Berita

Proses Mandek, Konflik Mengintai: HPMN Kritik Kinerja Pansus DPRK Nduga

JAYAPURA, TOMEI.ID | Mandeknya proses pengisian jabatan Wakil Bupati Nduga memicu tekanan terbuka dari mahasiswa, mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap lambannya respons pemerintah daerah, serta memperlihatkan potensi krisis kepercayaan institusional.

Hal tersebut mendorong Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Nduga (HPMN) se-Indonesia Tengah mendesak penyelesaian segera, sekaligus menyoroti kinerja Panitia Khusus (Pansus) DPRK yang dinilai lamban dan tidak efektif.

Dalam pernyataan resmi yang diterima, Senin (6/4/2026), mahasiswa menegaskan bahwa keterlambatan tersebut bukan sekadar persoalan administratif, tetapi telah berdampak langsung pada stabilitas pemerintahan dan kualitas pelayanan publik di Kabupaten Nduga.

“Situasi ini menyebabkan ketidakstabilan pemerintahan. Masyarakat menjadi pihak paling dirugikan karena pelayanan tidak berjalan maksimal,” tegas HPMN.

Padahal, proses pemilihan Wakil Bupati telah dilaksanakan melalui Sidang Paripurna DPRK Kabupaten Nduga pada 16 Februari 2026 di Jayapura. Namun hingga kini, hasil tersebut belum ditindaklanjuti secara jelas, memunculkan ketidakpastian politik di tingkat daerah.

HPMN secara terbuka mengkritik kinerja Pansus DPRK yang dinilai memperlambat penyelesaian. Penundaan yang terjadi disebut tidak hanya berlarut-larut, tetapi juga berpotensi memicu gesekan antara dua kubu calon.

Selain itu, mahasiswa menyoroti adanya ketidaksinkronan antara Pansus DPRK dan Pemerintah Kabupaten Nduga dalam menangani persoalan tersebut, yang dinilai memperburuk situasi.

Tekanan mahasiswa tidak berhenti pada kritik. Mereka mendesak Ketua Pansus DPRK segera mengambil langkah alternatif, serta meminta Bupati dan pimpinan DPRK bertindak konkret untuk mengakhiri kebuntuan.

Gubernur Papua Pegunungan juga didorong untuk turun tangan, guna memastikan proses berjalan sesuai koridor hukum dan tidak terus berlarut.

Di sisi lain, HPMN mengingatkan seluruh pihak agar menahan diri. Mereka menegaskan bahwa perbedaan dukungan politik tidak boleh berkembang menjadi konflik sosial yang merugikan masyarakat luas.

Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal proses ini hingga ada kejelasan dan keputusan final, tanpa kompromi terhadap praktik penundaan yang merugikan kepentingan publik.

“Kami akan terus mengawal sampai ada penyelesaian yang pasti dan transparan, seraya menuntut akuntabilitas penuh dari seluruh pihak yang terlibat,” pungkasnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

PSHT Manokwari Kukuhkan Warga Baru Tingkat I 2026, Tegaskan Komitmen Jaga Persaudaraan dan Lawan Ketidakadilan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Kabupaten Manokwari, Ranting Manokwari Barat, Sub…

2 jam ago

Petani Jadi Penentu Ketahanan Pangan, Gubernur Meki Nawipa: Papua Tengah Siap Menjadi Lumbung Pangan

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan petani merupakan pilar utama ketahanan pangan…

15 jam ago

Beredar Poster Penolakan Pos Kamling, 36 Marga Deiyai Tolak Dugaan Militerisasi Tanah Adat

DEIYAI, TOMEI.ID | Sebuah poster berisi pernyataan sikap yang mengatasnamakan 36 Marga Deiyai beredar luas…

19 jam ago

Akses Masuk Nobar Final Bola Gembira Dialihkan ke Gerbang Depan Pantai MAF

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah mengalihkan akses masuk bagi masyarakat yang akan…

19 jam ago

DPW PKB Papua Pegunungan Tinjau Sekretariat Baru DPC Tolikara, Penguatan Konsolidasi Jelang Pelantikan Pengurus

WAMENA, TOMEI.ID | Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Papua Pegunungan, Asis…

1 hari ago

Siaran Pers TPNPB: Dua Anggota Kodap XVI Yahukimo Diklaim Tewas

YAHUKIMO, TOMEI.ID | Manajemen Markas Pusat Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim…

1 hari ago