Berita

TPNPB Klaim Tembak 6 Aparat di Tambrauw, Fasilitas Perusahaan Dibakar

TAMBRAUW, TOMEI.ID | Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XXXIII Rumana Tambrauw mengklaim telah menembak enam orang yang disebut sebagai aparat keamanan dan agen intelijen dalam rangkaian operasi bersenjata di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, pada 4–5 November 2026.

Selain penembakan, kelompok tersebut juga mengklaim membakar sejumlah fasilitas perusahaan, termasuk basecamp dan sejumlah kendaraan di wilayah yang disebut sebagai lokasi operasi.

Klaim tersebut disampaikan melalui Siaran Pers II Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang ditandatangani Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, pada Jumat (6/11/2026).

Dalam siaran pers tersebut, TPNPB menyebut aksi pertama terjadi pada 4 November 2026 di Kampung Sikor, Distrik Faf, Kabupaten Tambrauw. Kelompok itu mengklaim dua anggota militer dan dua orang yang mereka sebut sebagai agen intelijen menjadi korban dalam operasi tersebut.

TPNPB juga mengklaim membakar sejumlah fasilitas perusahaan di lokasi itu. Fasilitas yang disebut dalam pernyataan tersebut meliputi basecamp, sepeda motor, mobil jenis Hilux, truk hingga alat berat excavator.

Sehari kemudian, kelompok tersebut kembali mengklaim melakukan penembakan terhadap rombongan aparat di sekitar Kampung Imor, Distrik Vep, pada 5 November 2026 sekitar pukul 09.00 WIT.

Menurut pernyataan TPNPB, dua anggota Brigade Mobil atau Brimob disebut menjadi korban dalam kejadian tersebut. Dengan demikian, kelompok itu mengklaim total enam orang yang mereka sebut sebagai aparat keamanan dan agen intelijen menjadi korban dalam operasi bersenjata selama dua hari.

Namun, seluruh informasi mengenai jumlah korban, identitas korban, kondisi korban, kronologi kejadian, hingga kerusakan fasilitas tersebut masih merupakan klaim sepihak TPNPB dan belum dapat diverifikasi secara independen oleh TOMEI.ID.

Keterangan resmi dari TNI, Polri maupun Pemerintah Kabupaten Tambrauw diperlukan untuk memastikan fakta di lapangan, termasuk jumlah korban serta dampak dari rangkaian peristiwa yang diklaim terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Tambrauw tersebut.

Dalam pernyataan yang sama, TPNPB juga mengklaim telah membebaskan sejumlah perempuan yang mereka sebut sebagai warga pendatang Indonesia dari lokasi operasi di Kampung Imor.

Pada saat bersamaan, kelompok tersebut menyampaikan pernyataan yang mengancam warga pendatang yang masih berada di wilayah yang mereka klaim sebagai daerah operasi.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan warga sipil. Masyarakat yang berada di wilayah konflik mencakup berbagai profesi, mulai dari guru, tenaga kesehatan, sopir, pengemudi ojek, pekerja bangunan hingga profesi lain yang menjalankan aktivitas sehari-hari.

TPNPB juga kembali menegaskan penolakannya terhadap pembangunan dan aktivitas perusahaan di Papua. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebut sejumlah fasilitas pemerintah maupun perusahaan yang berada di wilayah operasi berpotensi menjadi sasaran aksi mereka.

Kelompok itu kemudian mengaitkan rangkaian aksi bersenjata di Tambrauw dengan tuntutan politik Papua. Mereka juga meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB untuk bertanggung jawab terhadap persoalan politik dan konflik yang terjadi di Papua.

Dalam siaran persnya, TPNPB turut mengklaim lebih dari 127 ribu warga sipil telah mengungsi akibat konflik bersenjata dan operasi militer di berbagai wilayah Papua. Angka tersebut merupakan klaim TPNPB dan masih memerlukan verifikasi dari pemerintah maupun lembaga independen yang memiliki data terkait pengungsian warga sipil.

Siaran pers tersebut turut mencantumkan nama sejumlah pimpinan TPNPB-OPM, di antaranya Panglima Tinggi TPNPB-OPM Jenderal Goliath Tabuni, Wakil Panglima Letnan Jenderal Melkisedek Awom, Kepala Staf Umum Mayor Jenderal Terianus Satto, serta Komandan Operasi Umum Mayor Jenderal Lekagak Telenggen.

Hingga berita ini ditayangkan, redaksi tomei.id masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak TNI, Polri dan Pemerintah Kabupaten Tambrauw terkait klaim penembakan enam orang serta pembakaran sejumlah fasilitas perusahaan tersebut. Belum ada keterangan resmi yang dapat mengonfirmasi secara independen seluruh klaim yang disampaikan TPNPB. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

IMPT YYP Manokwari Perkuat Solidaritas Mahasiswa Lewat Kegiatan Fisik di Muara Kali Pami

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) Koordinator Wilayah Kabupaten Yalimo, Yahukimo, dan Pegunungan…

1 jam ago

Lupa Padamkan Api, Bengkel Mobil di Siriwini Nabire Ludes Terbakar

NABIRE, TOMEI.ID | Satu unit bengkel mobil di Jalan R.E. Martadinata, Siriwini, Kabupaten Nabire, samping…

2 jam ago

Mahasiswa Paniai di Jakarta Soroti Situasi Keamanan dan Desak Perlindungan Masyarakat Sipil

JAKARTA, TOMEI.ID | Solidaritas Mahasiswa/i Kabupaten Paniai Se-Indonesia Kota Studi Jakarta bersama Front Anti-Militerisme &…

6 jam ago

Flyer Hoaks CPNS November 2026 Catut Nama Gubernur Meki Nawipa, Jubir: Jangan Sampai Warga Tertipu!

NABIRE, TOMEI.ID | Masyarakat Papua Tengah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap beredarnya flyer hoaks terkait rekrutmen…

6 jam ago

Gema Tuduh Dugaan Penyadapan Prabowo Berkaitan dengan Makar dan Aliran Dana Rp25 Triliun

JAKARTA, TOMEI.ID | Pendiri Astronacci International Group, Profesor Gema, melontarkan sejumlah tudingan serius terkait dugaan…

10 jam ago

KOMAKAPA Manado Desak Dialog Terbuka soal Militer, Investasi dan Pengungsian di Paniai

MANADO, TOMEI.ID | Komunitas Mahasiswa Kabupaten Paniai (KOMAKAPA) Kota Studi Manado mendesak pemerintah membuka ruang…

21 jam ago