Berita

Gubernur Meki Nawipa: Jangan Miras dan Makan Pinang di Tempat Sakral, Jaga Warisan Leluhur Meeuwo

DOGIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, meminta masyarakat Kabupaten Dogiyai menjaga tempat-tempat yang dianggap sakral dan memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Meeuwo dengan tidak menjadikannya sebagai lokasi mengonsumsi minuman keras (miras) maupun makan pinang.

Pesan tersebut disampaikan Meki saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Dogiyai, Senin (7/9/2026), dalam rangkaian kegiatan yang juga diisi dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia di Diyoudimi (Oma Kapau).

Meki menegaskan, menjaga tempat sakral bukan semata-mata persoalan ketertiban lingkungan, tetapi berkaitan dengan penghormatan terhadap sejarah, adat, identitas budaya, serta warisan leluhur masyarakat Meeuwo.

Menurut Meki, nilai-nilai yang diwariskan para leluhur perlu kembali dihidupkan dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam menjaga perilaku dan lingkungan yang memiliki hubungan dengan sejarah serta identitas masyarakat setempat.

“Nenek moyang Meeuwo tidak pernah mabuk dan tidak pernah makan pinang. Karena itu, miras dan makan pinang bukan budaya suku di wilayah Meuwo,” tegas Meki.

Pernyataan tersebut menjadi penekanan Gubernur agar masyarakat tidak menjadikan kebiasaan mengonsumsi miras maupun makan pinang di tempat yang dilarang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama pada kawasan yang memiliki nilai adat dan sejarah bagi masyarakat.

Meki juga mengapresiasi kesadaran masyarakat di wilayah Mapia yang mulai membuat kesepakatan untuk menjaga lingkungan kampung dari kebiasaan mabuk serta konsumsi pinang di tempat-tempat yang tidak diperbolehkan.

Ia secara khusus menyebut Kampung Diyoudimi sebagai salah satu wilayah yang dinilainya telah menunjukkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan ketertiban sosial.

“Karena itu, saya bangga melihat di wilayah Mapia. Ketika masuk di Kampung Diyoudimi, masyarakat sudah sadar sehingga di wilayah itu melarang untuk tidak mabuk dan tidak makan pinang,” ujarnya.

Menurut Meki, kesadaran yang tumbuh dari tingkat kampung memiliki arti penting karena perubahan perilaku masyarakat tidak hanya bergantung pada aturan pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesepakatan dan komitmen bersama dari masyarakat setempat.

Ia mengajak masyarakat Dogiyai mempertahankan kesadaran tersebut dengan menjaga tempat-tempat yang memiliki hubungan dengan sejarah leluhur serta tidak menggunakannya untuk aktivitas yang bertentangan dengan nilai adat dan penghormatan terhadap warisan budaya.

Tempat yang memiliki nilai sejarah dan berkaitan dengan warisan nenek moyang, kata Meki, harus dijaga bersama agar tetap memiliki makna bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Pesan tersebut juga berkaitan dengan perhatian pemerintah terhadap pembangunan manusia di Papua Tengah. Meki menilai pembangunan daerah tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan gedung, jalan, sekolah, dan fasilitas umum, tetapi harus berjalan bersamaan dengan pembentukan karakter, disiplin, budaya, serta tanggung jawab generasi muda.

Peletakan batu pertama pembangunan asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia di Diyoudimi menjadi salah satu rangkaian kunjungan kerja Gubernur Papua Tengah di Kabupaten Dogiyai. Pembangunan fasilitas pendidikan tersebut diarahkan untuk mendukung proses belajar sekaligus memperkuat pembinaan generasi muda.

Meki menekankan, lingkungan sosial yang sehat diperlukan agar anak-anak muda tidak terjebak dalam kebiasaan yang dapat mengganggu pendidikan, membentuk perilaku negatif, maupun menghambat masa depan mereka.

Karena itu, kesadaran masyarakat seperti yang ditunjukkan di Kampung Diyoudimi dinilai penting untuk dipertahankan dan dapat menjadi contoh bagi kampung-kampung lain di Kabupaten Dogiyai.

Pemerintah bersama tokoh adat, tokoh agama, pemuda, perempuan, serta seluruh masyarakat diharapkan memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga lingkungan, menghormati tempat sakral, dan mempertahankan nilai-nilai positif yang diwariskan leluhur.

Bagi Meki, pembangunan Dogiyai tidak hanya diukur dari bertambahnya infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga identitas, budaya, lingkungan, serta menyiapkan generasi Meeuwo yang memiliki karakter dan masa depan yang lebih baik. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Hari Kedua Penguatan Kapasitas MAPEGA Nabire, Nurhaidah Soroti Kekurangan Guru di Daerah 3T

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, memperkuat kapasitas tenaga MAPEGA guru daerah tertinggal,…

7 menit ago

8 Kepala Suku Resmi Diakui sebagai Mitra Pemerintah, Gubernur Meki: Ini Bukan Pelantikan

NABIRE, TOMEI.ID | Sebanyak delapan kepala suku besar, di Provinsi Papua Tengah, resmi diakui sebagai…

8 jam ago

Gubernur Meki Nawipa Siapkan Rp6 Miliar untuk Gereja Hitadipa, Jalan dan Listrik Jadi Prioritas

INTAN JAYA, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menyampaikan sejumlah komitmen pembangunan untuk Distrik…

21 jam ago

Mesak Magai: Pengangkatan PPPK Nabire Tunggu Kepastian Pemerintah Pusat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire, masih menunggu kepastian pemerintah pusat m mengenai pengangkatan…

23 jam ago

Pemkab Nabire Tetapkan Status Taman Gizi sebagai Aset Daerah Usai Mediasi

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire, menetapkan status Taman Gizi sebagai aset daerah setelah…

23 jam ago

BEM UNIPA Periode 2024–2026 Demisioner, Yenusson Ungkap Tiga Capaian Kepengurusan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Papua (UNIPA) periode 2024–2026 resmi dinyatakan demisioner…

1 hari ago