KPA Paniai Perkuat Edukasi HIV-AIDS di Sekolah, Ratusan Siswa SMA YPPGI Ikuti Sosialisasi

oleh -1 Dilihat

PANIAI, TOMEI.ID | Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Paniai memperluas edukasi pencegahan HIV dan AIDS di lingkungan pendidikan dengan menyasar ratusan siswa SMA YPPGI Wissel Meren Enarotali, Distrik Fajar Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Jumat (6/11/2026).

BACA JUGA: KPA Paniai Salurkan Bantuan Pangan, Dorong Dukungan Nutrisi bagi ODHA

banner 728x90

Sosialisasi tersebut difokuskan pada peningkatan pengetahuan generasi muda mengenai HIV-AIDS, cara penularan, langkah pencegahan, serta pentingnya menghindari stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV).

Sekretaris KPA Kabupaten Paniai, Agustinus Muyapa, mengatakan edukasi HIV-AIDS di lingkungan sekolah merupakan langkah penting untuk membangun kesadaran dan pemahaman generasi muda terhadap persoalan kesehatan tersebut.

BACA JUGA: KPA Edukasi Anak dan Remaja Katolik di Paniai, Pencegahan HIV-AIDS Harus Dimulai Sejak Dini

Menurut Agustinus, pengetahuan yang benar mengenai HIV-AIDS perlu diberikan sejak dini agar para pelajar mampu memahami risiko penularan, mengetahui langkah pencegahan, serta menerapkan perilaku yang bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan diri.

“Kami berharap melalui kegiatan sosialisasi ini, para siswa dapat memperoleh pengetahuan yang baik tentang HIV-AIDS. Generasi muda harus memahami bagaimana cara pencegahan, menjaga kesehatan diri, serta menjadi bagian dari upaya penanggulangan HIV-AIDS di Kabupaten Paniai,” ujarnya.

Ia menegaskan, keterlibatan generasi muda dalam penyebaran informasi kesehatan yang benar menjadi salah satu bagian penting untuk memperkuat upaya pencegahan HIV-AIDS di tengah masyarakat.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA YPPGI Wissel Meren Enarotali, Aser Pekei, mengapresiasi langkah KPA Kabupaten Paniai yang telah menghadirkan edukasi kesehatan langsung kepada peserta didiknya.

Aser menilai sosialisasi tersebut memberikan pengetahuan tambahan yang relevan dengan kehidupan dan kesehatan generasi muda. Pemahaman yang benar dinilai penting agar siswa tidak terpengaruh informasi keliru maupun pandangan negatif terhadap orang yang hidup dengan HIV.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada KPA Kabupaten Paniai yang telah datang memberikan sosialisasi kepada anak-anak didik kami. Materi ini sangat penting agar siswa memiliki pemahaman yang benar tentang HIV-AIDS dan mampu menjaga diri serta kesehatan mereka,” ungkapnya.

Dalam pemaparan materi, Kosmas Kudubun, menjelaskan pengertian HIV dan AIDS, perbedaan keduanya, mekanisme penularan, langkah pencegahan, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan. Edukasi tersebut juga diarahkan untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman yang masih berkembang di masyarakat mengenai penularan HIV.

Kosmas menjelaskan bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari, seperti berjabat tangan, duduk bersama, belajar dalam satu ruangan, maupun melakukan aktivitas bersama. Karena itu, masyarakat perlu memahami informasi medis secara benar agar tidak menimbulkan ketakutan dan perlakuan diskriminatif terhadap ODHIV.

“HIV tidak menular melalui pergaulan sosial sehari-hari, seperti berjabat tangan, duduk bersama, belajar dalam satu ruangan, maupun beraktivitas bersama. Karena itu, kita harus memiliki pengetahuan yang benar dan tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap sesama,” jelasnya.

Ia berharap para siswa tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga mampu menjadi penyampai informasi kesehatan yang benar di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian, pengetahuan mengenai HIV-AIDS dapat menjangkau lebih banyak kalangan, terutama generasi muda.

Sosialisasi tersebut merupakan bagian dari komitmen KPA Kabupaten Paniai dalam memperluas jangkauan edukasi pencegahan HIV-AIDS melalui berbagai lingkungan, termasuk sekolah, gereja, komunitas, dan elemen masyarakat lainnya.

Melalui kegiatan ini, KPA Kabupaten Paniai mendorong peningkatan kesadaran generasi muda agar lebih memahami pencegahan HIV-AIDS, tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru, serta membangun kepedulian terhadap sesama tanpa stigma dan diskriminasi.

Upaya penanggulangan HIV-AIDS membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan menjadi salah satu langkah penting untuk membangun lingkungan yang sadar kesehatan, terbuka terhadap informasi medis, dan menghormati hak setiap.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.