Berita

Penginjil Jalanan Serukan Penutupan Total Miras di Papua, Pemerintah Diminta Bertindak Tegas

JAYAPURA, TOMEI.ID | Pelayanan penginjilan jalanan kembali digelar di kawasan putaran taksi Perumnas III Waena, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, Sabtu (7/2/2026) malam.

Kegiatan tersebut menyasar masyarakat di salah satu titik keramaian kota yang kerap menjadi pusat aktivitas mama-mama penjual pinang, mahasiswa, anak muda, serta warga umum.

Pelayanan ini dipimpin oleh Pendeta Kristian Mehue, S.Th., Sekretaris Jenderal Yayasan Papua Pembawa Kabar Baik (YPPKB), lembaga yang aktif melakukan penginjilan jalanan di berbagai wilayah Tanah Papua.

Pendeta Kristian Mehue menyampaikan bahwa YPPKB saat ini menaungi 58 komunitas penginjil jalanan yang melayani masyarakat di Jayapura, Sorong, Merauke, hingga wilayah pegunungan Papua.

“Persoalan Papua bukan hanya kemiskinan, tetapi krisis moral dan hilangnya tujuan hidup. Minuman keras menjadi pintu masuk utama kehancuran generasi Papua,” tegas Pendeta Kristian Mehue.

Menurut YPPKB, pendekatan penanganan miras selama ini dinilai gagal karena tidak menyentuh akar persoalan. Penertiban pemuda mabuk tanpa menutup sumber produksi dan distribusi miras hanya memperpanjang masalah sosial.

Pendeta Kristian Mehue menegaskan bahwa minuman keras, narkoba, dan ganja telah menyebar hingga ke kampung-kampung dan menjadi penyebab utama kecelakaan, kerusakan rumah tangga, kekerasan, serta meningkatnya kasus HIV/AIDS di Papua.

“Ini pembunuhan sistematis terhadap generasi Papua. Korbannya mayoritas usia produktif 17 sampai 35 tahun,” ujarnya.

YPPKB juga menyoroti lemahnya keberanian pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan tegas. Berdasarkan informasi lapangan, terdapat sekitar 153 rumah produksi minuman keras lokal atau boplas di Kabupaten Jayapura yang masih beroperasi.

Kondisi tersebut dinilai sangat membahayakan keselamatan masyarakat, mengingat banyak korban mengalami overdosis, kebutaan, hingga meninggal dunia akibat konsumsi miras lokal.

Pendeta Kristian Mehue menyatakan bahwa gereja tidak boleh hanya diam di balik tembok gedung ibadah, sementara generasi muda Papua hancur di jalanan.

“Gereja harus keluar mencari yang terhilang. Negara juga harus hadir melindungi generasi Papua, bukan membiarkan miras merajalela,” tegasnya.

Pelayanan penginjilan jalanan tersebut ditutup dengan doa bersama serta seruan agar pemerintah segera menutup seluruh jalur masuk, distribusi, dan produksi minuman keras di Tanah Papua demi menyelamatkan masa depan generasi muda. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Antonius Wetipo Buka Pintu Golkar Jayawijaya bagi Masyarakat, Konsolidasi Diperkuat hingga Kampung

WAMENA, TOMEI.ID | Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Jayawijaya,…

10 jam ago

Pemprov Papua Tengah Tegaskan Pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja Harus Hormati Hak Masyarakat Adat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menegaskan bahwa pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja…

10 jam ago

Kecelakaan Mobil Satgas TNI di Yalimo, Empat Prajurit Meninggal

YALIMO, TOMEI.ID | Kecelakaan tunggal yang melibatkan mobil Satgas Yonif 645 terjadi di Jalan Trans Jayapura–Wamena,…

1 hari ago

Yampit Nawipa Ingatkan ASN Jangan Ejek Kesalahan Rekan, Disiplin Harus Ditegakkan

PANIAI, TOMEI.ID | Bupati Paniai, Yampit Nawipa, mengingatkan seluruh aparatur pemerintah agar tidak menjadikan kesalahan…

2 hari ago

Melkianus Tebai Bawa Perspektif Dunia Usaha dalam Pelatihan BUMDes bagi 79 Kampung di Dogiyai

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Dogiyai, Melkianus Tebai, membawa perspektif dunia…

2 hari ago

Perkuat Fondasi SDM, Bupati Paniai Yanpit Nawipa Dorong Pendidikan TK dan PAUD hingga Kampung

PANIAI, TOMEI.ID | Bupati Paniai, Yanpit Nawipa, menegaskan komitmennya untuk memperkuat pendidikan anak usia dini…

2 hari ago