Berita

Pendeta Mengaku Ditembak Saat Pegang Merah Putih dan Alkitab, Tim Gabungan Buka Kesaksian Kelam Tragedi Kemburu

PUNCAK, TOMEI.ID | Tim Gabungan yang terdiri dari Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua Tengah, anggota DPD RI Perwakilan Papua Tengah, dan Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) mengungkap rangkaian kesaksian memilukan dalam tragedi kemanusiaan di Distrik Kemburu, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, yang terjadi pada hari Kamis, (14/5/2026).

Laporan investigasi tersebut memuat dugaan penembakan terhadap warga sipil, pengungsian massal, hingga kematian seorang anak balita di tengah operasi militer yang disebut berlangsung di sejumlah kampung di Distrik Kemburu.

Salah satu kesaksian yang paling menyita perhatian datang dari seorang pendeta GKII, Etinus Waliya, yang mengaku ditembak aparat saat memimpin rombongan pengungsi sambil memegang bendera Merah Putih dan Alkitab.

Menurut kesaksian Etinus, bendera Merah Putih dan Alkitab tersebut sebelumnya diberikan oleh anggota TNI di Pos Magebaga atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai “Pintu Jawa” sebagai tanda agar warga sipil tidak menjadi sasaran.

Dalam laporan tim investigasi disebutkan, operasi bersenjata terjadi sekitar pukul 05.00 WIT ketika rentetan tembakan dan ledakan mengguncang Kampung Kemburu, Tenoti, dan Makuma. Situasi itu membuat warga sipil panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Di tengah situasi mencekam tersebut, sekitar sembilan warga disebut berkumpul sambil membawa bendera Merah Putih sebagai penanda bahwa mereka merupakan warga sipil, bukan kelompok bersenjata.

“Mereka disuruh berbaris sambil pegang bendera, saat itu mereka diperlakukan tidak manusiawi. TNI melepaskan tembakan ke arah masyarakat yang berbaris dan mengenai dua orang,” tulis tim investigasi dalam laporan resmi yang diterima tomei.id di Nabire, Sabtu (16/5/2026).

Dalam kesaksiannya, Etinus mengaku pengawasan menggunakan drone militer di wilayah mereka telah berlangsung sejak Desember 2025 sebelum pecahnya operasi bersenjata pada April 2026.

“Drone itu sudah mengawasi kami mulai dari tanggal 1 Desember 2025, kemudian kejadian puncaknya itu terjadi tanggal 14 April 2026,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan bahwa ledakan pertama terdengar di Kampung Tenoti sebelum operasi meluas ke wilayah Makuma dan Kemburu. Suara ledakan bom dan tembakan disebut berlangsung selama berjam-jam sejak pagi hari.

“Bunyi tembakan di Kampung Kemburu luar biasa dari pagi itu sampai kira-kira pukul 9 atau 10 pagi,” katanya.

Dalam kondisi penuh ketakutan, Etinus bersama istrinya yang baru melahirkan, anak-anak, dan sejumlah jemaat memutuskan mengungsi ke Mulia. Ia mengaku berjalan paling depan sambil membawa Merah Putih dan Alkitab karena percaya simbol tersebut dapat melindungi rombongan warga sipil dari serangan aparat.

“Saya di depan pegang bendera dengan Alkitab. Di belakang saya gembala, istri, anak dan beberapa jemaat lain. Kami berjumlah sembilan orang,” ujarnya.

Namun ketika rombongan tiba di wilayah Binime, beberapa meter dari Kampung Kemburu, suara tembakan kembali terdengar dan satu peluru disebut menembus lengan kirinya.

“Saya pendeta Etinus Waliya, baru kamu tembak saya. Saya gembala,” teriaknya sambil mengangkat tangan yang berlumuran darah.

Ia juga mengaku melihat aparat bersenjata lengkap berpakaian hitam menghadang mereka sambil mengeluarkan ancaman.

“Ko mau pendeta ka, gembala ka, desa ka, bupati ka, tidak mau lihat,” kata salah satu aparat sebagaimana ditirukan Etinus dalam kesaksiannya kepada tim investigasi.

Dalam kondisi terluka dan trauma, rombongan warga akhirnya membatalkan perjalanan menuju Kemburu dan kembali ke Nilome sebelum melanjutkan pengungsian ke Mulia.

