Berita

Pasar Belum Tertata, Mesin Sagu Terbatas: Warga Arso Kota Desak Perhatian Pemerintah

KEEROM, TOMEI.ID | Penataan Pasar Arso Kota dan keterbatasan mesin pemarut sagu menjadi dua persoalan utama yang disoroti warga Kampung Arso Kota, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua. Aspirasi tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas ekonomi yang lebih tertata sekaligus dukungan terhadap pengolahan pangan lokal.

Aspirasi warga dihimpun mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 FKIP Universitas Cenderawasih (Uncen) melalui pengamatan dan wawancara langsung selama berada di Kampung Arso Kota.

Dalam persoalan pasar, warga meminta pemerintah melakukan pendataan dan penataan pedagang, terutama mereka yang berjualan di pinggir jalan sekitar Pasar Arso Kota. Penataan dinilai diperlukan agar aktivitas perdagangan berlangsung lebih aman, tertib, dan tidak mengganggu pengguna jalan.

Warga juga mengusulkan penyediaan atau perbaikan tempat berjualan sehingga pedagang dan pembeli memiliki ruang transaksi yang lebih layak.

Selain fasilitas, masyarakat mengusulkan pengaturan waktu aktivitas pasar pada Selasa, Kamis, dan Sabtu, pukul 04.00–10.00 WIT. Pengaturan tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan perdagangan lebih mudah dikendalikan dan mengurangi gangguan terhadap arus kendaraan.

Persoalan lalu lintas juga menjadi perhatian. Warga berharap pemerintah bersama pihak terkait dapat mengatur arus kendaraan pada saat aktivitas pasar berlangsung, terutama untuk menjaga keselamatan pedagang, pembeli, dan pengguna jalan.

Warga Minta Tempat Khusus Hasil Bumi

Aspirasi warga tidak hanya berkaitan dengan pedagang pasar. Masyarakat juga mengusulkan adanya tempat khusus untuk menjual hasil kebun dan hasil bumi.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pemasaran yang lebih tertata bagi hasil pertanian dan perkebunan masyarakat sekaligus membuka akses pasar yang lebih baik.

Warga juga mendorong pemerintah melakukan pendataan terhadap pedagang, kelompok usaha, dan masyarakat yang membutuhkan tempat berjualan maupun bantuan usaha.

Pendataan dinilai penting agar program pemerintah dapat diberikan berdasarkan kebutuhan nyata dan tidak salah sasaran.

Mesin Pemarut Sagu Jadi Sorotan

Di sektor pengolahan pangan lokal, keterbatasan mesin pemarut sagu menjadi persoalan lain yang disampaikan masyarakat.

Aspirasi tersebut dihimpun mahasiswa melalui wawancara dengan Mama Ibe dan Mama Rosalina Borotia. Masyarakat menyampaikan bahwa keterbatasan mesin membuat sebagian warga masih harus melakukan proses pemarutan sagu secara manual.

Kondisi tersebut menjadi dasar harapan warga agar Pemerintah Kabupaten Keerom dan Pemerintah Distrik Arso memberikan dukungan berupa mesin pemarut atau peralatan pengolahan sagu.

Namun, warga mengharapkan bantuan tidak diberikan tanpa pendataan. Kelompok masyarakat yang masih aktif mengolah sagu secara manual dinilai perlu diidentifikasi terlebih dahulu agar bantuan benar-benar diterima pihak yang membutuhkan.

Dengan pola tersebut, bantuan mesin diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi dapat menunjang aktivitas pengolahan sagu dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kebersihan Pasar Tetap Jadi Perhatian

Selain penataan pedagang, warga juga menyoroti kebersihan lingkungan pasar. Mereka meminta penambahan tempat sampah serta sistem pengangkutan sampah yang teratur.

Berdasarkan informasi yang dihimpun mahasiswa, sampah di lingkungan Pasar Arso Kota telah dikumpulkan dan diangkut secara rutin.

Masyarakat berharap kondisi tersebut terus dipertahankan dan diperkuat dengan fasilitas kebersihan yang memadai agar kawasan pasar tetap bersih dan nyaman.

Mahasiswa Bawa Aspirasi Warga

Mahasiswa KKN Kelompok 1 FKIP Uncen menghimpun berbagai persoalan tersebut sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Temuan lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan warga tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga tata kelola pasar, keselamatan lalu lintas, kebersihan, pemasaran hasil bumi, pendataan penerima bantuan, dan penguatan pengolahan sagu.

Karena itu, masyarakat berharap aspirasi yang telah dihimpun mahasiswa tidak berhenti sebagai catatan KKN, tetapi dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

KKN Mandiri FKIP Uncen 2026 sendiri ditempatkan di sejumlah kampung di Kabupaten Keerom, termasuk Kampung Arso Kota, dengan mengusung tema Kampung Cerdas Digital Berbasis Kearifan Lokal. Uncen menyebut program tersebut berlangsung pada Agustus 2026.

Kelompok 1 FKIP Uncen di Kampung Arso Kota beranggotakan 19 mahasiswa, didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Kusdianto, M.Pd., dengan Dea Auralia Putri sebagai ketua kelompok. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Antonius Wetipo Buka Pintu Golkar Jayawijaya bagi Masyarakat, Konsolidasi Diperkuat hingga Kampung

WAMENA, TOMEI.ID | Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Jayawijaya,…

3 jam ago

Pemprov Papua Tengah Tegaskan Pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja Harus Hormati Hak Masyarakat Adat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menegaskan bahwa pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja…

3 jam ago

Kecelakaan Mobil Satgas TNI di Yalimo, Empat Prajurit Meninggal

YALIMO, TOMEI.ID | Kecelakaan tunggal yang melibatkan mobil Satgas Yonif 645 terjadi di Jalan Trans Jayapura–Wamena,…

23 jam ago

Yampit Nawipa Ingatkan ASN Jangan Ejek Kesalahan Rekan, Disiplin Harus Ditegakkan

PANIAI, TOMEI.ID | Bupati Paniai, Yampit Nawipa, mengingatkan seluruh aparatur pemerintah agar tidak menjadikan kesalahan…

1 hari ago

Melkianus Tebai Bawa Perspektif Dunia Usaha dalam Pelatihan BUMDes bagi 79 Kampung di Dogiyai

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Dogiyai, Melkianus Tebai, membawa perspektif dunia…

1 hari ago

Perkuat Fondasi SDM, Bupati Paniai Yanpit Nawipa Dorong Pendidikan TK dan PAUD hingga Kampung

PANIAI, TOMEI.ID | Bupati Paniai, Yanpit Nawipa, menegaskan komitmennya untuk memperkuat pendidikan anak usia dini…

1 hari ago