Berita

Peneliti Soroti Minimnya Kaderisasi Ilmuwan OAP, Serukan Dukungan Inklusif bagi Riset Papua

NABIRE, TOMEI.ID | Kesenjangan jumlah dan kapasitas peneliti Orang Asli Papua (OAP) dinilai kian memprihatinkan. Lemahnya sistem pengkaderan yang terencana dan terukur di kampus maupun institusi pemerintah disebut menjadi salah satu penyebab utama minim lahirnya ilmuwan OAP.

Peneliti OAP dari Universitas Papua, Dr. Keliopas Krey, menilai upaya mencetak dan memperkuat kapasitas peneliti OAP belum berjalan optimal. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi semakin melebar seiring kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang dapat memangkas program pemberdayaan dan peningkatan kapasitas keilmuan.

“Kesenjangan peneliti OAP hari ini sangat memprihatinkan. Lemahnya pengkaderan yang terencana dan terukur menyebabkan adanya gap yang dalam untuk mencetak peneliti OAP,” ujar Krey, Kamis (26/2).

Ia juga menyoroti berkurangnya ruang pengembangan riset sains bagi OAP, mulai dari rangsangan penelitian, dukungan pembiayaan, hingga penciptaan ahli sains baru dari Papua. Padahal, menurutnya, kekayaan pengetahuan lokal Papua yang selama ini diwariskan secara lisan tentang laut, hutan, dan gunung perlu diangkat dan dipadukan dengan pendekatan ilmiah modern.

“Cerita oral orang tua tentang laut, hutan, dan gunung hampir usang; tersisa suara pastoral riset ilmiah bagai lukisan Monalisa yang terus diperdebatkan tanpa henti,” kata Krey.

Krey menegaskan, meskipun sains modern selama ini didominasi negara-negara Barat, OAP juga perlu mengambil peran dalam membangun dan membobotkan sains dari perspektif Papua.

“Sains boleh dikuasai Eropa, Amerika, dan Australia, tetapi pembobotan sains oleh OAP juga harus terungkap ke permukaan dunia sains itu sendiri,” ujarnya.

Ia mendorong kementerian terkait, lembaga riset nasional, organisasi nonpemerintah, serta lembaga internasional untuk memikirkan masa depan OAP dan Tanah Papua secara lebih inklusif dan berkelanjutan.

Menurutnya, peningkatan kapasitas riset OAP harus ditopang pendanaan yang memadai serta partisipasi aktif para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, di masa depan Papua diharapkan memiliki ilmuwan OAP yang matang secara logika, memahami bumi Papua secara universal, dan menjadikan sains sebagai instrumen kemaslahatan umat manusia.

“Saya bermimpi, 20 hingga 50 tahun ke depan, ada ahli sains OAP yang dapat menerangkan secara gamblang bukti-bukti empiris geografis Tanah Papua melalui pemahaman mendalam tentang geologi maupun biologi di bentang alam Asia–Australia yang berbeda dengan Tanah Papua,” tambahnya.

Krey berharap penguatan ekosistem riset yang inklusif dan berkelanjutan dapat menjadi fondasi lahirnya generasi ilmuwan OAP yang mampu berkontribusi di tingkat nasional maupun global.[*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

15 Tahun Berjualan dari Jalan ke Jalan, Nurhana Yarinap Kini Buka Toko Rasta Nindy Papua di Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Air mata Nurhana Yarinap tak terbendung saat mengenang perjalanan 15 tahun membangun…

9 jam ago

Pemprov Papua Pegunungan Genjot Kualitas Data Bansos Lewat Bimtek SIKS-NG

WAMENA, TOMEI.ID |  Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas data kesejahteraan…

10 jam ago

Bahu Jalan dan Trotoar di Jalan Pepera Nabire Alih Fungsi Jadi Lahan Parkir

NABIRE, TOMEI.ID | Bahu jalan dan trotoar di sepanjang Jalan Pepera, Kabupaten Nabire, Papua Tengah,…

10 jam ago

180 Mahasiswa Ikuti Yudisium STAK Nabire, Lulusan Diharapkan Aktif Membangun Papua

NABIRE, TOMEI.ID | Sebanyak 180 mahasiswa mengikuti yudisium angkatan ke-13 Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK)…

12 jam ago

Lepas Kontingen STG ke Jambi, Meki Nawipa Tekankan Toleransi dan Karakter Generasi Muda

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah resmi melepas kontingen Swayamvara Tripitaka Gatha (STG)…

13 jam ago

Meki Nawipa Tegaskan Setiap Rupiah APBD Harus Bermanfaat bagi Masyarakat Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan bahwa setiap rupiah Anggaran Pendapatan dan Belanja…

19 jam ago