Berita

Dewan Adat Papua Soroti Pengabaian Hak Politik Masyarakat Adat di Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Koordinator Wilayah Mee Pago, Okto Pekey, menegaskan bahwa hak politik masyarakat adat di Provinsi Papua Tengah masih kerap terabaikan, diabaikan, dan kurang diperhatikan secara serius dalam praktik demokrasi lokal.

Okto Pekey, Ketua DAP Korwil Mee Pago, menilai proses politik, termasuk pemilihan umum, masih sering tidak sepenuhnya memberikan ruang yang adil dan transparan bagi masyarakat adat untuk menentukan pilihan sesuai nurani serta kepentingan kolektif mereka.

“Sering kali hak pilih itu diabaikan. Setelah pemilu, masyarakat hanya dijadikan penentu suara, tetapi tidak diberi ruang untuk menyatukan pikiran dan menentukan pilihan sesuai hak nurani mereka,” ujar Pekey.

Pernyataan tersebut disampaikan Okto Pekey saat menjadi pemateri dalam workshop bertajuk “Memperkuat Hak Politik Masyarakat Adat di Papua Tengah” yang dimoderatori Hengki Yeimo, dalam rangka Festival Media Se-Tanah Papua perdana di Kabupaten Nabire, Kamis (15/1/2026).

Dalam pemaparannya, Pekey menekankan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak dasar masyarakat adat yang hingga kini masih sering dibatasi. Okto Pekey menilai ruang demokrasi kerap menyempit ketika masyarakat menyuarakan aspirasi melalui aksi protes atau demonstrasi.

“Ketika masyarakat melakukan aksi protes atau demonstrasi, sering kali dibatasi melalui pembubaran dan penangkapan oleh aparat keamanan. Padahal, masyarakat memiliki hak konstitusional untuk menyampaikan pendapat,” teganya.

Okto Pekey mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk menjamin perlindungan hak-hak sipil masyarakat adat serta membuka ruang demokrasi yang lebih luas agar aspirasi publik tidak selalu berujung pada tindakan represif.

Selain persoalan politik, Okto Pekey juga menyoroti meningkatnya konflik lahan di Papua Tengah akibat masuknya berbagai proyek ekstraktif. Menurut Okto Pekey, tanah dan hutan adat merupakan sumber utama kehidupan masyarakat yang kini terancam.

“Ketika tambang masuk, masyarakat menyampaikan protes karena di situlah terjadi penghancuran sumber hidup mereka. Apalagi saat ini ada rencana pengembangan proyek kelapa sawit di wilayah Papua Tengah,” jelasnya Pekey.

Okto Pekey menegaskan bahwa setiap kebijakan dan proyek pembangunan yang menyangkut kehidupan masyarakat adat wajib dikonsultasikan dengan pemilik hak ulayat untuk mencegah konflik dan menjamin keberlanjutan hidup masyarakat adat.

“Segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat adat harus dibicarakan dengan pemilik tanah ulayat. Ini syarat utama untuk menjamin kelangsungan hidup mereka,” tambah Okto.

Okto Pekey juga mengapresiasi penyelenggaraan Festival Media Se-Tanah Papua yang diinisiasi Asosiasi Wartawan Papua (AWP). Menurut Okto Pekey, forum ini menjadi ruang penting untuk pertukaran gagasan, penguatan demokrasi, serta perluasan kebebasan berekspresi di Papua.

“Festival ini menjadi momentum penting. Dengan kegiatan seperti ini, kita bisa terlibat aktif dan menyampaikan ide serta gagasan untuk masa depan Papua,” ujarnya Okto Pekey, Ketua DAP Korwil Mee Pago.

Okto Pekey berharap Festival Media Se-Tanah Papua dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya membangun demokrasi yang inklusif dan berkeadilan di Tanah Papua.

“Ke depan, kegiatan seperti ini harus terus dilaksanakan, karena inilah bagian dari upaya membangun demokrasi di Papua,” pungkasnya.

Festival Media Se-Tanah Papua berlangsung selama tiga hari, 13–15 Januari 2026, dengan berbagai agenda seperti diskusi publik, workshop jurnalisme, dan forum penguatan kebebasan sipil di Tanah Papua. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Gubernur Papua Barat Bantu Mahasiswa Yahukimo, K2BPT dan KP2IT Sampaikan Terima Kasih

MANOKWARI, TOMEI.ID | Bantuan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, kepada mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo mendapat…

14 menit ago

Gubernur Papua Barat Tangani Krisis Hunian Mahasiswa Yahukimo, Pembina Dorong Asrama Permanen

MANOKWARI, TOMEI.ID | Persoalan tempat tinggal yang dialami lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo…

26 menit ago

Pdt. Menaser Labene Klarifikasi Pemberian Dua Anggota Polres Puncak: Amplop Berisi Rp100 Ribu dan Bingkisan Sembako

ILAGA, TOMEI.ID | Hamba Tuhan Pdt. Menaser Labene memberikan klarifikasi terkait kedatangan dua anggota Polres…

34 menit ago

Gubernur Meki Nawipa Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Papua Tengah 8 Persen, OPD Diminta Percepat Kerja Nyata

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mendorong percepatan kerja seluruh perangkat daerah untuk…

58 menit ago

Gubernur Dominggus Mandacan Salurkan Rp100 Juta dan 50 Paket Bama untuk Mahasiswa Yahukimo

MANOKWARI, TOMEI.ID | Persoalan tempat tinggal yang dihadapi 100 lebih mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo, di…

5 jam ago

Polda Papua Tengah Musnahkan Bobo dan CT, Polisi Tegaskan Penyalahgunaan Jadi Sasaran

NABIRE, TOMEI.ID | Polda Papua Tengah memusnahkan puluhan jerigen minuman lokal jenis Bobo dan CT…

6 jam ago