Berita

HRD Desak Aparat Negara Hentikan Penggunaan Fasilitas Publik dan Buka Akses Kemanusiaan di Papua

NABIRE, TOMEI.ID | Human Right Defender (HRD) melayangkan desakan tegas kepada Pemerintah Indonesia terkait laporan yang mengindikasikan adanya penggunaan fasilitas publik vital untuk kepentingan operasi militer di berbagai wilayah Papua. Organisasi ini menilai tindakan tersebut, jika terbukti benar, merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip hukum humaniter internasional dan berpotensi besar memperburuk krisis kemanusiaan di lapangan.

Pernyataan keras ini disampaikan oleh Human Right Defender dalam keterangan resminya yang diterima oleh redaksi tomei.id, pada Selasa (18/11/2025).

Pelanggaran Status Netral Fasilitas SipiL

baca juga: HRD Sebut 1.500 Warga Jila Mengungsi Usai Operasi Militer

Dalam keterangan tersebut, HRD secara spesifik menyoroti sejumlah laporan mengenai pengambilalihan rumah sakit dan fasilitas kesehatan oleh unsur militer. HRD menegaskan bahwa fasilitas medis memiliki status netral yang dilindungi secara ketat di bawah Konvensi Jenewa. Pemanfaatan fasilitas kesehatan untuk tujuan militer dinilai dapat secara langsung menghalangi akses kritis warga sipil terhadap layanan medis dan secara drastis meningkatkan risiko jatuhnya korban non-kombatan.

Lebih lanjut, HRD juga menggarisbawahi laporan mengenai penempatan personel militer di lingkungan sekolah. Praktik ini dianggap sangat meresahkan, mengingat sekolah seharusnya berfungsi sebagai ruang aman (Aman Space) yang dijamin bagi anak-anak. Penempatan tersebut tidak hanya mengganggu proses belajar-mengajar tetapi juga menempatkan anak-anak pada kerentanan psikologis dan fisik yang tinggi di tengah eskalasi konflik.

Situasi serupa juga dilaporkan terjadi pada rumah-rumah ibadah, termasuk gereja, yang dialihfungsikan menjadi pos militer. HRD menyatakan bahwa langkah ini mengancam kebebasan beragama dan merusak peran vital rumah ibadah sebagai tempat perlindungan spiritual dan sosial bagi masyarakat setempat.

TPNPB dan Akses Kemanusiaan Mendesak

Merespons perkembangan situasi ini, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) turut mengeluarkan pernyataan yang mendesak pemerintah untuk segera menarik seluruh pasukan dari fasilitas publik strategis seperti rumah sakit, sekolah, dan gereja. TPNPB memandang penarikan mundur adalah langkah paling mendesak yang harus diambil untuk meminimalisir risiko terhadap populasi sipil, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan lainnya.

Selain isu penggunaan fasilitas, HRD juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera membuka akses kemanusiaan tanpa hambatan di seluruh wilayah yang terdampak konflik. Organisasi ini menekankan bahwa bantuan esensial berupa obat-obatan, kebutuhan pangan, dan perlindungan harus segera didistribusikan. HRD mengingatkan bahwa memastikan akses kemanusiaan merupakan hak dasar warga sipil dan kewajiban hukum yang harus dihormati oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik.

HRD menutup pernyataannya dengan permohonan agar komunitas internasional dan lembaga kemanusiaan global meningkatkan upaya untuk mendorong Pemerintah Indonesia agar memenuhi sepenuhnya kewajiban hukumnya. Hal ini terutama untuk menjamin perlindungan menyeluruh bagi warga sipil dan penegakan prinsip-prinsip kemanusiaan di Tanah Papua. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

BKPSDM Papua Tengah Perkuat Kompetensi Digital ASN, Microsoft Office Jadi Bekal Kerja Pemerintahan

NABIRE, TOMEI.ID | Badan Kepegawaian, Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Provinsi Papua Tengah memperkuat kompetensi…

2 jam ago

HUT ke-81 TNI di Nabire, Prajurit Didorong Semakin Profesional, Responsif dan Adaptif Hadapi Ancaman

NABIRE, TOMEI.ID | Tentara Nasional Indonesia (TNI) menegaskan pentingnya profesionalisme, kesiapan, integritas, dan kemampuan adaptasi…

3 jam ago

Kemarau Lima Bulan, Air Kali Bedu Siriwo Berubah Keruh, Pdt. Obeth Magai: Fenomena Ini Belum Pernah Terjadi

NABIRE, TOMEI.ID | Kondisi Kali Degeuwa atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kali Bedu di…

4 jam ago

Bupati Yahukimo Nyatakan Bantuan Mahasiswa di Manokwari Dihentikan, Pemkab Diminta Jelaskan Dasar Kebijakan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Persoalan lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang masih bertahan di…

5 jam ago

Dua Hari Bertahan di Gereja, Mahasiswa Yahukimo Tunggu Respons Pemkab soal Hunian

MANOKWARI, TOMEI.ID | Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang sedang menempuh pendidikan di Kota Manokwari…

15 jam ago

Mahasiswa Yahukimo di Jayapura Desak Pemkab Bangun Asrama bagi Mahasiswa di Manokwari

JAYAPURA, TOMEI.ID | Mahasiswa Yahukimo yang berada di Kota Studi Jayapura mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo…

17 jam ago