Berita

IPMAPAPARA Malang Kecam Kekerasan di Dogiyai: Ini Tuntutan dan Desak Penarikan Militer

MALANG, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua Paniai Raya di Kota Studi Malang (IPMAPAPARA Malang) bersama Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Keluarga Kawanua (KK) Malang mengecam keras rangkaian kekerasan bersenjata di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, serta mengajukan 15 tuntutan tegas kepada pemerintah dan aparat keamanan.

Pernyataan sikap tersebut dirilis di Kontrakan Yamewa, Jalan Tlogomas, kawasan sekitar Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu, (4/4/2026).

Dalam pernyataannya, mahasiswa menyoroti peristiwa 31 Maret 2026 yang disebut mengakibatkan sedikitnya lima warga sipil meninggal dunia serta sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

Korban meninggal dunia yang disebutkan antara lain Siprianus Tibakoto (25), Yulita Pigai (60), Martinus Yobee (17), Angkian Edowai (20), serta Peri Auwe. Sementara itu, korban luka dilaporkan meliputi Kikibi Pigai, Maikel Waine, Magapai Yobee, dan Magapai Waine.

Mahasiswa menilai tindakan aparat dalam peristiwa tersebut mencerminkan penggunaan kekuatan berlebihan yang tidak proporsional serta mengabaikan prinsip-prinsip kemanusiaan. Mereka menegaskan bahwa warga sipil kembali menjadi korban dalam pendekatan keamanan yang represif.

Lebih jauh, mereka menilai kekerasan di Dogiyai bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola panjang dugaan pelanggaran HAM di Papua sejak integrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1 Mei 1963.

Menurut mereka, negara hingga kini belum mampu menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM secara adil dan transparan, sehingga memicu siklus kekerasan berulang yang terus menempatkan masyarakat sipil sebagai korban utama.

Sebagai respons atas situasi tersebut, IPMAPAPARA Malang dan Aliansi Mahasiswa Papua KK Malang mengajukan 15 poin tuntutan kepada pemerintah dan aparat keamanan.

Di antaranya, mereka mendesak pembentukan tim investigasi independen yang melibatkan Kementerian HAM, Komnas HAM, serta unsur masyarakat sipil untuk mengusut tuntas peristiwa di Dogiyai.

Mereka juga menuntut penghentian segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil, penegakan hukum secara transparan tanpa impunitas, serta penindakan tegas terhadap aparat yang terbukti melakukan pelanggaran HAM.

Selain itu, mahasiswa mendesak pencopotan Kapolres Dogiyai, penghentian pengiriman pasukan tambahan ke wilayah konflik, serta penarikan aparat militer dari seluruh wilayah Papua guna meredam eskalasi kekerasan.

Tuntutan lainnya mencakup penghentian kriminalisasi terhadap mahasiswa Papua, jaminan kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi, penolakan terhadap pemekaran wilayah, hingga desakan pemberian hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai solusi politik jangka panjang.

Pernyataan tersebut ditutup dengan seruan solidaritas terhadap rakyat Papua yang dinilai terus mengalami ketidakadilan. Mahasiswa juga mengingatkan semua pihak agar tidak memicu konflik horizontal serta mendesak pemerintah mengedepankan pendekatan dialogis dan humanis.

Hingga kini, situasi di Dogiyai dilaporkan belum sepenuhnya kondusif, sementara desakan publik terhadap penyelesaian kasus secara adil dan transparan terus menguat dari berbagai kalangan. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

IMPT Cup 2026 Resmi Dibuka, Jadi Ajang Kaderisasi dan Seleksi Tim

MANOKWARI, TOMEI.ID | Turnamen Persahabatan IMPT Cup 2026 resmi dibuka di Lapangan IMPT Paptu Cris…

7 jam ago

BERITA FOTO: Sidak Puspem, Deinas Geley Pastikan Pembangunan Dikebut hingga Akhir Tahun

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, bersama jajaran pemerintah daerah meninjau langsung…

7 jam ago

Sidak Puspem, Deinas Geley Tegaskan Pembangunan Tiga Tower Tuntas 31 Desember

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan pembangunan tiga tower rumah ASN…

8 jam ago

Victor Fun: Ibu Rumah Tangga Perlu Diperkuat untuk Bangun Ekonomi Keluarga

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, mendorong peningkatan kapasitas ibu rumah tangga dan…

9 jam ago

Kepala Suku Besar SIMPAPITOWA Tutup Layanan Penyelesaian Adat di Jayanti

NABIRE, TOMEI.ID | Kepala Suku Besar SIMPAPITOWA Tota Mapia, Fabianus Tebai, secara resmi menghentikan layanan…

13 jam ago

Kontrakan Mahasiswa Puncak Jaya di Bandung Belum Lunas, IPMAPUJA Desak Pemda Segera Menyelesaikan

BANDUNG, TOMEI.ID | Persoalan pembayaran kontrakan mahasiswa asal Kabupaten Puncak Jaya di Kota Bandung, Jawa…

13 jam ago