Berita

Metode I’M FINE Didorong untuk Perkuat Promosi Kesehatan di Pasar Mamberamo Raya

MAMBERAMO RAYA, TOMEI.ID | Promosi kesehatan berbasis pasar kini menjadi kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat di Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua Papua.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Yohanes Tebai, bersama tenaga kesehatan, turun langsung ke pasar untuk memberikan edukasi dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami masyarakat, yakni melalui metode “I’M FINE.”

Metode “I’M FINE” adalah konsep penyuluhan yang dikembangkan oleh Yohanes Tebai dalam disertasinya di Universitas Indonesia pada tahun 2019. Pendekatan ini menekankan penyuluhan yang sederhana, singkat, dan mudah dipahami, disesuaikan dengan siklus hidup, siklus harian, serta kearifan lokal masyarakat Papua.

Pendekatan ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam memahami dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Tantangan Kesehatan di Papua

Papua masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan, seperti rendahnya pemahaman tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), keterbatasan tenaga medis, serta sarana dan prasarana kesehatan yang terbatas.

Di samping itu, kondisi geografis yang sulit dan masalah sosial, budaya, politik, serta keamanan yang belum stabil semakin memperburuk situasi ini.

Melihat kompleksitas tersebut, penyuluhan kesehatan berbasis pasar diharapkan dapat menjadi solusi yang lebih efektif. Pasar merupakan pusat aktivitas masyarakat, sehingga menjadi tempat yang strategis untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada khalayak luas.

Implementasi Metode I’M FINE dengan Kearifan Lokal

Di Mamberamo Raya, metode I’M FINE dipadukan dengan kearifan lokal melalui akronim BILASI, yang berfungsi sebagai panduan praktis kesehatan masyarakat.

Akronim ini diambil dari salah satu marga di daerah tersebut dan dirancang agar mudah dipahami serta diterima oleh masyarakat setempat adalah sebagai berikut:

Metode I’M FINE yang diterapkan di Mamberamo Raya dipadukan dengan kearifan lokal melalui akronim BILASI, yang dirancang sebagai panduan praktis dalam menjaga kesehatan masyarakat.

BILASI terdiri dari beberapa poin penting: B (Balita) mengingatkan agar bayi dan balita rutin dibawa ke puskesmas setiap bulan, meskipun tidak sakit; I (Ibu hamil) menekankan pentingnya pemeriksaan kehamilan sejak dini dan merencanakan persalinan yang aman.

Selanjutnya, L (Lansia) mengingatkan perlunya pemeriksaan rutin untuk lansia dan segera merujuk mereka jika sakit. A (Air bersih) mengingatkan masyarakat akan pentingnya penggunaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari.

S (Stunting) mengarahkan orang tua untuk segera membawa anak yang kurus atau mengalami gangguan pertumbuhan ke puskesmas untuk pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Terakhir, I (Ingat) menekankan pentingnya menjaga kesehatan dengan memeriksakan diri secara rutin, berolahraga, makan makanan bergizi, dan menjaga kebersihan. Panduan ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam menjalankan pola hidup sehat secara sederhana dan sesuai dengan kondisi lokal.

Pendekatan Berbasis Siklus Hidup dan Harian

Metode I’M FINE mengedepankan pendekatan berbasis siklus hidup dan siklus harian untuk memudahkan masyarakat dalam mengadopsi pola hidup sehat. Pada siklus hidup, penyuluhan dimulai dari calon pengantin yang perlu melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk deteksi dini penyakit menular seperti HIV.

Selain itu, calon pengantin juga diajarkan untuk memastikan kesiapan ekonomi, seperti pekerjaan atau usaha, yang menjadi sumber gizi keluarga di masa depan.

Setelah pernikahan, perhatian berlanjut pada kesehatan ibu hamil, yang diwajibkan untuk memeriksakan kehamilan sejak dini, serta merencanakan persalinan yang aman dengan pendampingan tenaga medis.

Proses persalinan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten, seperti bidan atau dokter, untuk memastikan keamanan ibu dan bayi. Setelah persalinan, perhatian berlanjut pada masa nifas dan imunisasi balita untuk menciptakan generasi yang sehat.

