi bagian dari proses pendidikan itu sendiri.
Bagaimana Guru Menyesuaikan Kurikulum?
Menyesuaikan kurikulum tidak berarti guru membuat aturan pendidikan sendiri atau menolak standar yang telah ditetapkan. Penyesuaian berarti guru menerjemahkan tujuan pembelajaran ke dalam konteks yang lebih dekat dengan peserta didik. Standar kompetensi dan tujuan pendidikan tetap menjadi pedoman, sementara contoh, metode, kegiatan, bahan ajar, dan pendekatan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah. Dengan cara inilah pendidikan dapat memiliki dua kaki sekaligus: satu kaki berpijak pada standar pendidikan yang lebih luas, sedangkan kaki lainnya berdiri kuat di atas realitas masyarakat tempat anak tumbuh.
Dalam pembelajaran alam dan lingkungan, misalnya, guru tidak harus selalu memulai dengan contoh hutan yang berada jauh dari kehidupan peserta didik. Guru dapat mengajak anak mengenal pohon yang tumbuh di sekitar sekolah, mengamati sungai, mengenali perubahan lingkungan, mempelajari manfaat hutan, serta mendiskusikan cara menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Anak tidak hanya membaca bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi melihat langsung akibat ketika lingkungan rusak dan memahami manfaat ketika lingkungan dirawat.
Dalam pembelajaran bahasa dan komunikasi, guru dapat menggunakan cerita rakyat, pengalaman masyarakat, percakapan sehari-hari, pepatah, sejarah kampung, dan bahasa daerah sebagai bahan awal pembelajaran. Anak dapat diminta menceritakan kembali pengalaman mereka, menulis kisah dari lingkungan tempat tinggal, melakukan wawancara sederhana dengan orang tua atau tokoh masyarakat, kemudian mengubah hasil wawancara tersebut menjadi tulisan dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, kemampuan berbahasa berkembang tanpa harus memutus hubungan anak dengan identitas dan pengalaman lokalnya.
Dalam pembelajaran kehidupan sosial dan budi pekerti, guru dapat mengajarkan nilai melalui praktik. Anak belajar bagaimana menyapa orang yang lebih tua, bekerja bersama teman, menyelesaikan perbedaan pendapat, menjaga kebersihan lingkungan, membantu sesama, serta bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Nilai karakter tidak hanya disampaikan sebagai definisi yang harus dihafal, tetapi dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Di sinilah sekolah dapat menjadi ruang latihan kehidupan sosial yang nyata.
Dalam pembelajaran matematika dan pengetahuan dasar, guru dapat menggunakan aktivitas masyarakat sebagai contoh. Anak dapat belajar menghitung melalui hasil kebun, mengukur lahan, menghitung jarak perjalanan, membandingkan berat hasil bumi, menghitung waktu perjalanan, atau membuat pencatatan sederhana mengenai kebutuhan keluarga dan kegiatan masyarakat. Konsep matematika tetap sama, tetapi pintu masuknya menjadi lebih dekat dengan kehidupan anak. Ketika angka memiliki hubungan dengan sesuatu yang mereka lihat dan lakukan, pembelajaran dapat terasa lebih masuk akal dan mudah dipahami.
Sementara dalam pembelajaran sejarah dan identitas, anak perlu memiliki kesempatan mengenal sejarah daerahnya sendiri. Mereka dapat mempelajari asal-usul nama kampung, cerita perjalanan masyarakat, tokoh-tokoh lokal, perubahan kehidupan masyarakat, serta berbagai peristiwa yang membentuk identitas daerah. Pengetahuan tentang sejarah lokal tidak dimaksudkan untuk menggantikan sejarah nasional, melainkan menjadi dasar agar anak memahami bahwa dirinya juga merupakan bagian dari perjalanan sejarah yang lebih besar. Anak yang mengetahui asal-usulnya memiliki pijakan yang lebih kuat ketika kemudian diperkenalkan kepada sejarah bangsa dan dunia.
Dengan pendekatan tersebut, ilmu pengetahuan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang datang dari tempat yang jauh dan harus diterima tanpa hubungan dengan kehidupan. Anak dapat melihat bahwa pelajaran yang ada di sekolah sebenarnya memiliki hubungan dengan apa yang mereka lihat di rumah, di kampung, di kebun, di sungai, di lingkungan sosial, maupun dalam kehidupan keluarga. Dari titik itulah rasa ingin tahu dapat tumbuh. Anak belajar bukan semata-mata karena takut mendapatkan nilai rendah, tetapi karena memahami bahwa pengetahuan memiliki manfaat bagi kehidupannya.
