Berita

Akademisi Uncen Nilai Wacana Pembubaran MRP Perlu Dikaji Secara Akademik dan Dialogis

JAYAPURA, TOMEI.ID | Wacana pembubaran Majelis Rakyat Papua (MRP) yang kembali mencuat di ruang publik dinilai perlu disikapi secara hati-hati melalui kajian akademik serta dialog terbuka.

Dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura, Prof. Dr. Vince Tebay, mengatakan keberadaan MRP merupakan bagian penting dari implementasi Otonomi Khusus Papua yang memiliki mandat melindungi kepentingan Orang Asli Papua (OAP).

Menurut Prof. Vince Tebay, MRP dibentuk berdasarkan Undang-Undang Otonomi Khusus Papua sebagai lembaga representatif kultural yang memiliki fungsi memberikan pertimbangan terhadap kebijakan pemerintah daerah yang berkaitan dengan aspek adat, agama, dan budaya.

“MRP memiliki posisi yang berbeda dengan lembaga politik seperti DPR Papua. Lembaga ini berfungsi sebagai representasi unsur adat, agama, dan perempuan Papua dalam sistem pemerintahan daerah,” kata Prof. Dr. Vince Tebay dalam keterangan tertulis yang diterima tomei.id, Senin (16/3/2026).

Dalam beberapa waktu terakhir, wacana pembubaran MRP muncul dari sejumlah kalangan yang menilai lembaga tersebut perlu dievaluasi secara serius.

Sebagian pihak menganggap struktur kelembagaan pemerintahan di Papua terlalu kompleks sehingga mempengaruhi efektivitas birokrasi. Selain itu, terdapat pandangan mengenai potensi tumpang tindih kewenangan antara MRP dengan DPR Papua maupun pemerintah daerah.

Meski demikian, Prof. Vince Tebay menilai kritik terhadap lembaga tersebut tidak seharusnya langsung diarahkan pada pembubaran institusi.

“Evaluasi terhadap kinerja lembaga tentu penting dilakukan. Namun pendekatan yang lebih tepat adalah reformasi kelembagaan agar fungsi MRP dapat berjalan lebih efektif,” ujar Tebay.

Menurut Prof. Vince Tebay, keberadaan MRP juga memiliki nilai strategis dalam menjaga representasi budaya Orang Asli Papua dalam sistem pemerintahan.
MRP merupakan satu-satunya lembaga formal yang mewakili unsur adat, perempuan, dan agama dalam struktur pemerintahan daerah di Papua.

Karena itu, pembubaran lembaga tersebut tanpa dialog yang luas berpotensi menimbulkan ketegangan sosial di tengah masyarakat.

“Pendekatan dialog multipihak menjadi langkah penting agar semua pihak dapat menyampaikan pandangan secara terbuka dan mencari solusi bersama,” kata Prof. Vince Tebay.

Dialog tersebut, lanjut Prof. Vince Tebay, sebaiknya melibatkan tokoh adat, gereja, organisasi perempuan Papua, akademisi, serta pemerintah daerah agar pembahasan mengenai masa depan MRP tetap berada dalam kerangka demokrasi dan kebijakan publik yang sehat.

Menurut Prof. Vince Tebay, penguatan fungsi kultural MRP juga perlu menjadi perhatian agar lembaga tersebut tetap fokus pada perlindungan hak adat, budaya, serta pemberdayaan perempuan Papua.

“Pendekatan reformasi dan penguatan kelembagaan akan lebih konstruktif dibandingkan langkah pembubaran yang berpotensi memunculkan polarisasi di masyarakat,” pungkas Prof. Vince Tebay. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Dua Hari Bertahan di Gereja, Mahasiswa Yahukimo Tunggu Respons Pemkab soal Hunian

MANOKWARI, TOMEI.ID | Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang sedang menempuh pendidikan di Kota Manokwari…

9 jam ago

Mahasiswa Yahukimo di Jayapura Desak Pemkab Bangun Asrama bagi Mahasiswa di Manokwari

JAYAPURA, TOMEI.ID | Mahasiswa Yahukimo yang berada di Kota Studi Jayapura mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo…

10 jam ago

Himaku Kehutanan UNIPA Resmi Dibentuk, Mahasiswa Siapkan Program Lingkungan dan Pengabdian

MANOKWARI, TOMEI.ID | Mahasiswa Program Studi S1 Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA), resmi membentuk…

13 jam ago

KNPB Nabire Gelar Pendidikan Politik bagi Sektor Yamewa, Bahas Sejarah dan Struktur Organisasi

NABIRE, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Nabire menggelar pendidikan politik bagi anggota…

2 hari ago

Hadapi KLB Campak, Puskesmas Mokwam Siapkan ORI dan Kejar Cakupan 95 Persen

MANOKWARI, TOMEI.ID | Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat…

2 hari ago

Masyarakat Tibai Minta Pemprov Papua Tengah dan Pemkab Nabire Buka Akses Jalan Darat dan Listrik

NABIRE, TOMEI.ID | Masyarakat Kampung Tibai, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua…

2 hari ago