Berita

Solidaritas Rakyat Papua Sorong Raya Soroti PSN, Nilai Ancam Hutan Adat dan Ruang Hidup

NABIRE, TOMEI.ID | Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi se-Sorong Raya menilai sejumlah proyek dalam skema Program Strategis Nasional (PSN) berpotensi mempercepat kerusakan hutan adat dan memperluas konflik agraria di Papua Barat Daya.

Sikap kritis tersebut disampaikan dalam agenda konsolidasi yang berlangsung di Remu Utara, Kota Sorong, Rabu (11/2/2026).

Dalam forum itu, Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi se-Sorong Raya menegaskan arah pembangunan nasional dinilai lebih berpihak pada kepentingan investasi skala besar ketimbang perlindungan ruang hidup masyarakat adat. Pola pembangunan berbasis ekspansi lahan dan ekstraksi sumber daya alam disebut terus berulang dan memicu deforestasi, perubahan struktur sosial, serta ketimpangan ekonomi.

Poster ajakan kegiatan nonton bareng, diskusi, dan konsolidasi bertajuk “PSN Untuk Siapa?” yang diselenggarakan Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi se-Sorong Raya (SRP-PDSR) di Belantara Papua, Remu Utara, Kota Sorong, Rabu (11/2/2026), menghadirkan Samuel Moifilit (Greenpeace) sebagai pemateri I, Musell Safkaur (SOMAPA) sebagai pemateri II, dan Vina Sangkek (SRP-PDSR) sebagai moderator. [Foto: Dok Istimewa].

Solidaritas Rakyat Papua menyoroti pembukaan hutan skala besar di Merauke, Papua Selatan, yang disebut mencapai jutaan hektare. Ekspansi tersebut dinilai berdampak pada hilangnya tutupan hutan, menurunnya keanekaragaman hayati, serta terganggunya sistem penghidupan masyarakat adat yang bergantung pada hutan sebagai sumber pangan, budaya, dan identitas sosial.

Tekanan serupa, menurut Solidaritas Rakyat Papua, juga terjadi di sejumlah wilayah lain seperti Biak, Halmahera, Morowali, dan Kulon Progo. Deretan proyek berskala besar itu dianggap mencerminkan persoalan struktural dalam tata kelola pembangunan nasional, terutama terkait perlindungan hak masyarakat adat dan keberlanjutan lingkungan.

Di Sorong Raya, Solidaritas Rakyat Papua mengungkapkan kekhawatiran atas rencana konversi sekitar 98 ribu hektare hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Kawasan tersebut disebut sebagai ruang hidup masyarakat adat. Jika proyek terealisasi, perubahan bentang alam dinilai tidak terhindarkan dan berpotensi memicu konflik sosial serta tekanan ekologis yang lebih luas di Papua Barat Daya.

Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi se-Sorong Raya menegaskan proses perizinan dan pengambilan keputusan harus dilakukan secara transparan serta melibatkan partisipasi penuh masyarakat terdampak. Prinsip tersebut dinilai sejalan dengan amanat demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia.

Sebagai tindak lanjut konsolidasi, Solidaritas Rakyat Papua Pro Demokrasi se-Sorong Raya mengundang masyarakat untuk terlibat dalam diskusi publik dan penguatan solidaritas sipil guna mendorong perlindungan hutan adat serta model pembangunan yang lebih adil dan inklusif di Papua. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Meki Nawipa Dorong Kadin Papua Tengah Gerakkan Ekonomi Lokal, Kurangi Ketergantungan Pertambangan

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mendorong Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi…

9 jam ago

Belanja Perubahan APBD Papua Tengah Naik Rp1,27 Triliun, Gubernur Meki Tekankan Akuntabilitas

NABIRE, TOMEI.ID | Belanja daerah dalam Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Papua Tengah Tahun…

9 jam ago

7 Tahun Peristiwa Expo Waena, FIM-WP Manokwari Gelar Diskusi dan Seribu Lilin Kenang Ason Mujizau

MANOKWARI, TOMEI.ID | Komite Pimpinan Kota (KPK) Forum Independen Mahasiswa West Papua (FIM-WP) Manokwari, Papua…

13 jam ago

KOMPASS Desak Investigasi Independen atas Laporan Dugaan Penembakan Warga di Samboga Yahukimo

SUMUT, TOMEI.ID | Ketua Umum Komunitas Mahasiswa Papua Se-Sumatera (KOMPASS), Anderian Kamo, mendesak dilakukan investigasi…

13 jam ago

Badan Pengurus Asrama Putra Paniai di Kota Studi Jayapura Minta Pemerintah Benahi Asrama Mahasiswa

JAYAPURA, TOMEI.ID | Badan Pengurus Asrama (BPA) Paniai di Kota Study Jayapura, Fredy Mote menyampaikan…

13 jam ago

DPR Papua Tengah Minta Staf Perjelas Status Rapat kepada Wartawan

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, meminta jajaran staf…

13 jam ago