Bukan Menolak Standar, Melainkan Membuat Ilmu Lebih Hidup
Perlu ditegaskan bahwa gagasan mengenai penyesuaian kurikulum bukan berarti menolak standar pendidikan. Setiap anak tetap memiliki hak untuk memperoleh kemampuan dasar yang berkualitas, termasuk membaca, menulis, berhitung, berpikir kritis, memahami kehidupan sosial, mengenal bangsa dan negaranya, serta memiliki kemampuan untuk menghadapi perubahan zaman. Standar bersama tetap diperlukan agar tidak terjadi kesenjangan hak pendidikan antardaerah. Namun, kesamaan tujuan tidak harus selalu berarti kesamaan cara dalam mencapai tujuan tersebut. Justru di sinilah ruang profesional guru menjadi penting.
Seperti air yang mengalir menuju tempat yang lebih rendah, arahnya dapat sama, tetapi jalannya menyesuaikan bentuk tanah yang dilewati. Demikian pula pendidikan. Tujuan akhirnya adalah membentuk manusia yang berpengetahuan, memiliki karakter, mampu berpikir, mampu bekerja, mampu hidup bersama orang lain, dan memiliki kemampuan menghadapi masa depan. Akan tetapi, jalan menuju tujuan tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Anak yang hidup di daerah terpencil tidak harus dipaksa belajar dengan contoh yang sepenuhnya berasal dari kehidupan kota. Sebaliknya, anak di perkotaan juga membutuhkan pembelajaran yang sesuai dengan tantangan kehidupan mereka. Konteks boleh berbeda, tetapi mutu dan tujuan pendidikan harus tetap dijaga.
Jika pendidikan diterapkan secara seragam tanpa cukup memperhatikan kenyataan lokal, ada risiko anak merasa bahwa kehidupan yang mereka jalani tidak memiliki nilai. Mereka dapat melihat budaya sendiri sebagai sesuatu yang tertinggal, memandang pekerjaan orang tua sebagai sesuatu yang kurang penting, atau menganggap bahwa masa depan hanya tersedia jika mereka meninggalkan daerah asal. Persoalan seperti ini perlu diperhatikan karena pendidikan seharusnya membuka cakrawala anak, bukan membuat mereka merasa harus memutus hubungan dengan identitasnya agar dianggap maju.
Pendidikan juga seharusnya tidak hanya mengajarkan anak untuk pergi jauh, tetapi membekali mereka agar mampu memilih dengan sadar ke mana mereka ingin melangkah. Jika seorang anak kemudian memilih melanjutkan pendidikan atau bekerja di kota lain, ia harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Namun, apabila ia kembali ke kampung dan membangun daerahnya sendiri, pendidikan yang diperolehnya juga harus dapat digunakan untuk menjawab persoalan di daerah tersebut. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi jalan mobilitas individu, tetapi juga dapat menjadi kekuatan untuk memperkuat masyarakat.
Sebaliknya, ketika guru diberi ruang untuk mengaitkan pembelajaran dengan lingkungan dan kebudayaan setempat, anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang lebih kuat mengenai siapa dirinya. Ia dapat mengenal dunia modern tanpa merasa harus membenci tradisinya. Ia dapat menguasai ilmu pengetahuan tanpa kehilangan bahasa dan kebudayaannya. Ia dapat bermimpi menjadi dokter, guru, insinyur, atlet, peneliti, pengusaha, aparatur negara, atau profesi lainnya, tetapi tetap memahami bahwa ilmu yang dimilikinya dapat digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Memberi Kepercayaan kepada Guru
Karena itu, kepada para pengambil kebijakan pendidikan, pemerintah, pemimpin daerah, pengelola sekolah, orang tua, dan kita semua, penting untuk melihat guru bukan hanya sebagai pelaksana kebijakan, tetapi sebagai tenaga profesional yang memiliki pengalaman langsung dalam proses pendidikan. Guru membutuhkan pedoman yang jelas, dukungan fasilitas, pelatihan yang memadai, bahan ajar yang relevan, serta ruang untuk mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Kepercayaan kepada guru tentu harus disertai tanggung jawab, evaluasi, dan peningkatan kompetensi agar kebebasan profesional tidak berjalan tanpa arah.
