Berita

Tiga Warga Diduga Tertembak di Maybrat, Organisasi Katolik Desak Investigasi Independen

MAYBRAT, TOMEI.ID | Organisasi Katolik mendesak penyelidikan yang transparan dan independen atas dugaan penembakan terhadap tiga warga sipil di kawasan Muara Aifat, Distrik Aifat Timur Tengah, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 17.20 WIT pada 14 Agustus 2026, dengan tiga warga yang disebut mengalami luka tembak, yakni Silvester Asem, Anike Fatie, dan Selviana Sory.

Organisasi Katolik menyatakan dugaan kekerasan terhadap warga sipil harus diusut secara objektif dan berdasarkan hukum. Mereka menilai tidak boleh ada impunitas apabila hasil penyelidikan nantinya menemukan adanya pelanggaran.

“Kami mengecam keras segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat sipil. Negara wajib hadir untuk memberikan rasa aman dan perlindungan kepada masyarakat,” demikian sikap organisasi tersebut dalam konferensi pers.

Kronologi Awal

Berdasarkan informasi awal yang disampaikan, ketiga warga berada di sekitar pondok dan kebun masyarakat ketika terdengar suara tembakan.

Anike Fatie disebut sedang berada di sekitar kali ketika mendengar suara tembakan. Ia awalnya mengira suara tersebut berasal dari petasan. Namun, setelah melihat ke sekitar, tiga ekor anjing yang dibawanya ke kali disebut terkena tembakan.

Tidak lama kemudian, suara tembakan kembali terdengar dari arah belakang.

Silvester Asem yang berada di pondok kemudian disebut berusaha menyelamatkan diri. Ia dilaporkan mengalami luka pada bagian paha hingga tembus.

Sementara itu, Anike Fatie disebut mengalami luka pada bagian bahu yang mengenai hingga bagian telinga. Selviana Sory dilaporkan mengalami luka pada bagian betis hingga tembus.

Dugaan Keterlibatan Aparat Masih Perlu Dibuktikan

Organisasi Katolik menyebut berdasarkan informasi awal dari masyarakat, dugaan penembakan tersebut melibatkan personel TNI Angkatan Laut (TNI AL) yang bertugas di Pos Sory, Kampung Aifam, Distrik Aifat Timur Tengah.

Namun, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta. Keterlibatan personel maupun institusi tertentu, menurut organisasi tersebut, harus dibuktikan melalui penyelidikan resmi, objektif, dan independen.

Karena itu, organisasi Katolik mendesak aparat penegak hukum dan institusi terkait segera mengungkap secara terang kronologi kejadian, pihak yang terlibat, motif, serta penggunaan senjata dalam insiden tersebut.

“Siapa pun pelakunya, apabila terbukti melakukan kekerasan terhadap warga sipil, harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui mekanisme hukum,” tegas organisasi tersebut.

Korban Diminta Mendapat Perlindungan

Selain meminta proses hukum berjalan, organisasi Katolik mendesak pemerintah memastikan ketiga korban mendapatkan perawatan medis, pendampingan, pemulihan, serta perlindungan hukum.

Saksi dan keluarga korban juga dinilai perlu mendapatkan jaminan keamanan agar dapat memberikan keterangan tanpa intimidasi maupun tekanan dari pihak mana pun.

Organisasi tersebut juga meminta seluruh pihak mencegah munculnya tindakan balasan yang berpotensi memperluas konflik di wilayah Maybrat.

Menurut mereka, masyarakat sipil tidak boleh menjadi korban dalam situasi keamanan yang berkembang di wilayah yang rawan konflik.

Dorong Pengungkapan Fakta

Organisasi Katolik mengingatkan bahwa masyarakat di wilayah rawan keamanan tetap memiliki hak untuk hidup aman, memperoleh pelayanan kesehatan, serta menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa ancaman kekerasan.

Pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan diminta bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif.

Seluruh pihak juga diimbau menahan diri dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pendekatan kemanusiaan, dialog, dan penghormatan terhadap hak masyarakat sipil dinilai penting untuk mencegah insiden berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

“Kami berdiri bersama para korban dan keluarga korban. Kami mendesak adanya kebenaran, keadilan, dan kepastian hukum. Masyarakat Maybrat berhak hidup aman di tanahnya sendiri,” demikian pernyataan organisasi Katolik.

Hingga berita ini diterbitkan, informasi mengenai pelaku, kronologi lengkap, dan dugaan keterlibatan institusi tertentu masih berdasarkan keterangan awal dalam konferensi pers.

Tim redaksi tomei.id belum memperoleh konfirmasi dari pihak TNI, Polri, maupun Pemerintah Kabupaten Maybrat terkait dugaan penembakan tersebut. Ruang klarifikasi tetap terbuka bagi seluruh pihak untuk menjaga keberimbangan dan akurasi pemberitaan. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Berita Foto: Safety Goes to School IFRC 2026 Edukasi 1.000 pelajar Mimika tentang Budaya Keselamatan

TIMIKA, TOMEI.ID | Membuka rangkaian the 8th Indonesian Fire  and Rescue Competition (IFRC) 2026, para personel…

8 menit ago

Berita Foto: Safety Goes to School IFRC 2026 Edukasi 1.000 pelajar Mimika tentang Budaya Keselamatan

TIMIKA, TOMEI.ID | Membuka rangkaian the 8th Indonesian Fire  and Rescue Competition (IFRC) 2026, para personel…

18 menit ago

PSTI Papua Tengah Mulai Bergerak, Matangkan Program Menuju Pra-PON 2027

NABIRE, TOMEI.ID | Pengurus Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Provinsi Papua Tengah mulai mematangkan program…

56 menit ago

Festival Kopi Papua Tengah Hadirkan Petani dari Delapan Kabupaten, Andreas: Ko Tidak Datang, Ko Rugi!

NABIRE, TOMEI.ID | Festival Kopi Papua Tengah akan menghadirkan kelompok tani kopi dari delapan kabupaten…

1 jam ago

IFRC 2026 Bekali 1.000 Pelajar Mimika dengan Keterampilan Keselamatan dan Pertolongan Pertama

TIMIKA, TOMEI.ID | Lebih dari 1.000 pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Mimika, Papua Tengah,…

1 jam ago

Sampah Nyaris Tutupi Badan Jalan di Djayanti Nabire, Warga Desak Penegakan Aturan

NABIRE, TOMEI.ID | Tumpukan sampah nyaris menutupi badan jalan di Kelurahan Djayanti, Kabupaten Nabire, Papua…

2 jam ago