Tim investigasi juga mencatat kesaksian sejumlah warga lain yang menyebut tidak ada aktivitas TPNPB-OPM di Kampung Kemburu, Tenoti, dan Makuma saat operasi berlangsung.

Menurut para saksi, kampung-kampung tersebut hanya dihuni warga sipil, terutama perempuan, anak-anak, dan lansia yang sebelumnya baru kembali dari pengungsian.

“TPNPB-OPM tidak menempati Kampung Kemburu, Tenoti dan Makuma. Senjata pun tidak ada di sana,” ungkap seorang saksi mata kepada tim investigasi.

Selain dugaan penembakan terhadap warga dewasa, tim gabungan juga mengungkap kematian tragis seorang anak berusia tiga tahun bernama Para Murib. Anak tersebut disebut tertembak saat keluarganya berusaha melarikan diri dari lokasi serangan.

Aktivis HAM Papua, Theo Hesegem, bersama tim investigasi yang menemui keluarga korban pada 8 Mei 2026 menerima kesaksian langsung dari ayah korban.

“Anak saya tertembak saat kami hendak melarikan diri untuk bersembunyi dari tembakan TNI,” ujar ayah korban kepada tim investigasi.

Karena tidak tersedianya akses medis dan transportasi di wilayah pedalaman tersebut, Para Murib akhirnya meninggal dunia akibat kehabisan darah di Kampung Jigunggi.

Laporan tim juga menggambarkan kondisi pengungsian warga yang memprihatinkan. Ribuan warga Distrik Kemburu kini dilaporkan tersebar di Sinak, Mulia, Yambi, Ilaga, Timika, Jayapura hingga Nabire akibat konflik bersenjata yang terjadi sejak April lalu.

Di Distrik Sinak saja, tim mencatat sekitar 244 kepala keluarga atau 7.844 jiwa mengungsi dan menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari krisis pangan, keterbatasan tempat tinggal, minimnya akses air bersih, hingga terputusnya pendidikan anak-anak dari tingkat PAUD sampai SMA.

Tim gabungan mendesak pemerintah pusat, aparat keamanan, Komnas HAM, serta lembaga kemanusiaan untuk segera melakukan investigasi independen dan memberikan perlindungan serta bantuan kemanusiaan kepada masyarakat sipil yang terdampak konflik di Distrik Kemburu.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak TNI maupun aparat keamanan terkait seluruh tuduhan dan kesaksian yang disampaikan tim gabungan tersebut. Tomei.id masih berupaya meminta konfirmasi resmi guna memperoleh penjelasan berimbang dari pihak terkait. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Gubernur Papua Perintahkan Pendataan Kerusakan Stadion Lukas Enembe Usai Kericuhan Persipura vs Adhyaksa FC

JAYAPURA, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi Papua bergerak cepat melakukan pendataan dan pembenahan fasilitas di kompleks…

30 menit ago

Disnaker Papua Siapkan Program Kartu Siap Kerja, Fokus Buka Akses Pelatihan dan Lowongan Kerja

JAYAPURA, TOMEI.ID | Dinas Tenaga Kerja Provinsi Papua mulai menyiapkan sosialisasi program Kartu Siap Kerja…

43 menit ago

Pemprov Papua Gelar Job Fair 2026, Ratusan Lowongan Kerja Dibuka untuk Pencari Kerja Lokal

JAYAPURA, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi Papua resmi membuka pelaksanaan Job Fair Papua 2026 di Gedung…

51 menit ago

Pemprov Papua Siapkan Jalur Darat Trimuris–Kasonaweja, Kurangi Ketergantungan Transportasi Sungai di Mamberamo Raya

MAMBERAMO RAYA, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi Papua merencanakan pembangunan jalur darat alternatif yang menghubungkan Trimuris…

19 jam ago

Pemprov Papua Serahkan Starlink dan Videotron ke Sarmi, Perkuat Internet Kampung dan Pelayanan Publik

SARMI, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi Papua menyerahkan hibah barang milik daerah kepada Pemerintah Kabupaten Sarmi…

20 jam ago

TPNPB Klaim Enam Helikopter TNI Drop Pasukan ke Intan Jaya, Operasi Disebut Masuk hingga Permukiman Warga

INTAN JAYA, TOMEI.ID | Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengklaim aparat militer Indonesia melakukan pendoropan…

23 jam ago