Berita

Aktivis Paniai Desak Penarikan Marinir dari Distrik Ekadide

JAYAPURA, TOMEI.ID | Aktivis mahasiswa asal Paniai, Gaibii Boma, mendesak penarikan pasukan Marinir dari Distrik Ekadide. Ia menilai keberadaan aparat tersebut hanya memperdalam trauma dan rasa takut warga, bukan menciptakan rasa aman.

Menurut Boma, pernyataan pihak TNI yang meminta masyarakat agar tidak khawatir dengan kedatangan Marinir tidak mencerminkan realitas sosial di lapangan. Ia menyebut, warga justru merasa tertekan dan hidup dalam kecemasan akibat kehadiran aparat bersenjata di wilayah mereka.

“Mereka bilang masyarakat tidak perlu takut, tapi faktanya warga merasa tidak aman. Luka akibat kekerasan aparat masih membekas kuat di ingatan mereka,” ujar Boma dalam keterangannya di Jayapura, Selasa (29/10/2025).

Ia menjelaskan, trauma masa lalu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Paniai. Setiap kali mendengar suara helikopter atau kendaraan militer melintas, warga spontan panik dan memilih bersembunyi di hutan untuk menghindari potensi kekerasan.

“Itu bukan tanda situasi aman, tapi tanda luka sosial yang belum sembuh. Negara seharusnya hadir dengan empati, bukan dengan senjata,” tegasnya.

Lebih lanjut, Boma menilai penempatan Marinir TNI AL di wilayah pegunungan tidak logis secara operasional dan tidak tepat secara moral.

“TNI Angkatan Laut seharusnya bertugas di wilayah perairan, bukan di pegunungan. Apa alasan mereka berada di Ekadide? Ini kebijakan yang tidak masuk akal,” ucapnya dengan nada heran.

Ia menegaskan, pendekatan militeristik yang terus diterapkan di Tanah Papua tidak pernah menjadi solusi bagi persoalan yang ada. Sebaliknya, langkah itu justru memperlebar jarak ketidakpercayaan antara rakyat dan negara.

“Rakyat Papua sudah terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang kekerasan. Pemerintah harus berani beralih dari operasi militer menuju dialog bermartabat,” tandasnya.

Boma menutup pernyataannya dengan menyerukan agar negara membangun kepercayaan rakyat melalui keadilan, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

“Yang dibutuhkan rakyat bukan tambahan pasukan, tapi keadilan dan keberanian negara untuk mendengar suara korban,” tutupnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Jekson Hisage: Pemuda Papua Pegunungan Harus Bersatu Menjadi Kekuatan Perubahan

WAMENA, TOMEI.ID | Wakil Sekretaris DPD I Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua Pegunungan, Jekson…

10 jam ago

KNPB Manokwari Bacakan Pernyataan Sikap, Desak Perhatian Internasional atas Isu Darurat Militer dan Kemanusiaan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Manokwari membacakan pertanyaan sikap Nasional Bangsa…

10 jam ago

DPR Papua Pegunungan Temukan Proyek Jalan Berkualitas Rendah, Warga Keluhkan Debu dan Pekerjaan Tak Tuntas

WAMENA, TOMEI.ID | DPR Provinsi Papua Pegunungan menemukan indikasi rendahnya kualitas sejumlah proyek jalan yang…

11 jam ago

Buka Konferensi Wilayah I PWNU, Pemprov Papua Tengah Perkuat Sinergi dengan Nahdlatul Ulama

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menegaskan komitmennya memperkuat sinergi dengan organisasi keagamaan…

12 jam ago

BPKAD Papua Tengah akan Gelar Kejuaraan Balap Sepeda HUT Ke-81 RI, Pendaftaran Gratis

NABIRE, TOMEI.ID – Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Papua Tengah akan menggelar…

12 jam ago

Jurnalis Jubi Laporkan Dugaan Perusakan Handphone oleh Oknum Polisi saat Liput Aksi KNPB di Sentani

JAYAPURA, TOMEI.ID | Seorang jurnalis Jubi, Silpester Kasipka, mengaku handphone (HP) miliknya diduga dirusak oleh…

13 jam ago