Janji Dibawah Langit 2019

oleh -1141 Dilihat

Di bawah langit yang sama dan bumi yang menjadi saksi perjalanan hidup, kita pernah dipertemukan oleh takdir pada suatu malam sunyi di tahun 2019. Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika janji diucapkan dengan air mata yang jatuh tanpa suara. Saat itu kita percaya, apa pun rintangan yang datang akan dihadapi bersama. Langit dan bumi menjadi saksi, dan nama Tuhan disebut untuk menguatkan sumpah yang terasa suci.

Namun hidup di dunia berjalan menurut pilihan manusia. Engkau melangkah bersama dia, membangun hari-hari baru, merajut keluarga, dan menata masa depan dengan jalan yang kau pilih sendiri. Sementara aku tetap berdiri di persimpangan kenangan, menyadari bahwa takdir tidak selalu mengikuti harapan yang pernah diikrarkan.

banner 728x90

Keesokan hari setelah janji itu terucap, engkau pergi tanpa jejak. Tak ada penjelasan, tak ada perpisahan yang utuh. Hanya sunyi yang tertinggal, menyisakan tanda tanya yang menggantung bertahun-tahun. Mungkin cinta memang menuntut pilihan, tetapi janji yang diatasnamakan Tuhan bukanlah kata yang ringan untuk dilupakan.

Aku sadar, aku hanyalah anak kampung dengan segala keterbatasan. Pendidikan dan kemapanan bukan milikku. Mungkin aku tak mampu memberi kehidupan yang kau bayangkan. Namun sebagai laki-laki, aku memiliki perasaan, tanggung jawab, dan harga diri yang sama seperti pria mana pun di dunia ini.

Waktu berlalu panjang. Dari malam 2019 hingga hari ini, 2026, bukan tujuh hari yang terlewati, melainkan tujuh tahun kesabaran dan kesetiaan yang kugenggam dalam diam. Aku bertahan demi menghargai cinta, demi menghormati pengalaman dan pengetahuan yang kau miliki, dan demi menjaga makna janji yang pernah kita ucapkan.

Malam ini aku berdiri kembali di hadapan langit dan bumi, menyadari bahwa sumpah yang dulu kita ikrarkan telah retak oleh pilihan hidup. Mungkin inilah jalan yang telah digariskan, ketika manusia memilih dan takdir menuliskan konsekuensinya.

Jika hari ini hatimu memilih yang lain, aku tidak lagi menahan langkahmu. Barangkali ia memiliki segala hal yang tak mampu kuberikan. Sementara aku tetap menjadi anak kampung yang belajar menerima kehilangan sebagai bagian dari kehendak Ilahi.

Selamat berbahagia bersama dia yang kau pilih. Maafkan aku atas segala kekurangan yang tak mampu memenuhi harapanmu. Aku menyerahkan semuanya kepada Tuhan, sebab kebahagiaan tidak selalu lahir dari janji, melainkan dari pilihan yang diyakini.

Biarlah janji dan sumpah malam pertama tahun 2019 menjadi tanggung jawab kita masing-masing di hadapan Sang Pencipta. Jika dunia mempertemukan kita dengan pilihan yang berbeda, maka kebenaran hati kelak akan menjadi saksi ketika semua kata dimintai pertanggungjawaban.

Aku melepaskanmu dengan doa, bukan dengan dendam. Semoga langkahmu diberkati di bumi, dan semoga aku diberi kekuatan untuk menerima takdir dengan ikhlas. Karena pada akhirnya, manusia boleh berjanji, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah perjalanan hidup setiap jiwa.

Namun di balik semua yang telah berlalu, ada satu hal yang tak pernah berubah dalam diriku: penghormatan terhadap kenangan. Apa yang pernah kita bangun, meski hanya sekejap, tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentukku hari ini. Luka memang mengajarkan perih, tetapi ia juga mendewasakan cara pandang dan menguatkan pijakan. Dari kehilangan itu aku belajar, bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.

Sering aku bertanya dalam sunyi, apakah malam itu hanya berarti bagiku seorang. Apakah air mata yang jatuh kala itu juga membekas dalam ingatanmu, ataukah ia telah larut bersama waktu dan kesibukan hidupmu yang baru. Namun semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa jawaban tidak lagi mengubah apa-apa. Waktu tidak berjalan mundur, dan hati tidak bisa dipaksa kembali ke tempat yang telah ia tinggalkan.

Kini aku memilih berdamai dengan kenyataan. Bukan karena aku lemah, tetapi karena aku tak ingin terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Hidup harus tetap berjalan, dan aku pun berhak menemukan cahaya di jalan yang berbeda. Jika dulu aku menunggumu dengan harap, kini aku menata diriku dengan sabar, memperbaiki apa yang kurang, dan memantaskan diri bagi masa depan yang mungkin telah Tuhan siapkan.

Aku tak lagi mempersoalkan siapa yang benar atau siapa yang salah. Cinta tidak selalu tentang kemenangan atau kekalahan. Kadang ia hanya tentang dua insan yang dipertemukan untuk saling menguatkan sebentar, lalu dilepaskan agar masing-masing tumbuh dengan caranya sendiri. Jika perpisahan adalah bagian dari rencana-Nya, maka mungkin itulah cara Tuhan menyelamatkan kita dari jalan yang bukan milik kita.

Bertahun-tahun aku menyimpan janji itu sebagai cahaya kecil di dada. Kini cahaya itu tidak padam, hanya berubah bentuk menjadi pelajaran hidup. Aku belajar bahwa nilai seseorang tidak diukur dari harta atau gelar, tetapi dari keteguhan hati dan kesediaannya bertanggung jawab atas kata-katanya. Dan aku telah berusaha menjaga bagianku, meski akhirnya harus kulepaskan dengan lapang dada.

Jika suatu hari nanti kita dipertemukan kembali, semoga bukan lagi sebagai dua hati yang terikat oleh luka, melainkan sebagai dua jiwa yang telah selesai dengan masa lalunya. Aku akan menyapamu dengan tenang, tanpa getir, tanpa sesal. Karena di bawah langit yang sama, aku telah belajar bahwa kehilangan pun adalah cara Tuhan mengajarkan arti ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan yang sesungguhnya. [*].

[Kisah Ogeihe]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.