Berita

Kapolda Papua Tengah Klaim Situasi Dogiyai Aman

DOGIYAI, TOMEI.ID | Klaim aparat bahwa situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (sitkamtibmas) di Kabupaten Dogiyai dalam kondisi “aman dan terkendali” berbanding kontras dengan rangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi pada Selasa, (31/32026).

Pernyataan tersebut disampaikan Kapolda Papua Tengah, Jermias Rontini, menyusul insiden tewasnya seorang personel Polres Dogiyai berinisial JE (24) akibat penganiayaan berat oleh orang tak dikenal (OTK) di Pertigaan Gereja Kingmi Ebenhaezer, Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu.

“Korban mengalami luka bacok pada bagian leher hingga kepala belakang, serta luka pada jari tangan kanan yang menyebabkan dua jari putus,” ungkap Kapolda.

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui saat aparat melakukan patroli di kawasan Ikebo. Seorang saksi bersama personel melihat warga berlarian panik dari arah pertigaan Puskesmas, sebelum akhirnya korban ditemukan tergeletak di parit depan gereja dalam kondisi tidak bernyawa. Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD Pratama Dogiyai.

Ketegangan berlanjut pada siang hari sekitar pukul 12.10 WIT di ruas Jalan Trans Nabire–Enaro, Kampung Ikamenida. Dalam patroli lanjutan, aparat kembali menghadapi aksi penyerangan dari sekelompok warga yang menggunakan panah dan senjata angin. Seorang anggota polisi berinisial AR (23) dilaporkan mengalami luka tembak di bahu kiri.

Situasi semakin memburuk pada sore hari sekitar pukul 18.30 WIT, ketika kelompok massa diduga melakukan penyerangan ke arah personel serta Markas Komando (Mako) Polres Dogiyai dengan menggunakan panah dan batu. Dalam insiden tersebut, seorang anggota lain berinisial AY (22) diduga terkena anak panah di bagian bahu belakang.

Meski rangkaian kekerasan terjadi sepanjang hari dan melibatkan benturan langsung antara warga dan aparat, pihak kepolisian menyatakan belum menerima laporan resmi terkait korban dari kalangan sipil.

Kapolda Papua Tengah tetap menegaskan bahwa kondisi wilayah secara umum masih dalam kategori terkendali dan mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh situasi yang berkembang.

“Percayakan kepada aparat keamanan TNI-Polri,” ujarnya.

Namun, rentetan insiden berdarah yang terjadi dalam satu hari penuh tersebut memunculkan pertanyaan serius di ruang publik terkait parameter “aman” yang digunakan, terutama di tengah eskalasi kekerasan yang nyata dan berdampak langsung pada stabilitas sosial masyarakat.

Ketidaksinkronan antara klaim stabilitas dan fakta lapangan menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk transparansi informasi serta evaluasi pendekatan keamanan yang lebih komprehensif dan berorientasi pada perlindungan masyarakat sipil. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Papua Tengah Hadapi Ancaman Karhutla dan Kekeringan, Delapan Kabupaten Dipanggil ke Meja Koordinasi

NABIRE, TOMEI.ID | Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta cuaca ekstrem mulai menekan…

23 jam ago

Kekeringan dan Hujan Es Lumpuhkan Kebun Warga Kuyawage, Bantuan Diminta hingga 2027

TIOM, TOMEI.ID | Kekeringan berkepanjangan yang disusul hujan es berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat di…

23 jam ago

BPBD-KP Papua Tengah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Kekeringan dan Karhutla

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kebakaran dan…

24 jam ago

BEM UNIPA Bekali Mahasiswa Baru, Tekankan Kepemimpinan dan Kepekaan Sosial

MANOKWARI, TOMEI.ID | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Papua (UNIPA) membekali mahasiswa baru dengan wawasan…

1 hari ago

Delapan Mahasiswa Yahukimo Lulus, IMY Manokwari Gelar Syukuran dan Beri Motivasi

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Yahukimo (IMY) Kota Studi Manokwari menggelar ibadah syukuran atas keberhasilan…

1 hari ago

Gubernur Meki Nawipa Bentuk Satgas Karhutla Papua Tengah, Operasi Darat dan Udara Disiapkan

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menetapkan Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kebakaran Hutan…

1 hari ago