Elisa Sekenyap Tegaskan Regenerasi Jurnalis Papua 1.132 Peserta, Mayoritas Pelajar, Belajar Jurnalisme Antar-Provinsi

oleh -1078 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Festival Media Se-Tanah Papua 2026 resmi ditutup Rabu (15/1/2026) di Nabire, Papua Tengah, setelah berlangsung tiga hari sejak 13 Januari di eks Bandara Lama, Kantor Gubernur Provinsi Papua.

Festival ini diikuti 1.132 peserta, mayoritas pelajar SMA dan SMK, sekaligus menjadi wadah regenerasi calon jurnalis Papua dan ruang belajar jurnalistik terbesar bagi generasi muda di provinsi ini.

banner 728x90

Kegiatan yang digelar Asosiasi Wartawan Papua (AWP) ini juga dihadiri jurnalis dari enam provinsi di Tanah Papua, jurnalis senior, pegiat literasi, serta masyarakat umum. Selama festival, panitia menyelenggarakan diskusi media, workshop jurnalistik, pameran, dan pertunjukan seni, termasuk penampilan Weiland Grup, Alie Grup, dan Turtuante Grup.

Selain itu, Mama-mama Papua turut berpartisipasi dengan menjual produk lokal, memperkuat nuansa budaya sekaligus pemberdayaan komunitas.

Ketua Asosiasi Wartawan Papua (AWP) Elisa Sekenyap, menekankan bahwa festival perdana ini menjadi agenda rutin dua tahunan, sekaligus sarana untuk memperkuat regenerasi jurnalis Papua.

“Ini adalah festival media pertama yang digagas AWP. Festival ini menjadi ruang berkumpul, berdiskusi, dan berbagi pengalaman untuk memperkuat kapasitas jurnalis, khususnya wartawan asli Papua,” ujar Elisa.

Festival terbuka bagi seluruh jurnalis Tanah Papua, tanpa membedakan asal daerah, pengalaman, maupun usia peserta.

“Dari Merauke sampai Sorong, kita hadir bersama. Tidak ada perbedaan. Kita bersatu untuk Papua, membangun pers yang kuat, berintegritas, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Regenerasi jurnalis menjadi fokus utama dengan melibatkan pelajar dan mahasiswa secara aktif, kreatif, berkelanjutan, dan penuh semangat.

“Kami berharap peserta muda ini menjadi generasi penerus wartawan Papua. Papua harus ditulis oleh orang Papua sendiri, karena kita yang paling memahami budaya, bahasa, dan kondisi geografis Papua,” jelas Elisa.

Elisa juga menegaskan, seluruh peserta dari Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Provinsi Papua diharapkan membawa pulang pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh, untuk diterapkan di ruang redaksi masing-masing.

“Jadikan pengalaman ini sebagai bekal dalam menjalankan tugas jurnalistik secara bertanggung jawab. Wartawan boleh lelah, tetapi kebenaran tidak boleh berhenti, dan setiap laporan adalah cermin nurani publik,” pungkasnya.

Festival Media Se-Tanah Papua 2026 membuktikan bahwa jurnalisme Papua bergantung pada keberanian, kreativitas, dan konsistensi generasi muda. Suara kampung-kampung kini terdengar luas melalui pewarta lokal yang terlatih dan berdedikasi. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.