Jurnalis Jubi, Piter Lokon (kanan), menjelaskan karya foto jurnalistik yang dipamerkannya kepada sesama jurnalis dan pegiat literasi saat Festival Media Se-Tanah Papua di Nabire, Papua Tengah, Januari 2026. Foto-foto tersebut merekam realitas kehidupan masyarakat Papua, termasuk dinamika sosial, ekspresi politik, dan dampak konflik di wilayah Papua Pegunungan. [Foto: Yeremias/tomei.id].
NABIRE, TOMEI.ID | Jurnalis Papua Pegunungan memamerkan karya foto jurnalistik yang merekam kehidupan masyarakat di wilayah konflik dan daerah terpencil dalam Festival Media Se-Tanah Papua perdana yang digelar Asosiasi Wartawan Papua (AWP) di Nabire, Provinsi Papua Tengah, pada 13–15 Januari 2026.
Pameran foto tersebut menjadi ruang bagi jurnalis lapangan untuk menyampaikan realitas yang selama ini jarang terlihat publik, khususnya kondisi sosial, ekonomi, dan kemanusiaan masyarakat di daerah rawan konflik.
Salah satu jurnalis yang terlibat, Piter Lokon, wartawan Jubi yang bertugas di Kabupaten Yahukimo, mengatakan bahwa menjalankan tugas jurnalistik di Papua Pegunungan membutuhkan kehati-hatian tinggi karena situasi keamanan yang tidak stabil.
“Meliput di wilayah konflik tidak mudah. Kami harus terus menyesuaikan kondisi lapangan dan menjaga komunikasi agar pemberitaan tetap seimbang dan bertanggung jawab,” ujar Lokon kepada tomei, Kamis (15/1/2026).
Piter menegaskan, foto-foto yang dipamerkan bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan media untuk menyampaikan pesan kemanusiaan dan kondisi nyata masyarakat Papua Pegunungan.
“Ini bukan hanya foto. Setiap gambar punya pesan agar publik mengetahui situasi sebenarnya yang dialami masyarakat di wilayah kami,” katanya.
Foto-foto tersebut merupakan hasil liputan jurnalis di sejumlah daerah Papua Pegunungan, seperti Yahukimo, Nduga, dan kabupaten lainnya. Isu yang diangkat mencakup pembangunan, ekonomi rakyat, kehidupan beragama, hingga dampak konflik bersenjata terhadap warga sipil.
Salah satu karya foto menampilkan mama-mama Papua yang berjualan di pasar, sebagai potret ketahanan ekonomi masyarakat. Ada pula foto anak-anak yang terpaksa mengungsi dan kehilangan akses pendidikan akibat konflik yang berkepanjangan.
Selain itu, sejumlah foto memperlihatkan gangguan keamanan, aktivitas ibadah yang tidak berjalan normal, kondisi warga terdampak konflik, serta dokumentasi pembagian makanan gratis di wilayah-wilayah terpencil.
“Lewat foto, kami ingin orang melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat di daerah konflik dan wilayah yang jauh dari pusat perhatian,” ujar Lokon.
Ia menambahkan, Festival Media menjadi ruang penting bagi jurnalis Papua Pegunungan untuk memperlihatkan karya mereka kepada jurnalis dari daerah lain, jurnalis senior, pegiat literasi, serta komunitas lokal.
“Pameran ini membuat kerja-kerja jurnalistik kami tidak sia-sia. Orang bisa melihat, menyaksikan, dan memahami langsung,” katanya.
Ke depan, para jurnalis Papua Pegunungan berencana terus memamerkan karya foto jurnalistik dalam agenda festival media berikutnya sebagai bentuk konsistensi menyuarakan realitas Papua.
“Kami ingin menyampaikan pesan tentang luka, harapan, dan realitas hidup yang masih dihadapi masyarakat Papua,” ujar Lokon.
Melalui karya jurnalistik tersebut, para jurnalis berharap suara masyarakat Papua dapat sampai kepada pemerintah dan menjadi dasar perhatian serta kebijakan yang lebih berpihak pada kemanusiaan. [*].
NABIRE, TOMEI.ID | Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke-87 di Tanah Papua…
NABIRE, TOMEI.ID | Festival Media Se-Tanah Papua 2026 resmi ditutup Rabu (15/1/2026) di Nabire, Papua…
NABIRE, TOMEI.ID | Festival Media Se-Tanah Papua 2026 yang digelar Asosiasi Wartawan Papua (AWP) resmi…
NABIRE, TOMEI.ID | Rangkaian kegiatan Festival Media Se-Tanah Papua ke-1 yang berlangsung selama tiga hari,…
NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Koordinator Wilayah Mee Pago, Okto Pekey, menegaskan…
NABIRE, TOMEI.ID | Redaktur Senior Tempo, Sunudyantoro, secara tegas mendorong jurnalis di Tanah Papua untuk…