Berita

Aktivis HAM Papua Naftall Tipagau Desak Komnas HAM RI Bentuk Tim Investigasi Penembakan Warga Sipil di Intan Jaya

JAYAPURA, TOMEI.ID | Aktivis HAM Papua asal Intan Jaya, Naftall Tipagau, mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI segera membentuk tim investigasi untuk mengusut penembakan yang menewaskan Melkiana Duwitau (31) beserta bayi berusia 32 minggu dalam kandungannya di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Kamis (2/7) sekitar pukul 19.30 WIT.

Naftall juga meminta Komnas HAM melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap rangkaian dugaan penembakan warga sipil di Intan Jaya, termasuk kematian Gembala Gereja GKI Elianus Agimbau dan Okto Tigau pada 29 Juni 2026 yang, menurutnya, diduga melibatkan aparat TNI dan Polri.

Selain itu, ia mendesak Komnas HAM mengusut insiden penembakan terhadap rombongan Gereja Katolik pada 29 Juni 2026 serta rentetan penembakan dan serangan bom di kampung-kampung Distrik Agisiga yang disebut terjadi sejak Mei hingga awal Juli 2026 dan mengakibatkan korban sipil serta pengungsian.

Menurut Naftall, Pemerintah Indonesia perlu segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan akar persoalan konflik di Papua agar tidak terus memakan korban dari kalangan warga sipil, aparat TNI-Polri, maupun anggota TPNPB akibat perbedaan pandangan politik dan ideologi.

Ia menilai pendekatan militer tidak akan menyelesaikan konflik Papua karena berpotensi menambah korban jiwa, memicu ketakutan, dan menimbulkan trauma di tengah masyarakat. Karena itu, pemerintah didorong membuka ruang dialog sebagai jalan penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Naftall mengaku prihatin karena konflik bersenjata di Intan Jaya sejak 2019 hingga 2026 terus menelan korban jiwa tanpa penyelesaian yang menyentuh akar persoalan.

Ia juga mendesak Pemerintah Kabupaten Intan Jaya segera membentuk tim khusus serta meminta Komnas HAM RI dan pemerintah pusat mempercepat penanganan persoalan kemanusiaan akibat konflik bersenjata di daerah tersebut.

“Pemerintah Intan Jaya jangan hanya membiarkan korban terus berjatuhan, ini adalah manusia yang harus dilindungi, bukan membiarkan korban berjatuhan terus. Anak-anak kehilangan ayah dan ibu maupun orang tua kehilangan anak akibat ditembak mati selama operasi militer dan konflik bersenjata yang terus terjadi di Intan Jaya,” tegas Naftall.

Selain investigasi, ia meminta negara segera memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi asal Intan Jaya yang berada di Nabire, Timika, maupun Sugapa, termasuk menjamin keamanan serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Komnas HAM RI, TNI, maupun Polri terkait pernyataan dan desakan yang disampaikan Naftall Tipagau. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

Mubes AMPJ di Nabire, Pemimpin Baru Ditantang Jaga Persatuan dan Bawa Nama Puncak Jaya

NABIRE, TOMEI.ID | Organisasi Asrama Mahasiswa Puncak Jaya (AMPJ) se-Kota Studi Nabire, Papua Tengah, menggelar…

12 jam ago

ILP Diuji di Lapangan, Dinkes Papua Tengah Evaluasi 8 Puskesmas Lokus

NABIRE, TOMEI.ID | Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah turun langsung melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev)…

12 jam ago

134 Hotspot Terdeteksi di Papua Tengah, Kapolda Paparkan 47 Kali Pemadaman dan Penyelidikan Karhutla

NABIRE, TOMEI.ID | Sebanyak 134 titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Papua Tengah…

13 jam ago

Musa Boma Desak Pemda di Papua Tengah Perkuat Pengawasan dan Penegakan Hukum bagi Pelaku Pembakar Hutla

NABIRE, TOMEI.ID | Persoalan pembakaran hutan di sejumlah wilayah delapan kabupaten di Papua Tengah mendapat…

14 jam ago

Rusia Serahkan Proses Hukum AP yang Ditahan di Wamena kepada Otoritas Indonesia

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Rusia menyerahkan sepenuhnya penanganan hukum terhadap warga negaranya berinisial AP (39),…

14 jam ago

Kendaraan Berpelat Luar Masih Beroperasi di Manokwari, Samsat Soroti Potensi Pajak Daerah

MANOKWARI, TOMEI.ID | Kendaraan berpelat nomor luar daerah masih bebas beraktivitas di Manokwari, sementara kewajiban…

19 jam ago