Jangan menetapkan satu cara yang kaku untuk semua tempat apabila kondisi setiap tempat memang berbeda. Bangunlah kerangka pendidikan yang menjamin hak dan mutu setiap anak, kemudian berikan ruang kepada guru untuk menerjemahkannya sesuai keadaan sekolah dan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, kurikulum tidak kehilangan standar, tetapi justru mendapatkan kehidupan. Dokumen kebijakan memberikan arah, sedangkan guru memberikan konteks, pengalaman, dan makna di ruang kelas.
Kurikulum yang baik bukan semata-mata kurikulum yang sama persis di setiap tempat. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang memiliki tujuan pendidikan yang jelas, menjaga mutu, tetapi mampu menemukan bentuk penerapan yang bermakna di berbagai lingkungan. Sebuah materi pelajaran akan lebih kuat ketika anak dapat bertanya, “Apa hubungannya dengan kehidupan saya?” dan guru mampu memberikan jawaban melalui contoh yang nyata. Pada titik itu, pendidikan tidak lagi sekadar memindahkan pengetahuan dari buku ke kepala anak, tetapi membantu anak memahami kehidupan dan menemukan perannya di dalam masyarakat.
Pendidikan yang berakar pada tanah sendiri tidak berarti pendidikan yang tertutup dari dunia luar. Sebaliknya, akar yang kuat justru memungkinkan seorang anak tumbuh lebih tinggi tanpa mudah kehilangan arah. Anak perlu mengenal perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dunia kerja, dan perubahan global, tetapi pada saat yang sama mereka juga perlu mengetahui siapa dirinya, dari mana ia berasal, bagaimana masyarakatnya hidup, serta persoalan apa yang ada di lingkungan sekitarnya.
Pengetahuan lokal dan pengetahuan global tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat dipertemukan melalui pendidikan yang mampu menghubungkan pengalaman anak dengan dunia yang lebih luas. Pendidikan yang demikian diharapkan dapat menghasilkan manusia yang bukan hanya pintar menjawab pertanyaan di ruang ujian, tetapi mampu membaca persoalan kehidupan. Bukan hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu mendengarkan. Bukan hanya memiliki pengetahuan, tetapi mampu menggunakan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab. Bukan hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan daerah tempat ia berasal.
Pada akhirnya, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang mengangkat kemampuan dirinya tanpa memaksanya meninggalkan akar kehidupan yang membentuknya. Setiap guru juga membutuhkan kepercayaan, dukungan, dan ruang untuk menjalankan tanggung jawab profesionalnya secara kontekstual. Sebab guru bukan hanya berhadapan dengan angka di daftar nilai, tetapi dengan manusia yang sedang tumbuh, memiliki latar belakang, pengalaman, harapan, dan masa depan yang berbeda-beda. Jika pendidikan benar-benar ingin membentuk manusia, maka manusia yang dididik harus menjadi pusat perhatian dalam setiap prosesnya.
Semoga ke depan pendidikan di berbagai daerah semakin mampu mempertemukan standar nasional dengan kebutuhan lokal, mempertemukan ilmu pengetahuan dengan pengalaman hidup, serta mempertemukan kemajuan dengan identitas. Anak-anak tidak harus memilih antara menjadi modern atau mempertahankan jati diri.
Mereka dapat menguasai ilmu pengetahuan sekaligus menghargai budaya, dapat mengenal dunia sekaligus memahami tanah kelahirannya, dan dapat melangkah jauh tanpa melupakan tempat dari mana mereka berasal. Di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam: mengangkat manusia setinggi mungkin tanpa mencabutnya dari akar kehidupannya.
Demikian pemikiran ini saya sampaikan sebagai bahan renungan dan refleksi bersama. Tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai penolakan terhadap sistem pendidikan yang telah ada, melainkan sebagai ajakan untuk terus memikirkan bagaimana kebijakan pendidikan dapat diterapkan secara lebih kontekstual, manusiawi, dan sesuai dengan kebutuhan nyata peserta didik di berbagai daerah. [*]
)*Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai
PUNCAK, TOMEI.ID | Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua Tengah, Dr. Drs. Petrus…
NAGOYA, TOMEI.ID | Musisi asal Papua, Nowela Mikhelia, Bona Pascal, Nobo Idol, dan Boii Soa…
BOMOMANI, TOMEI.ID | Pendeta Geradus Bunai, M.Th., terpilih sebagai Ketua Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII)…
ILAGA, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Frits Nawipa, meresmikan layanan listrik tenaga surya di…
ILAGA, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, memperkuat dukungan terhadap pelayanan kesehatan dan pemberdayaan…
ILAGA, TOMEI.ID | Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Puncak, Gubernur Papua Tengah Meki Frits Nawipa…