JAYAPURA, TOMEI.ID | Mahasiswa Yahukimo yang berada di Kota Studi Jayapura mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo segera menyediakan asrama dan memastikan tempat tinggal yang layak bagi mahasiswa Yahukimo yang sedang menempuh pendidikan di Kota Studi Manokwari, di Papua Barat.
Mahasiswa menilai persoalan tempat tinggal di Manokwari harus segera mendapatkan penyelesaian karena menyangkut kebutuhan dasar dan keberlanjutan pendidikan mahasiswa Yahukimo, sekaligus memastikan mereka dapat belajar dengan aman, layak, dan fokus tanpa terbebani persoalan hunian.
Persoalan ini mencuat setelah mahasiswa Yahukimo di Manokwari kehilangan tempat tinggal akibat kontrakan yang selama ini digunakan sebagai hunian diminta untuk dikosongkan. Mereka kemudian mencari tempat perlindungan sementara dan sebagian ditampung di lingkungan Gereja GIDI Manokwari.
Ketua Asrama Mahasiswa Putra Yahukimo di Jayapura, Erwin Solonggik, menyampaikan kekecewaannya terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Yahukimo yang menurutnya belum memberikan kepastian penyelesaian terhadap kebutuhan dasar mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari.
Erwin mengatakan, mahasiswa Yahukimo di Manokwari sebelumnya telah melakukan berbagai upaya komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Yahukimo untuk menyampaikan kondisi yang mereka hadapi dan meminta perhatian pemerintah daerah.
Menurut dia, perwakilan mahasiswa bahkan telah menyampaikan permohonan secara tertulis serta mendatangi sejumlah pejabat pemerintah daerah untuk mencari jalan keluar atas persoalan tersebut agar kebutuhan tempat tinggal dan keberlanjutan pendidikan segera mendapatkan kepastian.
Ia menyebut mahasiswa telah berupaya bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Wakil Bupati Yahukimo. Namun, menurut Erwin, upaya tersebut belum menghasilkan kepastian mengenai tempat tinggal dan keberlanjutan dukungan pendidikan bagi mahasiswa di Manokwari.
“Mahasiswa sudah menyampaikan permohonan secara tertulis. Pimpinan mahasiswa Kota Studi Manokwari juga sudah ke Yahukimo untuk berupaya bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Wakil Bupati Yahukimo. Kami berharap ada kebijakan yang memberikan kepastian bagi mahasiswa,” kata Erwin dalam konferensi pers di Asrama Mahasiswa Putra Yahukimo, Jayapura, Minggu (4/10/2026).
Menurut Erwin, persoalan tunggakan pembayaran kontrakan dan keberlanjutan bantuan mahasiswa tidak semestinya berdampak pada keberlangsungan pendidikan generasi muda Yahukimo.
Ia menilai mahasiswa merupakan bagian penting dari sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk melanjutkan pembangunan Kabupaten Yahukimo. Karena itu, kebutuhan dasar selama menjalani pendidikan, termasuk tempat tinggal yang layak, dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.
Sementara itu, ditempat yang sama, Ronal Yohame menegaskan Pemerintah Kabupaten Yahukimo perlu menghindari kebijakan atau pernyataan yang menurut mahasiswa dapat merugikan keberlanjutan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Yahukimo.
“Mahasiswa Yahukimo di Manokwari merupakan penerus Kabupaten Yahukimo. Karena itu, pemerintah wajib memperhatikan kebutuhan dasar mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan,” tegasnya.
Ia mengatakan, dukungan terhadap mahasiswa juga berkaitan dengan pemanfaatan program pendidikan dalam kerangka Otonomi Khusus (Otsus), sebagai bagian penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Yahukimo di masa mendatang.
Menurutnya, mahasiswa membutuhkan kepastian dukungan agar dapat menyelesaikan pendidikan dan mempersiapkan diri kembali berkontribusi bagi masyarakat serta pembangunan daerah dengan membawa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman untuk kemajuan Yahukimo.
Ronal menambahkan, mahasiswa tidak ingin persoalan administratif dan kebijakan pemerintah daerah berujung pada terhambatnya proses pendidikan. Karena itu, ia meminta pemerintah membuka ruang dialog dan mencari solusi yang dapat menjamin mahasiswa tetap memperoleh tempat tinggal serta dukungan pendidikan yang memadai.
