IPMADO Tuding Eks Kapolres Dogiyai Yocbeth Mince Mayor Otak Pembunuhan Juventus Edowai

oleh -1184 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) Kota Studi Nabire menuding mantan Kapolres Dogiyai, Kompol Yocbeth Mince Mayor, bertanggung jawab atas kematian Bripda Juventus Edowai di Dogiyai pada Maret 2026.

Tudingan tersebut disampaikan dalam aksi demonstrasi damai IPMADO yang berlangsung di titik kumpul Pasar Karang Tumaritis, Nabire, Papua Tengah, Senin (28/9/2026).

banner 728x90

Dalam aksi itu, massa mendesak aparat penegak hukum mengusut kematian Juventus secara transparan serta memproses setiap pihak yang terbukti bertanggung jawab secara terbuka, profesional, dan tanpa tebang pilih sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Koordinator Lapangan (Koorlap) Umum Aksi, Berteb, mengatakan pihaknya menduga Juventus tidak meninggal sebagaimana narasi yang berkembang, melainkan dibunuh di lokasi lain sebelum jasadnya dibuang ke dalam parit di depan Gereja Kingmi Ebenezer, Kampung Kimipugi, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai.

“Kapolda Papua Tengah segera kembalikan Mince Mayor ke Dogiyai supaya dia bertanggung jawab terhadap apa dia lakukan karena Polisi Juventus Edowai dibunuh karena perintah Mince Mayor. Masa, Kapolda langsung ganti Kapolres itu. Anak kecil saja bisa mengerti cara kepolisian ini,” kata Berteb.

Menurut Berteb, pergantian Kapolres Dogiyai setelah peristiwa tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat serta memicu desakan agar alasan pergantian itu dijelaskan secara terbuka kepada publik.

Ia mempertanyakan dasar keputusan Kapolda Papua Tengah yang menarik Mince Mayor dari jabatannya setelah rangkaian peristiwa tersebut terjadi serta meminta penjelasan resmi mengenai alasan dan pertimbangan pergantian tersebut kepada masyarakat.

IPMADO menilai persoalan tersebut tidak berhenti pada pergantian pejabat kepolisian, tetapi harus diarahkan pada pengungkapan secara terang mengenai penyebab kematian Juventus serta rangkaian peristiwa yang terjadi sejak 31 Maret hingga awal April 2026.

Massa aksi juga menyoroti penembakan yang terjadi setelah Juventus ditemukan meninggal dunia. IPMADO menduga penembakan ke arah permukiman warga memiliki kaitan dengan rangkaian peristiwa tersebut dan meminta aparat mengungkap fakta berdasarkan bukti serta hasil penyelidikan.

“Juventus Edowai sebenarnya dibunuh oleh polisi ditempat lain tetapi buang tempat yang ramai supaya polisi mau salahkan masyarakat. Bukti setetes darah pun ditempat itu tidak ada. Kami lihat jangan jasadnya saja. Ini polisi punya permainan agar mau musnahkan kami orang Papua,” jelasnya.

Berteb mengatakan Juventus dikenal dekat dengan masyarakat Dogiyai. Karena itu, menurutnya, IPMADO mempertanyakan alasan jasad Juventus ditemukan di lokasi yang berada di tengah aktivitas masyarakat serta meminta kepolisian menjelaskan secara terbuka rangkaian kejadian sebelum dan sesudah penemuan jasad tersebut.

“Semua perkataan yang dikeluarkan oleh polisi adalah hanya kebohongan. Ini permainan posisi untuk menutupi kesalahan. Rakyat Dogiyai hari ini hatinya sudah hancur. Rakyat Dogiyai sementara masih berduka tetapi DPR malah diam dan mengabaikan aspirasi mahasiswa dan masyarakat Dogiyai,” kata mereka.

IPMADO juga menyoroti sikap DPR Papua Tengah, Polda Papua Tengah, dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang dinilai belum memberikan penjelasan secara terbuka mengenai perkembangan penanganan kasus kematian Juventus Edowai dan rangkaian peristiwa kekerasan di Dogiyai.

“Jadi kita yang sisa dari yang tersisa ini kita harus bersuara teman-teman. Hari ini kesempatan untuk bersuara untuk kemanusiaan. Aksi desakan lain mereka bergerak cepat namun kasus Yuventus Edowai dibiarkan begitu saja. Ini kenapa dan ada apa ini,” jelasnya.

Selain kasus kematian Juventus, massa meminta dugaan penembakan terhadap warga sipil, termasuk seorang mama lanjut usia, dalam rangkaian peristiwa di Dogiyai turut diusut secara transparan. IPMADO meminta setiap dugaan pelanggaran hukum ditindaklanjuti berdasarkan bukti dan keterangan saksi.

“Mama lansia yang ditembak sangat tidak pantas. Kami minta transparansi dari pihak kepolisian untuk mengungkapkan pelaku agar masyarakat yang korban saat itu juga bisa ditangani. Yang lain secara bertahap mulai tuntas tetapi kasus Dogiyai masih pembungkaman. Ada apa di balik ini,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua I DPR Papua Tengah, Diben Elaby, mengatakan DPR Papua Tengah telah menerima aspirasi yang disampaikan massa IPMADO dan akan mendorong penanganan kasus tersebut melalui mitra kerjanya, Polda Papua Tengah.

“Mitra kami adalah Polda. Kami sudah mengundang dan beliau akan melaksanakan apa yang menjadi Tupoksinya yaitu pendekatan hukum,” kata Diben.

Diben mengatakan DPR Papua Tengah akan kembali mengundang Kapolda Papua Tengah untuk meminta penjelasan mengenai perkembangan penanganan kasus Juventus Edowai, termasuk langkah hukum yang telah dilakukan aparat kepolisian.

Aksi IPMADO tersebut menjadi desakan terbaru agar kematian Juventus Edowai serta rangkaian dugaan kekerasan di Dogiyai diusut secara terbuka dan berdasarkan bukti.

Adapun tudingan IPMADO yang menyebut Kompol Yocbeth Mince Mayor sebagai pihak yang membunuh atau menjadi otak pembunuhan Juventus Edowai merupakan pernyataan dan dugaan dari massa aksi yang belum terbukti secara hukum.

Penetapan tanggung jawab pidana harus didasarkan pada hasil penyelidikan, alat bukti, dan proses hukum yang objektif, transparan, profesional, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.