SIRIWO, TOMEI.ID | Kesetiaan yang dijaga selama hampir dua dekade akhirnya berbuah pengakuan dan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar. Ibu Kornelia (Kori) Butu resmi dilantik sebagai Akolit dalam Ibadah Ucapan Syukur yang dirangkaikan dengan syukuran rehabilitasi Gereja Katolik Santo Yoseph KM 100, Distrik Siriwo, Sabtu, (30/5/2026).
Perayaan yang berlangsung penuh sukacita dan haru tersebut tidak hanya menjadi momentum pelantikan seorang pelayan gereja, tetapi juga penanda perjalanan panjang iman dan pengabdian yang telah dijalani Kornelia Butu selama 18 tahun bersama umat Katolik di wilayah Siriwo.
Pelantikan itu sekaligus menjadi ungkapan syukur atas usia ke-18 Gereja Katolik Santo Yoseph KM 100 yang selama ini menjadi pusat pembinaan iman umat di wilayah Ogeiye Siriwo.
Dalam sambutannya, Kornelia Butu mengaku seluruh perjalanan pelayanannya merupakan buah dari kasih dan penyertaan Tuhan di tengah berbagai keterbatasan yang pernah dihadapi.
“Saya dilantik bukan karena saya hebat, tetapi karena pertolongan Tuhan. Saya bersyukur atas kasih dan penyertaan Tuhan dalam seluruh perjalanan pelayanan ini,” ujar Kornelia.
Perjalanan pelayanan Kornelia Butu dimulai sejak kedatangannya di KM 100 pada 7 Juli 1998 setelah menikah dengan Yeremias Tagi. Saat itu, umat Katolik di wilayah tersebut belum memiliki gereja sendiri dan masih beribadah bersama jemaat Protestan.
Melihat kebutuhan umat akan tempat ibadah, pemerintah daerah saat itu memberikan dukungan awal untuk mencari lokasi pelayanan. Karena keterbatasan dana pembangunan, bekas rumah dinas Distrik Siriwo kemudian dimanfaatkan sebagai tempat ibadah sementara selama beberapa tahun.
Perjuangan umat akhirnya membuahkan hasil ketika pembangunan Gereja Katolik Santo Yoseph KM 100 dimulai pada 2007. Setahun kemudian gereja tersebut diresmikan, bersamaan dengan pelantikan Kornelia Butu sebagai pewarta gereja yang aktif melayani umat hingga sekarang.
Namun perjalanan menuju pelantikan sebagai Akolit tidak berjalan mudah. Di tengah proses pelayanan, Kornelia Butu sempat mengalami sakit berat hingga tidak sadarkan diri. Dalam kondisi tersebut, ia mengaku menyerahkan seluruh hidup dan pelayanannya kepada Tuhan.
Pergumulan iman itu justru semakin menguatkan tekadnya untuk tetap melayani umat. Setelah dipulihkan, ia kembali menjalankan tugas pelayanan hingga akhirnya menerima rahmat pelantikan sebagai Akolit.
Kesetiaan tersebut juga diuji ketika jumlah umat Katolik di KM 100 mengalami penurunan setelah terbentuknya stasi baru di wilayah KM 93 yang kemudian berkembang menjadi Gereja Santo Agustinus Wagiya pada 2017.
Bahkan pernah ada masa ketika ibadah hanya dihadiri beberapa keluarga saja. Dalam situasi itu, Kornelia Butu tetap setia memimpin pelayanan dari minggu ke minggu bersama umat yang tersisa.
Dalam homilinya, Pater Octovianus Taena, Pr. menegaskan bahwa kesetiaan dalam pelayanan merupakan bentuk nyata penghayatan iman Kristiani.
Mengutip Injil Lukas 6:20, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah,” Pater Octovianus menjelaskan bahwa kemiskinan yang dimaksud Yesus bukan hanya soal materi, tetapi kerendahan hati dan ketergantungan penuh kepada Tuhan.
Menurutnya, perjalanan hidup Kornelia Butu mencerminkan nilai Injil tersebut, yakni tetap setia melayani dalam keterbatasan dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan.
Selain pelantikan Akolit, perayaan tersebut juga menjadi momentum syukur atas dimulainya rehabilitasi Gereja Santo Yoseph KM 100 setelah 18 tahun melayani umat.
Yohanes Iyai dari Dewan Paroki Santo Antonius Bumi Wonorejo mengatakan bahwa rehabilitasi gereja menjadi langkah penting untuk memperkuat kehidupan rohani umat sekaligus mempersiapkan pelayanan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Ia juga mengungkapkan rencana pembangunan Gua Maria dan Jalan Salib 14 Perhentian sebagai sarana doa, ziarah, dan pendalaman iman umat Katolik di Siriwo.
Perayaan syukur ini menjadi bukti bahwa gereja tidak hanya dibangun oleh tembok dan bangunan fisik, tetapi oleh kesetiaan, pengorbanan, dan pelayanan yang terus hidup di tengah umat. Pelantikan Kornelia Butu sebagai Akolit menjadi simbol bahwa pengabdian yang dijalani dengan tulus akan selalu menemukan maknanya dalam karya pelayanan yang lebih besar.
Di usia ke-18 tahun Gereja Santo Yoseph KM 100, semangat iman, persaudaraan, dan pengabdian yang diwariskan para pelayan gereja diharapkan terus menjadi fondasi bagi pertumbuhan umat Katolik di Siriwo pada masa yang akan datang. [*].
NABIRE, TOMEI.ID | Human Rights Defender (HRD) mendesak aparat TNI-Polri segera membebaskan Erner Kobogau (24),…
JAYAPURA, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyatakan situasi kemanusiaan di Tanah Papua kian…
MIMIKA, TOMEI.ID | PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan dengan melepas…
BIAK, TOMEI.ID | Ledakan dahsyat mengguncang kawasan permukiman padat penduduk di Kampung Yenures, Distrik Biak…
JAKARTA, TOMEI.ID | Solidaritas Mahasiswa Paniai Se-Indonesia Kota Studi Jakarta menegaskan penolakan terhadap rencana pembentukan…
JAYAPURA, TOMEI.ID | Perayaan Dies Natalis ke-29 Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Pegunungan Bintang (IMPPETANG) se-Indonesia…