Berita

Mahasiswa Lanny Jaya Desak Pemerintah Tarik Militer dari Melaga Neri dan Kuyawagi

JAYAPURA, TOMEI.ID | Mahasiswa asal Kabupaten Lanny Jaya yang menempuh studi di Jayapura menyerukan penarikan militer organik dan anorganik dari distrik Melaga Neri dan Kuyawagi, menyusul operasi militer yang memicu pengungsian ribuan warga sipil.

Aksi seruan ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar Rabu (8/10/2025) oleh Badan Pengurus Asrama Mahasiswa Lanny Jaya.

Ketua Asrama, Ass Wanimbo, menjelaskan kronologi serangan. Pada Minggu, 5 Oktober 2025, sekitar pukul 05.30 WIT, militer melakukan operasi udara menggunakan dua helikopter, menembakkan serangan hingga mengenai pemukiman warga sipil. Akibatnya, masyarakat terdampak mengalami trauma dan ribuan warga mengungsi hingga kini belum kembali ke rumah masing-masing.

“Pengiriman militer ini menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat. Sebagai mahasiswa, kami bertindak sebagai Agen Perubahan atau Agen Kontrol Sosial untuk menyuarakan aspirasi rakyat dan menuntut perlindungan hak sipil,” tegas Ass Wanimbo.

Dalam pernyataan resmi, mahasiswa Lanny Jaya menyampaikan lima tuntutan: menarik seluruh militer dari Melaga Neri dan Kuyawagi, menghentikan pengiriman militer ke seluruh Papua, mengevakuasi warga pengungsian, menghentikan kekerasan militer terhadap warga sipil, serta membuat regulasi daerah terkait pendropan militer.

Mahasiswa menekankan bahwa keberadaan militer yang agresif di wilayah sipil bukan hanya menimbulkan trauma psikologis, tetapi juga menghambat akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan harus ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Ass Wanimbo menambahkan, suara mahasiswa merupakan representasi dari masyarakat terdampak yang selama ini kurang terdengar.

“Kami hadir untuk memastikan hak warga sipil dilindungi dan setiap bentuk kekerasan militer mendapat pertanggungjawaban hukum. Jika pemerintah tidak segera menindaklanjuti, krisis kemanusiaan ini akan terus memburuk,” ujarnya.

Konferensi pers ini menjadi media bagi mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi masyarakat yang terdampak, menekankan perlunya penegakan hukum, keselamatan warga sipil, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia di tanah Papua. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Korban Keracunan Makanan MBG di Depapre Bertambah, Puskesmas Siaga Penuh Tangani Pelajar

JAYAPURA, TOMEI.ID | Jumlah korban yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Program Makan Bergizi Gratis…

21 jam ago

Gubernur Dominggus Mandacan Ajak Masyarakat Papua Barat Jaga Kamtibmas Sambut HUT Ke-81 RI

MANOKWARI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, menginstruksikan seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan dan…

2 hari ago

KNPB Pusat Bacakan Sembilan Pernyataan Sikap Politik, Serukan Aksi Nasional 15 Agustus di Tanah Papua

JAYAPURA, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat bersama komponen perjuangan dan massa pendukung…

2 hari ago

KNPB Balim Barat Gelar Aksi Damai di Lanny Jaya, Serahkan 12 Tuntutan Politik ke DPRD

TIOM, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Balim Barat menggelar aksi damai di…

2 hari ago

Asprov PSSI Papua Tengah Diminta Segera Gelar Musda, PSSI Targetkan Kepengurusan Definitif Akhir 2026

NABIRE, TOMEI.ID | Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Tengah diminta segera menggelar Musyawarah Daerah (Musda)…

2 hari ago

Jekson Hisage: Pemuda Papua Pegunungan Harus Bersatu Menjadi Kekuatan Perubahan

WAMENA, TOMEI.ID | Wakil Sekretaris DPD I Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua Pegunungan, Jekson…

3 hari ago