Tujuh Poin Desakan Mahasiswa
Dalam konferensi pers tersebut, mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Jayapura menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Yahukimo.
Pertama, mahasiswa meminta bantuan studi tidak dihentikan di berbagai kota studi selama persoalan mahasiswa Yahukimo di Manokwari, khususnya kebutuhan tempat tinggal, belum memperoleh penyelesaian.
Kedua, mahasiswa mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo segera menyediakan tempat tinggal yang layak dan memberikan kepastian hunian bagi mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari.
Ketiga, mahasiswa mendesak Komisi C DPR Kabupaten Yahukimo melakukan evaluasi terhadap kebijakan pemerintah daerah yang dinilai berdampak terhadap mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Keempat, mahasiswa meminta dilakukan pemeriksaan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas penahanan atau penghentian bantuan studi bagi mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari.
Kelima, mahasiswa mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo mengambil langkah terhadap pejabat terkait apabila persoalan tempat tinggal dan bantuan pendidikan mahasiswa tidak segera diselesaikan.
Keenam, mahasiswa mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membentuk tim dan melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan dana Otsus bidang pendidikan di Kabupaten Yahukimo.
Ketujuh, mahasiswa mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo segera membangun asrama permanen bagi mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari sebagai solusi jangka panjang terhadap persoalan tempat tinggal.
Desakan pembangunan asrama tersebut dinilai penting karena mahasiswa membutuhkan fasilitas yang lebih permanen dan tidak terus bergantung pada kontrakan. Persoalan pemondokan sebelumnya juga telah menjadi perhatian organisasi mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Mahasiswa Siapkan Langkah Lanjutan
Selain menyampaikan tujuh poin desakan, mahasiswa juga menyatakan akan mengambil langkah lanjutan apabila tuntutan tersebut tidak mendapatkan respons dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo.
Mahasiswa menyatakan akan melakukan aksi di Jayapura dengan mendatangi kediaman Bupati Yahukimo dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo apabila persoalan pembayaran tempat tinggal mahasiswa di Manokwari tidak segera mendapatkan penyelesaian.
Mahasiswa juga menyampaikan rencana untuk mengonsolidasikan mahasiswa Yahukimo di berbagai kota studi di Indonesia apabila pemerintah daerah tidak memberikan respons terhadap tuntutan yang telah disampaikan.
Dalam pernyataannya, mereka menyebut kemungkinan melakukan aksi massa hingga mendatangi Kabupaten Yahukimo untuk menyampaikan tuntutan secara langsung serta meminta pertanggungjawaban pemerintah daerah atas persoalan yang dihadapi mahasiswa.
Sebagai penegasan, langkah tersebut masih sebatas rencana dan sikap mahasiswa, bukan tindakan yang telah dilakukan, melainkan bentuk tekanan agar pemerintah segera mengambil keputusan konkret.
Persoalan tempat tinggal mahasiswa Yahukimo di Manokwari sebelumnya memang telah berkembang menjadi masalah serius. Lebih dari 100 mahasiswa dilaporkan meninggalkan kontrakan di kawasan Amban pada 3 Oktober 2026 dan kemudian mencari tempat perlindungan sementara di lingkungan Gereja GIDI Manokwari.
Mahasiswa berharap Pemerintah Kabupaten Yahukimo segera membuka komunikasi bersama perwakilan mahasiswa, pemilik kontrakan, serta pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan pembayaran dan memastikan mahasiswa kembali memperoleh tempat tinggal yang layak.
Bagi mahasiswa Yahukimo di Jayapura, penyelesaian persoalan tersebut bukan semata mengenai kontrakan, melainkan menyangkut keberlanjutan pendidikan dan masa depan sumber daya manusia Yahukimo, sehingga proses belajar dapat berlangsung aman, nyaman, dan tanpa hambatan.
Karena itu, mereka meminta pemerintah daerah menghadirkan solusi yang konkret, terukur, dan berkelanjutan agar mahasiswa dapat kembali fokus menjalani pendidikan, sekaligus memberikan kepastian bagi mahasiswa dalam menyelesaikan studi secara optimal. [*].










