Berita

IPMADO Aksi di Nabire, Soroti “Dogiyai Berdarah” dan Desak Transparansi Aparat

NABIRE, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) menggelar aksi demonstrasi di Pasar Karang Tumaritis, Nabire, Papua Tengah, Sabtu (18/4/2026), menuntut pengusutan transparan atas insiden berdarah di Dogiyai pada 31 Maret hingga 2 April 2026.

Dalam aksi tersebut, massa membawa foto-foto yang mereka klaim sebagai korban warga sipil. Mereka menilai penanganan kasus hingga kini belum memberikan kejelasan maupun rasa keadilan bagi masyarakat.

Koordinator lapangan aksi, Ananias Douw, menyampaikan adanya dugaan kejanggalan terkait kematian seorang anggota polisi, Juventus Edowai. Menurutnya, terdapat luka tikaman di leher korban, namun disebut tidak ditemukan jejak darah di lokasi penemuan.

Ia menduga korban dibunuh di tempat lain sebelum jasadnya dipindahkan, yang dinilai berpotensi memicu konflik di tengah masyarakat. Namun, dugaan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Ananias juga menyampaikan tudingan adanya keterlibatan oknum aparat dalam peristiwa tersebut. Pernyataan ini merupakan klaim dari pihak massa aksi dan belum disertai bukti yang dapat dikonfirmasi.

Selain itu, IPMADO menyatakan kekecewaan terhadap pernyataan Polda Papua Tengah yang menyebut sejumlah foto korban yang beredar sebagai hoaks serta tidak adanya korban warga sipil.

Menurut Ananias, pernyataan tersebut mencerminkan kurangnya transparansi dalam penanganan kasus dan berpotensi mengaburkan fakta di lapangan.

Massa aksi juga mendesak agar dilakukan investigasi independen yang melibatkan lembaga di luar kepolisian guna memastikan objektivitas dalam pengungkapan kasus. Mereka menilai langkah tersebut penting untuk membangun kembali kepercayaan publik.

Selain itu, IPMADO meminta perlindungan terhadap masyarakat sipil di Dogiyai agar tidak terjadi tindakan represif selama proses penanganan kasus berlangsung. Mereka menegaskan bahwa warga tidak boleh menjadi korban dalam situasi konflik yang belum jelas.

Aksi demonstrasi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan berjalan relatif tertib. Massa secara bergantian menyampaikan orasi serta membentangkan poster tuntutan sebelum akhirnya membubarkan diri.
Peristiwa “Dogiyai Berdarah” sendiri hingga kini masih menyisakan berbagai versi keterangan di lapangan.

Perbedaan narasi antara masyarakat dan pihak berwenang menunjukkan perlunya penyelidikan yang terbuka, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lanjutan dari pihak kepolisian terkait tuntutan maupun tudingan yang disampaikan dalam aksi tersebut. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

TPNPB Sebut Paskalis Pogau Warga Sipil, Minta Aparat Hentikan Penangkapan Sewenang-wenang

JAYAPURA, TOMEI.ID | Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM menyatakan seorang warga bernama Paskalis Pogau ditangkap…

12 jam ago

Gubernur Papua Barat Wajibkan ASN, Pegawai BUMN, dan BUMD Gunakan Noken Setiap Kamis

MANOKWARI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN),…

12 jam ago

YKKMP Serahkan Barang Bukti Ledakan Maut ke Polres Lanny Jaya, Desak Pelaku Diungkap

WAMENA, TOMEI.ID | Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) bersama Panitia Khusus (Pansus) Kemanusiaan…

13 jam ago

448 Mahasiswa KKN UNIPA Didorong Perkuat Pemberdayaan Masyarakat di Teluk Wondama

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ketua Pengelola Kelas Wondama Universitas Papua (UNIPA), Jhony Aninam, mengajak 448 mahasiswa…

13 jam ago

UNIPA Kirim 448 Mahasiswa KKN ke Teluk Wondama Perkuat Pemberdayaan Masyarakat

MANOKWARI, TOMEI.ID | Universitas Papua (UNIPA) mengirim 448 mahasiswa untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata…

13 jam ago

Disdikbud Papua Tengah Tegaskan Informasi Pengajuan Biaya Akhir Studi yang Beredar di WhatsApp adalah Hoaks

NABIRE, TOMEI.ID | Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Papua Tengah menegaskan bahwa informasi mengenai…

16 jam ago