11 Orang Luka, 8 Kendaraan Rusak; Dua Kelompok di Nabire Sepakat Berdamai

oleh -1182 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Dua kelompok masyarakat yang terlibat keributan di kawasan depan SMP Negeri 2 Nabire Bumi Wonorejo, Jalan Perintis, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, akhirnya sepakat berdamai.

Meski begitu, insiden tersebut menyisakan dampak, dengan sedikitnya 11 orang mengalami luka-luka dan delapan unit kendaraan mengalami kerusakan.

banner 728x90

Kesepakatan damai itu dicapai melalui pertemuan mediasi yang melibatkan kedua kelompok bersama sejumlah tokoh masyarakat di Polres Nabire, Sabtu (17/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang konflik.

Wakil Kepala Kepolisian Resor (Waka Polres) Nabire, Kompol Henri Alfredo Korwa, menegaskan bahwa proses perdamaian telah disetujui secara bersama tanpa paksaan.

“Proses penyelesaian masalah sudah disepakati. Kedua pihak telah menyepakati penyelesaian secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang kejadian ini,” ujar Henri.

Sebagai bentuk komitmen, kedua kelompok menandatangani surat pernyataan damai yang memuat empat poin kesepakatan utama. Poin-poin tersebut meliputi komitmen menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, kesediaan untuk saling memaafkan, tanggung jawab masing-masing pihak terhadap korban maupun kerusakan yang ditimbulkan, serta ketentuan bahwa setiap insiden baru yang terjadi setelah penandatanganan kesepakatan akan diperlakukan sebagai persoalan hukum yang terpisah.

Henri meminta kedua kelompok untuk mematuhi seluruh isi kesepakatan secara konsisten dan menghindari segala tindakan yang berpotensi memicu keributan susulan. Menurutnya, perdamaian ini diharapkan menjadi titik awal untuk memperbaiki hubungan antarwarga sekaligus menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Bumiwonorejo.

Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan lanjutan, Polres Nabire mengerahkan 100 personel gabungan yang terdiri dari personel Polres Nabire dan Brimob Batalyon A Polda Papua Tengah. Personel tersebut disiagakan untuk menjaga keamanan, mengendalikan situasi di lapangan, dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya aksi balasan.

Meski kedua kelompok telah sepakat berdamai, aparat keamanan tetap melakukan penjagaan ketat di lokasi kejadian. Pengamanan dilakukan secara berlapis sejak pagi hingga sore hari dan dilanjutkan hingga malam untuk memastikan situasi benar-benar kondusif dan terkendali.

Terkait pemicu awal keributan, Henri menjelaskan bahwa berdasarkan informasi sementara yang dihimpun di lapangan, insiden tersebut diduga bermula dari kesalahpahaman terkait sampah rumah tangga yang dibuang ke halaman milik warga lain. Namun demikian, pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman dan pemeriksaan untuk memastikan penyebab pasti kejadian.

“Untuk penyebabnya, informasi awal memang ada miskomunikasi terkait sampah rumah tangga yang dibuang ke halaman. Namun, prinsipnya kami masih melakukan pengecekan di lapangan,” jelas Henri.

Pihak kepolisian juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak mudah terpancing dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Informasi hoaks dikhawatirkan justru dapat memperkeruh suasana dan memicu persoalan baru yang lebih luas.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak termakan informasi yang tidak benar. Apabila ada informasi yang valid, nanti akan kami sampaikan secara resmi. Jadi, semuanya diserahkan kepada pihak keamanan,” katanya.

Henri pun mengajak seluruh warga untuk menahan diri, menjaga komunikasi yang baik, serta menyerahkan sepenuhnya penanganan persoalan kepada aparat keamanan. Ia berharap kedua kelompok dapat menghormati dan menjalankan kesepakatan damai yang telah ditandatangani, sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan situasi kamtibmas di Kabupaten Nabire tetap kondusif. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.