Berita

DLH Jayapura Matangkan Penilaian Sekolah Adiwiyata 2026, Libatkan Disdikbud dan WWF Indonesia Program Papua

SENTANI, TOMEI.ID | Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jayapura serta WWF Indonesia Program Papua menggelar rapat koordinasi tim penilai dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Penilaian Calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten (CSAK) Tahun 2026.

Hal itu disampaikannya saat rapat koordinasi yang berlangsung di Holey Narey Learning Centre, Pos 7 Sentani, Sabtu (11/7/2026) pagi.

Rapat koordinasi tersebut bertujuan menyamakan persepsi, pemahaman, serta mekanisme penilaian instrumen Sekolah Adiwiyata sebelum tim melakukan verifikasi lapangan yang dijadwalkan mulai pekan depan.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi pembekalan teknis bagi seluruh tim penilai agar proses evaluasi berjalan objektif, terukur, dan sesuai pedoman Program Adiwiyata.

Sebanyak 12 sekolah akan mengikuti tahapan penilaian Calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten Jayapura Tahun 2026. Sekolah tersebut terdiri atas 9 Sekolah Dasar dan 3 Sekolah Menengah Pertama, yakni SD Inpres Kiewbouw, SD Inpres Kehiran, SD Negeri Komba, SD YPKP 2 Sentani, SD Angkasa Lanud Silas Papare, SD Inpres Sereh, SD Rajawali Sinar Mas Lereh, SD YPKP 1 Sentani, SD Satu Atap Kanda, SMP Negeri 6 Sentani, SMP Negeri 3 Nimboran, dan SMP Satu Atap Ayapo.

Dalam proses penilaian, tim akan mengevaluasi 24 indikator Sekolah Adiwiyata yang mencakup empat komponen utama, yaitu kebijakan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS), pembelajaran berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif seluruh warga sekolah, serta pengelolaan sarana dan prasarana yang mendukung budaya peduli lingkungan.

Ketua Tim Penilaian Adiwiyata Kabupaten Jayapura, Milka Mansnembra, mengatakan rapat koordinasi tersebut menjadi bagian penting untuk memperkuat kapasitas seluruh tim sebelum melakukan verifikasi di lapangan.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan bersama seluruh tim untuk membangun kapasitas dan motivasi sebelum turun ke sekolah-sekolah melakukan verifikasi dan penilaian. Melalui pembekalan ini diharapkan setiap tim mampu melaksanakan penilaian secara profesional, memperkuat koordinasi dengan pihak sekolah, serta mempersiapkan seluruh kebutuhan teknis agar proses penilaian berjalan efektif,” ujarnya.

Menurut Milka, penilaian Sekolah Adiwiyata tidak hanya berorientasi pada pemenuhan administrasi atau indikator semata, tetapi juga memastikan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan benar-benar diterapkan dalam aktivitas belajar mengajar maupun kehidupan sehari-hari di sekolah.

Sementara itu, perwakilan WWF Indonesia Program Papua, Dony Kristiawan, menegaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini.

“Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk perubahan perilaku karena kebiasaan yang ditanamkan kepada siswa akan terbawa hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Program Adiwiyata menjadi media yang efektif untuk membiasakan peserta didik mengurangi sampah makanan, mengambil makanan secukupnya, menghabiskannya, serta memilah sisa makanan agar dapat diolah menjadi kompos,” jelasnya.

Ia berharap kebiasaan peduli lingkungan yang diterapkan di sekolah dapat menjadi budaya yang berlanjut di rumah sehingga memberikan dampak positif bagi keluarga maupun masyarakat sekitar.

Kolaborasi antara DLH Kabupaten Jayapura, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jayapura, serta WWF Indonesia Program Papua juga menjadi bagian dari joint workplan dalam mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya gas metana yang dihasilkan dari sampah makanan yang membusuk.

Melalui pembiasaan mengurangi timbulan sampah, memilah sampah sejak dari sumber, serta mengolah sampah organik menjadi kompos, sekolah diharapkan mampu membangun karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan sekaligus berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Program Sekolah Adiwiyata diharapkan tidak hanya menghasilkan sekolah yang memenuhi standar penilaian nasional, tetapi juga melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan dan mampu menjadi agen perubahan dalam mengurangi pencemaran serta dampak krisis iklim di masa depan. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Bapperida Papua Tengah Kaji Kondisi Riil Daerah, Program Pembangunan Tak Boleh Salah Sasaran

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi…

10 jam ago

Bukan Sekadar Predikat, Zona Integritas Papua Tengah Harus Dibuktikan Lewat Pelayanan Publik

NABIRE, TOMEI.ID | Pembangunan Zona Integritas di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Tengah menghadapi tantangan penting,…

10 jam ago

Antonius Wetipo Buka Pintu Golkar Jayawijaya bagi Masyarakat, Konsolidasi Diperkuat hingga Kampung

WAMENA, TOMEI.ID | Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Jayawijaya,…

1 hari ago

Pemprov Papua Tengah Tegaskan Pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja Harus Hormati Hak Masyarakat Adat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menegaskan bahwa pengelolaan Taman Nasional Mamberamo Foja…

1 hari ago

Kecelakaan Mobil Satgas TNI di Yalimo, Empat Prajurit Meninggal

YALIMO, TOMEI.ID | Kecelakaan tunggal yang melibatkan mobil Satgas Yonif 645 terjadi di Jalan Trans Jayapura–Wamena,…

2 hari ago

Yampit Nawipa Ingatkan ASN Jangan Ejek Kesalahan Rekan, Disiplin Harus Ditegakkan

PANIAI, TOMEI.ID | Bupati Paniai, Yampit Nawipa, mengingatkan seluruh aparatur pemerintah agar tidak menjadikan kesalahan…

3 hari ago