Berita

Mahasiswa Paniai di Gorontalo Tolak DOB, Tambang dan Militerisasi: “Tanah Adat Bukan Ruang Eksploitasi”

GORONTALO, TOMEI.ID | Solidaritas Mahasiswa Paniai Se-Indonesia Kota Studi Gorontalo menyatakan penolakan tegas terhadap rencana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB), aktivitas pertambangan, serta pembangunan pos militer di atas tanah adat masyarakat Paniai, Papua Tengah.

Penolakan tersebut disampaikan dalam mimbar bebas dan jumpa pers mahasiswa yang berlangsung di Jalan Angiyo, Kode Pos 2137, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Rabu (27/5/2026) malam.

Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian konsolidasi gerakan mahasiswa Paniai Se-Indonesia yang sebelumnya telah melakukan demonstrasi jilid I pada Juni 2025 dan jilid II pada Januari 2026.

Dalam aksi sebelumnya, mahasiswa bersama DPRD Kabupaten Paniai sempat menyepakati pembentukan Panitia Khusus (Pansus) guna membawa aspirasi masyarakat ke pemerintah pusat, termasuk ke Kementerian Dalam Negeri terkait penolakan DOB, Kementerian ESDM terkait pencabutan izin pertambangan, serta Kementerian Pertahanan terkait penguasaan tanah adat oleh aparat militer.

Penanggung Jawab Solidaritas Mahasiswa Paniai Badan Pengurus Paniai (BP), Nato Tobay, menegaskan bahwa mahasiswa dan masyarakat adat Paniai memiliki hak penuh mempertahankan tanah leluhur dari berbagai kepentingan politik, investasi, dan militerisasi yang dinilai mengancam masa depan rakyat Papua.

“Kami menolak segala bentuk pemekaran DOB, aktivitas pertambangan, dan pembangunan pos militer di atas tanah adat masyarakat Paniai. Tanah adat bukan objek bisnis politik, investasi, maupun kepentingan militer yang mengorbankan rakyat kecil,” tegas Tobay dalam keterangan yang diterima tomei.id di Nabire, Jumat (29/5/2026).

Menurut Tobay, berbagai kebijakan yang berkaitan dengan DOB, investasi pertambangan, dan pembangunan pos militer selama ini dinilai tidak melibatkan persetujuan masyarakat adat secara menyeluruh.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memperbesar konflik sosial, mempercepat eksploitasi sumber daya alam (SDA), serta mempersempit ruang hidup masyarakat adat di wilayah Paniai.

Mahasiswa juga menilai sejumlah rencana pemekaran daerah di Paniai tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Selain dinilai belum memenuhi syarat administratif dan kewilayahan, pemekaran tersebut dianggap berpotensi memecah persatuan masyarakat adat serta membuka ruang kepentingan politik elite di Tanah Papua.

Selain menolak DOB, mahasiswa mendesak pemerintah pusat segera mencabut sejumlah Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang beroperasi di Papua, di antaranya PT Freeport Indonesia, PT Irja Eastern Mineral, PT Nabire Bhakti Mining, PT Kotabara Mitratama, dan PT Benliz Pasific.

Aktivitas pertambangan tersebut dinilai bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, khususnya terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Tanah adat masyarakat Paniai tidak boleh dijadikan ruang eksploitasi atas nama pembangunan. Kami melihat ada kepentingan investasi dan kekuasaan yang mengancam masa depan masyarakat adat Papua serta merusak hutan, sungai, dan sumber kehidupan rakyat,” ujar Tobay dengan nada tegas.

Mahasiswa turut menyoroti pembangunan pos militer dan rencana pembentukan Kodim di Distrik Bibida dan Distrik Komopa yang dinilai semakin mempersempit ruang hidup masyarakat adat.

Mereka meminta pemerintah segera mengembalikan tanah adat yang telah digunakan untuk pembangunan fasilitas militer serta menghentikan pendekatan keamanan yang dinilai memperburuk situasi sosial masyarakat Papua.

Selain itu, Solidaritas Mahasiswa Paniai Se-Indonesia mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan gratifikasi dan penyalahgunaan kewenangan terkait penerbitan izin pertambangan tanpa persetujuan masyarakat adat.

Mahasiswa Gorontalo menilai praktik penerbitan izin tambang secara sepihak merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap hak-hak masyarakat hukum adat Papua.

Dalam forum tersebut, mahasiswa juga menyampaikan sejumlah seruan politik dan sosial, mulai dari penolakan terhadap praktik dinasti politik, kapitalisme, hingga kolonialisme yang dinilai terus memperburuk kondisi masyarakat Papua.

Gerakan mahasiswa disebut sebagai bentuk perjuangan moral untuk mempertahankan hak hidup masyarakat adat serta masa depan generasi Papua.

“Kami akan terus membawa aspirasi rakyat Paniai ke berbagai kota studi di Indonesia sampai pemerintah benar-benar mendengar suara masyarakat adat Papua dan membuka ruang dialog yang adil serta bermartabat,” kata Tobay.

Aksi mimbar bebas dan jumpa pers berlangsung dalam suasana tertib dan damai dengan dihadiri mahasiswa asal Paniai, aktivis solidaritas Papua, serta sejumlah perwakilan organisasi mahasiswa di Gorontalo.

“Kami berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPR RI, dan seluruh pihak terkait segera membuka ruang penyelesaian yang berpihak pada hak-hak masyarakat adat Papua,” pungkasnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Putra Daerah Usilimo Tolak Festival Budaya Lembah Baliem 2026 Jika Tak Berdampak bagi Masyarakat Adat

WAMENA, TOMEI.ID | Putra daerah Distrik Usilimo, Kabupaten Jayawijaya, menyatakan menolak penyelenggaraan Festival Budaya Lembah…

6 jam ago

Ibadah Syukur 63 Tahun Injil Masuk Kimyal Digelar di Manokwari, Tokoh Senior Ajak Generasi Muda Introspeksi Diri

MANOKWARI, TOMEI.ID | Warga dan mahasiswa Suku Kimyal di Manokwari menggelar ibadah syukur memperingati 63…

8 jam ago

HUT ke-63 Injil Masuk di Suku Kimyal, GIDI Serukan Kembali kepada Injil dan Perkuat Persatuan

SENTANI, TOMEI.ID | Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Wilayah Yahukimo 7 Klasis Suku Kimyal se-Kota…

9 jam ago

Somap Gelar Mimbar Bebas: Desak Pemerintah Hentikan Kekerasan dan Buka Akses Pemantau Internasional ke Papua

JAYAPURA, TOMEI.ID | Solidaritas Mahasiswa Papua (Somap) menggelar aksi mimbar bebas di Abepura, Kota Jayapura,…

1 hari ago

BERITA FOTO: Penyerahan Kunci Rusun ASN DOB Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Papua Tengah, Silwanus Sumule, mewakili Gubernur Meki…

1 hari ago

Pokja Bunda PAUD Papua Tengah Gelar Lokakarya BERIMUTU, Perkuat Layanan PAUD Berkualitas

NABIRE, TOMEI.ID | Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD Provinsi Papua Tengah menggelar Lokakarya PAUD BERIMUTU…

1 hari ago