Berita

Perempuan Papua Tengah Gelar Aksi Bisu di Nabire, Suarakan Penghentian Kekerasan dan Stigma

NABIRE, TOMEI.ID | Di tengah padatnya arus kendaraan di perempatan lampu merah depan SMP YPPK Antonius Nabire, sejumlah perempuan Papua berdiri dalam diam tanpa [orasi] dan pengeras suara, membentangkan spanduk serta pamflet sebagai suara mereka di ruang publik untuk menyerukan penghentian kekerasan, penghapusan stigma, dan perlindungan bagi perempuan Papua.

Aksi bisu yang digelar Sabtu (7/3/2026) itu menjadi cara perempuan Nabire menyampaikan kegelisahan mereka terhadap berbagai persoalan yang masih membayangi kehidupan perempuan, mulai dari kekerasan, diskriminasi, hingga stigma sosial yang terus berlangsung.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan International Women’s Day 2026, yang diperingati setiap 8 Maret. Tahun ini peringatan tersebut mengangkat tema “Give To Gain” (Memberi untuk Mendapatkan), sebagai ajakan memperkuat solidaritas dan kepedulian terhadap perjuangan perempuan.

Koordinator Solidaritas Perempuan Papua Tengah, Paola S. Pakage, mengatakan aksi bisu itu sengaja dipilih sebagai simbol bahwa suara perempuan sering kali tidak didengar, terutama di wilayah yang berhadapan dengan konflik dan ketidakadilan sosial.

“Melalui aksi ini kami menyerukan penghentian kekerasan terhadap perempuan. Perempuan berhak hidup aman dan damai,” kata Paola S. Pakage kepada wartawan di lokasi aksi.

Sejumlah spanduk yang dibentangkan peserta memuat pesan yang menggambarkan penderitaan perempuan di wilayah konflik. Salah satu spanduk bertuliskan “Dengarkan suara mama-mama di tanah konflik. Perempuan ingin hidup aman dan damai. Hentikan kekerasan, lindungi perempuan. Perempuan bertahan, dunia harus peduli.”

Ada pula pesan yang secara langsung menyinggung minimnya perhatian media terhadap penderitaan perempuan Papua. Pada sebuah spanduk tertulis: “Wahai berita aku bertanya, di manakah liputan derita mama-mama di Ndugama.”

Ketua Kewita Nabire, Debora Nawipa, mengatakan stigma terhadap perempuan masih kuat di tengah masyarakat. Debora Nawipa menilai cara pandang yang merendahkan perempuan masih sering terjadi dalam kehidupan sosial.

“Ada stigma yang memandang perempuan hanya sebagai alat pemuas nafsu, budak dapur, dan mesin produksi anak. Stigma seperti ini harus dihentikan karena merendahkan martabat perempuan,” ujar Debora.

Selain menyoroti kekerasan dan stigma sosial, para peserta aksi juga mengangkat isu diskriminasi terhadap perempuan dengan status ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Mereka menyerukan agar stigma terhadap perempuan yang hidup dengan HIV/AIDS dihentikan dan diganti dengan pendekatan perlindungan serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Sejumlah pamflet yang dibagikan kepada warga memuat seruan seperti “Hentikan stigma terhadap perempuan dengan status ODHA,” “Lindungi perempuan dari diskriminasi terkait HIV/AIDS,” serta “Bersama perempuan kita hentikan stigma HIV/AIDS.”

Ketua Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP) Nabire, Melo, menyatakan dukungan terhadap aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan perlindungan perempuan Papua.

Menurut Melo, perjuangan mama-mama Papua untuk hidup aman dan bebas dari kekerasan harus menjadi perhatian semua pihak termasuk pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat luas di Papua.

“Mama-mama Papua ingin hidup aman, bekerja dengan tenang, dan membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Karena itu upaya menghentikan kekerasan dan stigma terhadap perempuan harus menjadi tanggung jawab bersama,” kata Melo.

Melalui momentum International Women’s Day, para peserta aksi juga mendesak pemerintah, aparat keamanan, serta seluruh elemen masyarakat agar lebih serius memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak, terutama di wilayah yang masih menghadapi berbagai persoalan sosial dan konflik. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Wabup Dogiyai Instruksikan Pengusaha Lokal Tunjukkan Kualitas Kerja Profesional

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai, Yuliten Anouw, menginstruksikan Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP)…

4 jam ago

Yosephina Pigai Lantik Pengurus KAPP Dogiyai Periode 2026–2030 di Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Provinsi Papua Tengah, Yosephina Pigai, melantik…

4 jam ago

LBH Papua: Gugatan SK Bupati Merauke di PTUN Jayapura Bukti Gagalnya Otsus Lindungi Hak Adat Malind

JAYAPURA, TOMEI.ID | Lembaga Bantuan Hukum Papua menilai gugatan terhadap Surat Keputusan Bupati Merauke terkait…

4 jam ago

KONI Papua Tengah Dukung Penyelenggaraan Liga 4 PSSI Piala Gubernur

MIMIKA, TOMEI.ID | Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Papua Tengah menyatakan dukungan penuh terhadap…

14 jam ago

Pemprov Papua Siapkan Program Mudik Kapal Laut Gratis untuk Lebaran 2026

JAYAPURA, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi Papua menyiapkan program mudik kapal laut gratis bagi masyarakat yang…

14 jam ago

Warga Sipil Dilaporkan Tertembak di Dogiyai, Kronologi Masih Didalami

DOGIYAI, TOMEI.ID | Seorang warga sipil bernama Jhon Pekei (25) dilaporkan mengalami luka tembak dalam…

15 jam ago