Pendekatan berbasis siklus harian juga sangat ditekankan dalam metode ini, dengan kebiasaan hidup sehat yang sederhana namun efektif.

Setiap hari, masyarakat dianjurkan untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan untuk mencegah penyakit seperti ISPA, pneumonia, dan TBC.

Selain itu, mereka disarankan untuk mengonsumsi makanan bergizi yang dapat mencegah stunting serta memastikan tubuh tetap energik untuk beraktivitas sepanjang hari.

Pada siang hari, saat beraktivitas, masyarakat juga diingatkan untuk membawa air minum bersih guna menjaga kesehatan ginjal dan mencegah dehidrasi.

Setelah beraktivitas, sore hari menjadi waktu yang tepat untuk berolahraga dan membersihkan lingkungan guna mencegah penyakit seperti malaria, DBD, dan kaki gajah. Mandi sore juga penting untuk menjaga kebersihan tubuh dan mencegah penyakit kulit.

Pada malam hari, masyarakat dianjurkan untuk tidur dengan menggunakan kelambu untuk menghindari gigitan nyamuk penyebab malaria.

Selain itu, mereka juga diingatkan untuk menjaga perilaku hidup sehat, termasuk kesetiaan dalam hubungan agar terhindar dari penyakit menular seksual seperti HIV dan sifilis.

Dengan pendekatan ini, masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan mereka setiap hari, bukan hanya saat merasa sakit.

Sebuah Harapan di Tengah Tantangan

Apa yang dilakukan Yohanes Tebai adalah jawaban atas realitas pahit yang masih membayangi Papua. Di tengah keterbatasan dokter umum, dokter gigi, hingga tenaga medis spesialis, serta kondisi sosial-politik yang dinamis, edukasi preventif adalah senjata paling ampuh.

Langkah turun ke lapangan ini dinilai sangat vital mengingat tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat yang belum merata. Dengan mengubah pasar menjadi “sekolah kesehatan” terbuka, Yohanes berharap masyarakat Mamberamo Raya tidak lagi hanya menjadi objek pelayanan, tapi menjadi subjek yang mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri.

Melalui pendekatan yang inklusif dan menghargai budaya lokal ini, sebuah mimpi besar sedang ditabur: sebuah masa depan di mana setiap warga Mamberamo Raya bisa dengan bangga berkata, “I’m Fine”, saya sehat, saya berdaya.

Gerakan ini menjadi bukti bahwa promosi kesehatan yang paling efektif tidak selalu dilakukan di balik meja, melainkan hadir nyata di tengah hiruk-pikuk kehidupan rakyatnya sendiri. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

IPMMO Korwil Bandung Galang Dana Natal Se-Jawa dan Bali Lewat Pentas Seni

BANDUNG, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Moni (IPMMO) Koordinator Wilayah (Korwil) Bandung menggelar pentas…

29 menit ago

Wamendagri Ribka Haluk Bantah Isu Pendefinisian Ulang OAP

JAKARTA, TOMEI.ID | Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Ribka Haluk, membantah tegas informasi yang menyebut…

3 jam ago

Terima 16 Mahasiswa Baru, Korwil Yahukimo Manokwari Tekankan Kepemimpinan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) Koordinator Wilayah (Korwil) Kabupaten Yahukimo, Kota Studi…

15 jam ago

Tapal Batas Kapiraya Belum Tuntas, DPRK Dogiyai Desak Pemerintah Tepati Janji

DOGIYAI, TOMEI.ID | Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Dogiyai, Kornelius Kotouki, mendesak Pemerintah Provinsi…

15 jam ago

TPNPB Kodap III Ndugama Darakma Bantah Terlibat Kasus Jila, Tuding Kelompok John Lokbere

MIMIKA, TOMEI.ID | Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB melalui Juru Bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom,…

16 jam ago

GPMI-I Kembali Desak DPD-DPR RI Respons Aspirasi Mahasiswa Intan Jaya

YOGYAKARTA, TOMEI.ID | Penanggung Jawab Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya se-Indonesia (GPMI-I) sekaligus Koordinator Wilayah…

16 jam ago